Salah satu pengepul besi tua, Lamino menerangkan pihaknya mendatangi lokasi untuk membeli besi bekas dari pemilik rumah yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Ia membeli besi tersebut seharga Rp 3 ribu per kilogram.
Dikatakan, ia memahami musibah tersebut merupakan duka bagi warga sekitar. Kendati demikian, di balik duka ada kehidupan yang tetap harus terus berjalan.
“Ini besi saya beli dari yang punya rumah, kami datang tawarkan mau membeli besi yang sudah tidak bisa dipakai. Kalau orangnya mau kita langsung kumpul sendiri angkut pakai gerobak,” ujarnya, Minggu (6/8).
Dikatakan, dalam kejadian kebakaran dirinya bisa membeli 4 sampai 5 gerobak besi tua. Mendapatkan banyak besi dalam peristiwa kebakaran, ia tidak pernah berharap kejadian kebakaran. Namun saat kebakaran terjadi, ia menyadari banyak besi yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, namun masih bernilai ekonomi.
“Saya tidak pernah berharap ada kejadian kebakaran, karena itu kan musibah. Tidak ada orang yang mengharapkan musibah. Tapi kalau ada kebakaran, pasti ada barang yang sudah jadi rongsokan, kami coba menawarkan untuk membeli. Kami juga tahu orang terkena musibah pasti sedih jadi kami tidak pernah memaksa dan tidak pernah menawar harga,” terangnya.
“Anggaplah kami sekalian membantu membersihkan puingnya. Kita juga ikut sedih dengan musibah ini, tapi kita juga harus cari nafkah untuk makan keluarga,” tuturnya.
Ia menyadari profesi yang digelutinya terkadang timbul ketidaksepahaman masyarakat yang memandangnya tidak bersimpati. Namun ia menegaskan jika ia dan rekan seprofesi hanya masyarakat kecil yang menjalankan peran untuk menyambung hidup. “Saya menjadi pengepul sudah 5 tahun, datang ke Tarakan 5 tahun lalu langsung menjadi pengepul.
Begini memang risiko kita, kadang orang memandang kita tidak bersimpati tapi orang hanya melihat kami dari luarnya saja. Mereka tidak tahu bagaimana kami sehari-hari berjuang cari nafkah. Mereka bisa mengatakan begitu karena tidak di posisi kami,” pungkasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim