Che Ageng, Koordinator Di Bawah Satu Bendera yang merupakan salah satu komunitas pecinta sejarah Perang Dunia menerangkan, dari informasi yang pihaknya dalami, masih cukup banyak titik lokasi sejarah yang belum tereksplor di hutan Kota Tarakan. Sehingga diyakini lokasi tersebut terdapat serpihan atau benda bersejarah baik yang berbahaya maupun tidak berbahaya.
"Saat ini masih cukup banyak situs sejarah yang belum ditemukan. Untuk jumlah pastinya kami belum tahu. Dalam proses pencarian tidak jarang kami juga menemukan mortir yang masih aktif, tapi kami tidak mengevakuasai itu karena sangat beresiko," ujarnya, Senin (12/6).
Diakuinya, keterbatasan pemerintah dalam mengeksplor jejak perang di Kota Tarakan cukup terbatas dari berbagai faktor. Sehingga kondisi ini membuat sebagian situs sejarah di hutan Tarakan hingga saat ini belum terjamah.
Walau demikian, ia belum dapat memastikan jumlah pasti titik tersebut lantaran pihaknya masih mempelajari lebih jauh dokumen peperangan yang dipegang pihaknya. Sehingga kata dia, banyaknya aktivitas masyarakat yang membuka lahan atau kebun di hutan lindung Tarakan, selain melanggar hukum juga cukup berisiko bagi keselamatan masyarakat.
"Ada banyak tempat yang belum dieksplor tentu setiap tempat kami yakini terdapat benda-benda peninggalan perang. Mungkin di antaranya ranjau atau mortir. Sehingga cukup berbahaya juga kalau masyarakat lainnya masuk membuka kebun. Selain karena ini hutan lindung yang dilarang secara hukum, membuka lahan juga membahayakan pelakunya sendiri," terangnya.
"Di kawasan ini masih banyak potensi peninggalan perang. Tidak disarankan melakukan eksplorasi tanpa mempelajari peta peperangan di Tarakan. Apalagi membuka jalur baru dikhawatirkan menginjak atau menyentuh mortir atau ranjau aktif," ujarnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap titik pertempuran, medan dan identifikasi benda peninggalan Perang Dunia II dapat menjadi risiko jika melakukan pembukaan lahan. Sehingga kata dia, beberapa kasus meledaknya mortir yang ditemukan akibat ketidaktahuan masyarakat dalam menangani benda tersebut.
"Karena tidak semua orang tahu area titik-titik pertempuran di sini, atau tidak semua orang bisa melakukan identifikasi benda saat menemui sesuatu di hutan. Jadi disarankan yang mungkin masuk ke sini tidak membuat jalur baru dan tetap berjalan di area yang sudah ada. Jangan membuka jalur baru jika belum mengetahui atau mempelajari peta medan di sini," tuturnya. (zac/eza) Editor : Azwar Halim