Dikonfirmasi hal ini, Kepada Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (DKUMP) Tarakan, Untung Prayitno menerangkan sejauh ini tidak ada persoalan terhadap jumlah distribusi elpiji 3 kg kepada masyarakat. Hanya, pihaknya belum memahami penyebab pasti mengapa elpiji selalu sulit didapatkan semua masyarakat.
"Untuk masalah kuota, sebenarnya setiap tahun kuota kita tidak pernah berubah, sesuai dengan tahun-tahun kemarin. Kemarin saya dapat informasi dari Pertamina kuota tahun 2023 sebanyak 1.124.765 tabung per tahun. Kalau kita hitung rata-rata perbulannya sebanyak 93.730 tabung per bulan.
Terkait masalah regulasi atau aturan tadi banyak pangkalan dan ketua RT menanyakan, dasar untuk penentuan 1 KK itu 3 tabung, UMKM juga 9 tabung. Memang, kami belum punya regulasinya cuma ini ada kesepakatan antara pemerintah dan pertamina," ujarnya, Rabu (30/8).
Kendati demikian, menurutnya sejauh ini penyebab tersebut tidak terlepas dari pendataan dan kriteria penerima yang digunakan. Sehingga menurutnya hal tersebut menjadi persoalan tersendiri yang bisa berdampak pada tidak tepatnya sasaran distribusi.
"Karena selama ini hitung-hitungan kami, 1 tabung itu bisa dipakai sampai 8-9 hari. Itu KK sudah coba sendiri dengan membeli tabung. Selama ini kategori warga penerima elpiji subsidi itu kriterianya dari Dinsos.
Kategorinya yaitu pertama 1 hari hanya makan sekali, tidak memiliki pekerjaan tetap, rumahnya terbuat dari kayu, lantainya masih tanah. Tapi kan di Tarakan sudah tidak ada ciri-ciri begini. Kalau memang kriterianya begitu, masalahnya di Tarakan sudah tidak ada warga dengan kriteria seperti ini," tukasnya.
Selain data penerima warga miskin tidak relevan untuk kondisi warga di Kota Tarakan. Dikatakannya jumlah penerima UMKM juga seharus tidak memukul rata setiap konteks. Ia mencontohkan misalnya, rumah makan. Kata dia tidak semua rumah makan memiliki kondisi dan omset yang sama. Sehingga kata dia, penerima kriteria warung atau rumah makan semestinya kembali direvisi.
"Selain itu, kalau pun memang ada secara otomatis 1 tabung itu untuk digunakan orang miskin bisa 10 hari 3 tabung itu untuk 1 bulan. Yang kedua, terus untuk usaha mikro, peruntukannya usaha-usaha yang buka omzetnya di bawah Rp 800 ribu per hari. Kalau misalnya warung makan besar, itukan omzetnya bisa puluhan juta per hari," tuturnya.
"Tapi faktanya beberapa rumah makan besar di Tarakan masih menggunakan elpiji 3 kilogram. Terkait dari Pertamina, mereka menggunakan sistem aplikasi untuk penyaluran tabung gas. Di aplikasi itu semua masuk baik yang sudah pasang jangan atau belum, yang kaya atau miskin semua masuk. Ini kan akhirnya jadi masalah. Jadi selama ini yang kami data jadi tidak ada gunanya," tukasnya.
"Karena kami selalu meminta kepada lurah dan RT, untuk data warga miskin. Sebenarnya kami punya data lama, karena kemarin minta data terbaru lagi, sampai sekarang baru beberapa lurah yang jalan. Karena dari pandangan lurah yang kemarin sudah dilakukan. Padahal tahun 2021 ini kan ada tambahan jaringan gas yah, tentunya ini ada update terbaru. Sehingga itu yang menjadi kendala hingga saat ini kami belum bisa menyajikan data terbaru," pungkasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim