Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, secara umum Kota Tarakan merupakan daerah yang rawan dilanda gempa. Ia mengatakan, pada dasarnya Tarakan memiliki salah satu dari sesar aktif di Kalimantan yakni Sesar Tarakan. Sehingga masyarakat Tarakan seharusnya dapat memahami kondisi gempa dan penangannya secara regenerasi dalam mempersiapkan kondisi terburuk.
"Memang, kami berulang kali menyampaikan ini ke masyarakat bahwa dalam sejarahnya sesar ini pernah mengakibatkan gempa mencapai 7.0 magnitudo. Artinya ada potensi gempa sebesar itu. Namun, bisa juga di bawahnya. Namun untuk Kaltara secara umum tidak. Yang paling besar potensinya di Tarakan karena itu tadi ada sesar aktif di bawah. Ada beberapa jenis gempa, yang pertama gempa tektonik ini disebabkan gempa oleh sesar. Sementara gempa yang diakibatkan gunung api merupakan gempa vulkanik. Kalau di Tarakan itu aman dari gempa vulkanik karena di sini tidak ada gunung berapi," ujarnya, Senin (19/6).
"Di beberapa daerah di Indonesia yang disebut ring of fire itu memang daerah yang dilalui gunung berapi aktif. Itu menyimpan potensi gempa Vulkanik dengan magnitudo cukup tinggi. Kemudian ada lagi gempa runtuhan gunung baru misalnya. Ada juga gempa buatan, biasanya di daerah tambang, namun itu sebenarnya aktivitas pertambangan. Jadi ada beberapa jenis gempa bumi," sambungnya.
Ia menerangkan, di Pulau Kalimantan sendiri terdapat 3 sesar yakni Sesar Meratus di Kalimantan Selatan (Kalsel) , Sesar Mangkalihat di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Sesar Tarakan di Kaltara. Selain itu, ia bahkan menjelaskan jika Tarakan sangat berpotensi tsunami jika terjadi gempa dengan kekuatan seperti yang pernah terjadi di tahun 1923 silam. Sehingga menurutnya, sangat penting dalam membangun kewaspadaan sejak dini dan membuat kontruksi bangunan yang kuat.
"Sesar Meratus ini posisi nya ada di wilayah Kalimantan Selatan, kemudian sesar Mangkalihat memanjang dari Maratua melewati Tarakan ke Malaysia dan Sesar patahan Tarakan memanjang dari Barat pulau Tarakan ke Timur Tarakan Gempa bumi ini terjadi dikarenakan bumi yang terus menerus melakukan rotasi. Sehingga, lempeng-lempeng bumi juga bergerak mencari posisi diantara lempeng lainnya," tukasnya.
“Ketika satu dengan yang lain menekan tentu akan mencari posisinya yang nyaman, dan ketiga bergeser pun lempeng ini melepaskan energi karena saling bergesekan, inilah yang menyebabkan aftershock gempa-gempa tadi,” lanjutnya.
Kendati begitu, ia mengakui jika sampai saat ini BMKG belum memiliki alat pendeteksi suatu wilayah jika akan terjadi gempa. Selain itu ia mengakui jika peningkatan gempa Bumi khususnya di Kota Tarakan, setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Kendatu begitu, gempa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir belum tergolong besar selain gempa bumi di tahun 2015.
“Memang kejadian gempa mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya jadi aktivitas gempa ke depan meningkat. Bukan kita takut gempanya tapi kita harus ada upaya edukasi mitigasi bencana. Jadi kalau ada gempa kita tahu apa yang harus kita lakukan dan seperti apa langkah-langkahnya. Terus mencari informasi yang benar ke mana," tuturnya.
Ia menerangkan, tidak semua gempa dapat berpotensi tsunami dan tsunami tidak mesti berasal gempa dari lautan. Diterangkannya, dalam kasus gempa bumi dan tsunami di Palu Sulawesi Tangah, tsunami terjadi justru saat titik gempa berada di darat. "Ciri-ciri umumnya kalau tsunami ini kan banyak syarat, jadi tidak semua gempa itu mengakibatkan tsunami. Dalam kasus di Palu itu tidak di laut tapi di darat tapi di pinggir. Sehingga terjadi longsoran di pinggir menciptakan tsunami," tambahnya.
"Kemudian masyarakat juga tetap harus mengikuti berita-berita yang bersumber dari BMKG dan disebarkan melalui BPBD kepada masyarakat. Seandainya, itu ada potensi tsunami. Jadi itu yang harus diperhatikan masyarakat," pungkasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim