Kepala Bea Cukai Tarakan, Johan Pandores menuturkan, hingga akhir November 2023 realisasi bea masuk sudah mencapai Rp 8,8 miliar atau 134,59 persen dari target. Kemudian realisasi bea keluar mencapai 900 juta atau 94,92 persen.
"Penerimaan di Bea Cukai Tarakan yang ditargetkan itu bea masuk dan bea keluar. Namun yang kita kumpulkan itu ada 4 yang kumpulkan diantaranya pajak biaya impor yang dititipkan ke kita," katanya.
Meski realisasi bea keluar belum mencapai target 100 persen, namun pihaknya masin memiliki waktu kurang lebih sebulan untuk mencapai target. Diakui Johan, adanya kekurangan realisasi bea keluar dikarenakan sudah ada ekspor crude palm oil (CPO) yang melalui Bea Cukai Tarakan.
"Kami sudah ketemu eksportir CPO di Berau, namun mereka mengatakan kalau sudah menjual di dalam negeri saja," sebutnya.
Eksportir CPO juga mengakui bahwa keuntungan menjual CPO di dalam negeri lebih besar, apabila dibandingkan dengan menjual di luar negeri. Selain itu, dengan menjual di dalam negeri para eksportir CPO tidak perlu mengurus beberapa dokumen yang diperlukan lagi. Padahal untuk sekali ekspor CPO, maka bea keluar yang akan didapatkan sebesar Rp 2 miliar.
Makanya hingga akhir tahun ini, eksportir CPO tidak akan menjual CPO ke luar negeri. Saat ini eksportir CPO yang melalui Bea Cukai Tarakan hanya ada satu perusahaan saja.
"Kami masih berharap adanya ekspor kayu olahan dari PT Idec Wood. Itu ada bea keluarnya tapi kecil," imbuhnya.
Hingga saat ini bea keluar paling banyak ditemukan di produk CPO dan turunan. Sementara untuk batu bara sudah tidak dikenakan bea keluar lagi. Hingga saat ini belum ada penetapan dari pemerintah terkait komoditas lain, yang akan dikenakan bea keluar.
Sementara realisasi bea masuk yang sudah melebihi target, dikarenakan adanya proyek pembangunan strategis di wilayah Kaltara. Untuk komiditi yang paling mendominasi yaitu mesin, peralatan spere part dan barang-barang keperluan pembangunan di pabrik kertas dan KIPI.
Pihaknya pun memprediksi adanya bea masuk di awal Desember ini sebesar Rp 4 miliar. "Yaitu impor barang modal dan keperluan perkebunan CPO dan spare part mesin," pungkasnya. (zar/lim) Editor : Azwar Halim