Menangani hal ini, psikolog muda asal Tarakan, Yusandi Rezki Fadhli, M.P.Si, menerangkan, sebenarnya cikal bakal fenomena maraknya LGBT sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Diterangkan, pergerakan aktivitas berjalan pelan, tapi seiring kemajuan era teknologi.
"Saya melihat tren, fenomena LGBT ini kan bukan hanya tahun ini, di tahun-tahun sebelumnya juga sudah marak hanya dalam bentuk kasus berbeda. Semacam pecelehan di bawah umur itu kan pelakunya mengincar sesama jenis. Kalau kita lihat kondisi Tarakan ini kan sudah mulai berkembang, dari segi pembangunan, peradaban apalagi teknologi informasi," ujarnya, Jumat (11/8).
Dijelaskan, semakin majunya teknologi informasi, membuat masyarakat dapat mengakses dan melihat apapun sesuai keinginan. Dengan kondisi itu, membuat hal-hal yang awalnya dianggap tabu perlahan menjadi hal biasa jika dikonsumsi setiap hari.
"Untuk kemajuan teknologi informasi saat ini dapat dikatakan hampir sudah ada pembatas orang mengaksesnya. Kalau dulu mungkin orang terbatas melihat dunia luar dengan minimnya jaringan internet, sekarang masyarakat lebih mudah mengakses apa saja yang ia suka. Termasuk yang dilarang," terangnya.
"Pertama paparan media platform, di sana menjadi bagi hal yang dianggap tabu diperkenalkan. Salah satunya ialah kaum LGBT yang sudah mulai sering tampil menunjukan ekspresi," lanjutnya.
Menurutnya, masyarakat sulit menghindari paparan media sosial yang sangat kuat. Di suatu sisi pengaruh media sosial juga dimanfaatkan kelompok tertentu dalam menunjukkan eksistensinya.
"Semisal dulu kita sangat tabu melihat pasangan sesama jenis tampil di publik, sekarang sudah biasa. Dan LGBT tidak segan menunjukkan kebanggaan jati dirinya di publik. Ditambah lagi dengan kebebasan berpendapat mereka bisa membela perilaku dengan argumen mereka. Hal itu tidak sedikit mendapat respons positif masyarakat," terangnya.
"Lama-kelamaan itu akan dianggap biasa oleh masyarakat. Nah di saat seperti ini hal itu menjadi momentum kaum LGBT menunjukkan perlawanan. Ditambah kaum ini tidak sedikit dan terus bertambah dengan generasi-generasi baru yang terkontaminasi," sambungnya.
Di sebagian besar negara-negara Eropa dan Amerika sudah sejak lama memberi tempat dan ruang bagi LGBT untuk hidup layaknya masyarakat normal. Sehingga hal ini yang membuat LGBT semakin percaya diri.
"Di Indonesia sendiri kita masih memegang kuat norma agama dan budaya. Sehingga Indonesia tidak bisa menerima LGBT. Tapi seiring berjalannya waktu, norma-norma ini bisa saja ditinggalkan, dan dikhawatirkan memberi peluang LGBT mendapat tempat agar diterima," tukasnya.
Ditambah lagi, kaum muda saat ini telah memiliki kemampuan membela sesuatu yang mereka sukai. Meski secara norma hal tersebut dinilai menyimpang. Sehingga tidak jarang kaum tertentu memilki dalil-dalilnya sendiri untuk bersuara.
"Sehingga dikhawatirkan kebebasan itu dimanfaatkan kelompok tertentu untuk membuat hal yang sebelumnya dianggap tabu untuk dimaklumi," ucapnya.
"Solusinya ialah bisa memperkuat keimanan dan budi pekerti generasi kita. Serta mengonsumsi tontonan, bacaan yang baik atau mendukung hobi agar mereka agar dapat meminimalisir diri dari pengaruh hal menyimpang," terangnya.
Sementara itu, JM salah satu terduga LGBT asal Kota Tarakan meyakini tidak ada yang menginginkan hidup secara abnormal. Namun, menurutnya sebagai manusia tentu ia dan rekan lainnya tidak dapat melawan apa yang membuat ia nyaman. Ia menegaskan kehadiran kelompoknya tidak terbentuk atas pencarian bersama dan menemukan orang-orang memiliki nasib dan jalan hidup yang sama. Sehingga terkumpulnya kaum tomboi di Tarakan merupakan sebuah proses dari komunikasi panjang.
"Kami sadar sesama jenis tidak dibenarkan dalam agama mana pun, saya pun juga mendukung itu. Tapi penampilan kan tidak selamanya menunjukan apa yang kita lihat. Barangkali hanya penampilannya saja, tapi ada yang bergaya perempuan tulen juga lesbi," sambungnya.
Ia mengakui, sebagai manusia biasa ia sulit mengalahkan naluri kelesbiannya saat melihat wanita. Namun ia menegaskan selama ini tidak pernah merusak rumah tangga orang lain atau pun menggoda wanita yang sudah bersuami.
"Kalau yang tinggal di sini sekitar 10 orang. Kalau yang dari luar kurang tahu berapa. Kami yang kerja di perusahaan ini hidup normal saja tidak pernah menganggu siapa pun apalagi sampai membuat resah. Mungkin ada yang dituduhkan warga itu bukan dari (perbuatan) kami, tapi dari tomboi yang datang main ke sini," pungkasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim