Kepala KSOP Tarakan, Mukhlis Tohepaly melalui Kepala Seksi (Kasi) Lalu Lintas Angkutan Laut (Lala), Bernard Martin Mastua, mengatakan, dari pihak kapal sudah mengurus dokumen dan trayek kapal. Bahkan pelayaran internasional tersebut sudah mendapat persetujuan oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Dokumennya itu sifatnya bukan izin namun hanya pemberitahuan kegiatan kapal asing untuk KM Kaltara Express. Kalau KM Indomaya itu sudah keluar izinnya. Jadi ada dua kapal yang beroperasi. Indomaya punya Indonesia, Kaltara Express punya Malaysia," katanya, Minggu (24/9).
Ia menambahkan, terkait dengan kalaikan kapal didapati sudah memenuhi standar. Lantaran kedua kepal sudah memiliki dokumen keselamatan dan dan awak kapal. Sehingga jika sudah memenuhi dua faktor tersebut, maka kapal dianggap laik laut. "Kapal ini bisa memuat penumpang sebanyak 138 hingga 150 penumpang dengan barang bawannya," sebut Bernard.
Saat ini kapal hanya akan melayani penumpang. Terkait dengan pengiriman barang, belum ada informasi terkait hal itu. Nantinya sesaat sebelum berangkat, maka dari KSOP Tarakan akan menerbitkan surat persetujuan berlayar (SPB). Namun harus dipastikan bahwa manifes kapal sudah sesuai.
Kemudian terkait dengan aktivitas embarkasi dan debarkasi penumpang, di terminal Pelabuhan Malundung sudah bisa mendeteksi berapa jumlah manifes penumpang.
Dibeberkan Bernard, sebelumnya jarak tempuh Tarakan-Tawau diperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar 3 jam saja. Namun saat ini harus membutuhkan waktu 5 jam. Hal itu dikarenakan kapal yang akan menuju Tawau, melintasi dibagian timur perairan Nunukan. Namun saat ini harus melintas di bagian barat Pulau Nunukan.
"Itu ketentuan masuk ke Malaysia harus lewat sana. Itu aturan dari Pemerintah Malaysia. Kami juga enggak tahu, karena masalah keamanan, keselamatan atau ada faktor lain," imbuhnya.
Diwacanakan, pada Kamis (28/9) rute Tarakan-Tawau akan perdana melakukan pelayaran. Terkait dengan tarif tiket, nantinya setiap kali keberangkatan yang sebesar Rp 850 ribu.
"Kami juga belum tahu yang dari Malaysia pakai tarif berapa. Tapi nanti sebelum kapal itu reguler berjalan, tarif harus disosialisasikan. Supaya masyarakat juga tahu," tutupnya. (zar/lim) Editor : Azwar Halim