Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pengamat Ekonomi Tarakan : Nilai Kontribusi Sektor Tambang Masih Minim

Azwar Halim • Rabu, 2 Agustus 2023 | 12:00 WIB
ilustrasi
ilustrasi
TARAKAN - Pulau Tarakan merupakan pulau penghasil minyak terbaik di Kalimantan. Selain memiliki minyak yang melimpah, kualitas minyak Pulau Tarakan juga pernah disebut-sebut merupakan salah satu minyak kualitas terbaik di Bumi Nusantara.

Sehingga karena potensi itulah membuat Pulau Tarakan yang saat ini sudah menyandang status kota, menduduki peringkat 17 kota terkaya di Indonesia. Meski demikian, baiknya kualitas minyak di Kota Tarakan, belum diikuti dengan perkembangan pendapatan daerahnya.

Pengamat ekonomi sekaligus akademisi Universitas Borneo (UBT) Margiyono mengungkapkan, sejak hadirnya industri pertambangan di Kota Tarakan cukup memberikan banyak perubahan pembangunan di Kota Tarakan.

Meski demikian, menurutnya saat ini hasil dari pertambangan tersebut masih minim. Karena menurutnya hasil pertambangan terutama sektor minyak dan gas belum sepadan terhadap hasil daerah yang didapatkan dari sektor Perikanan dan pertanian di Kota Tarakan.

"Jadi kalau kita struktur ekonomi Tarakan itu, pendapatannya didominasi industri perikanan dan pertanian itu kontribusinya sebesar antara 19 sampai 20 persen sementara

pertambangan itu hanya 7 persen. Sehingga perbandingan ini masih terpaut jauh. Karena kita tahu sendiri pendapatan dari kedua industri itu sama-sama besar," ujarnya, Senin (31/7).

Ia menerangkan, jika terdapat adanya rencana pemerintah dari menghadirkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kota Tarakan dalam mengelola sumber daya alam,

seharusnya hal tersebut memerlukan kajian cukup matang. Menurutnya, seharusnya hal tersebut tidak hanya melihat pada segi keuntungan saja, namun juga perlu melihat dampak dari hal tersebut.

"Kalau berbicara BUMD dari segi pertambangan, saya dihadapkan oleh dua pandangan yaitu sikap optimis dan pesimistis. Kalau dari optimistisnya, saya melihat bahwa cadangan

atau defisit tambang kita, itu sangat besar. Kalau dia besar, maka manfaat yang lebih besar kepada kontribusi pembangunan,” ujarnya.

“Pandangan pesimisme saya ialah saya menduga cadangan minyak kita terbatas dan menipis. Maka kondisi ini, tidak menguntungkan. Hal ini menurut saya kita konfrontir,

dengan bagaimana Pertamina selama ini apakah dia bersemangat untuk menambah kapasitas produksinya, justru katakanlah hanya mengelola sumber yang sudah ada. Dari

situ kita bisa menditeksi kalau investasinya cukup meningkat, berarti benefit yang ia peroleh saat ini artinya cukup menguntungkan daerah, tetapi kalau menggunakan data dari BPS itu hanya sekitar 7 persen. Saya kira masih kecil daripada sektor lain," terangnya.

Ia menjelaskan, jika memang pemerintah tertarik mengembangkan BUMN dalam bidang industri sumber daya alam (SDM). Seharusnya hal itu memerlukan kajian lebih dalam.

Mengingat besarnya biaya operasional yang diperlukan, menurutnya hal tersebut agar tidak sampai menimbulkan kerugian.

"Kalau mungkin pemerintah tertarik menggunakan minyak atau cadangan minyak, menurut saya hal itu harus ada langka yang realistis. Jadi, untuk memasuki pertimbangan

rasionalitas yang matang, jadi harus memperhatikan aspek ini. Jadi harus ada studi yang matang kalau aspek ini memang layak digunakan untuk peningkatan pendapatan," katanya.

Ia menerangkan,keberadaan tambang gas dan minyak saat ini telah cukup membantu perkembangan daerah. Hanya saja kontribusi tersebut belum lah cukup maksimal jika tidak diimbangi penyerapan tenaga kerja.

"Untuk melihat dampak sektor pertambangan minyak dan gas untuk pembangunan, jadi kita bisa lihat dari kondribusi pendapatan dan kontribusi orang yang bekerja di situ.

Anggaplah sekian persen tenaga kerja tambang itu merupakan warga Tarakan. Jadi hadirnya tambang itu dapat meraup tenaga kerja putra daerah putra daerah cukup besar,

maka hal itu cukup baik untuk daerah. Namun kalau hanya berharap dengan bagu hasil, saya pikir 7 persen itu belum lah maksimal," tuturnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait bagi hasil, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul mengungkapkan, saat ini kontribusi perusahaan daerah sudah cukup ideal bagi

pembangunan perekonomian. Meski demikian, belum termanfaatkannya beberapa aset, membuat pendapatan asli daerah belum cukup maksimal.

"Upaya memperbaiki PAD, saat ini kami mencoba mengembangkan manajemen aset. Kita sudah coba benahi. Saat ini kami masih menghitung ini. Kalau saya lihat sementara ada

sekitar ratusan aset di.Kota Tarakan. Mudah-mudahan selanjutnya kita bisa lebih greget memanfaatkan ini.

Saat ditanyakan mengenai sistem bagi hasil perusahaan, saat ini ia belum dapat memberikan jawaban. Mengingat saat ini pihaknya masih memperjuangkan peningkatan

bagi hasil tersebut. "Kalau soal itu jangan dulu. Yang jelas saat ini masih dikembangkan," singkatnya. (zac/eza) Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara