Diketahui, truk-truk mengantre di SPBU Juata Kerikil, lantaran sudah tidak ada pasokan solar yang di SPBU dalam kota. Hendi warga sekitar mengatakan, kondisi jalan di pagi hari memang cukup padat ditambah lagi dengan antrean truk sehingga kemacetan pun timbul.
“Kalau pagi itu banyak lewat karena turun sekolah dan turun kerja. Sementara jalan sudah sempit karena adanya truk antre, makanya macet parah,” ungkapnya, Kamis (5/1).
Sementara itu, Agus salah seorang sopir truk mengatakan, sudah 4 hari tidak ada penjualan BBM jenis solar di SPBU Mulawarman. Oleh karena itu, ia pun sejak malam hari mengantre BBM di SPBU Juata Kerikil. “Karena di sana (SPBU Mulawarman) enggak ada jual, ya kita ke sini. Kalau enggak dapat BBM maka kita tidak bisa kerja,” ucapnya.
Ia menambahkan, para sopir truk harus berburu BBM di sejumlah SPBU agar bisa mengangkut pasir lagi di daerah Juata. Tak dipungkiri, semua truk yang mengantre di SPBU mengincar BBM nonsubsidi. Yang dinilai sangat murah apabila dibandingkan dengan nonsubsidi. “Kalau beli Rp 200 ribu biasa, itu paling dua hari saja dipakai,” sebutnya.
Sales Branch Manager Rayon V Kaltimut Pertamina Depo Tarakan, Azri Ramadan mengungkapkan, semenjak 1 Januari laku di SPBU Mulawarman sudah tidak menjadi SPBU pemasok solar di tahun 2023 ini. Keputusan tersebut dilaksanakan pihaknya, setelah adanya keputusan dari BPH Migas. “Jadi sekarang itu yang menjadi penyalur BBM jenis solar ada 8 dari 9 SPBU. Di Mulawarman menyalurkan nonsubsidi yaitu dexlite,” katanya.
Ia menambahkan, di tahun ini juga kuota BBM jenis solar bagi Tarakan ikut berkurang. Terdapat pengurangan 9 persen apabila dibandingkan dengan kuota tahun lalu. Namun meski ada pengurangan kuota BBM solar subsidi, untuk kebutuhan tetap akan tercukupi apabila BBM subsidi disalurkan tepat sasaran. “Karena sebelum adanya pekerjaan itu kita tidak ada antrean bahkan kekurangan solar itu tidak pernah terjadi, karena pekerjaan itu saja. Kalau ditanya cukup apa tidak ya cukup saja karena kita tidak ada jalur lintas juga,” imbuhnya.
Sekali lagi ia menegaskan, bahwa truk yang selama ini terlihat mengantre di sejumlah SPBU, harusnya menggunakan BBM Industri karena dipergunakan untuk proyek tertentu.
Terkait hal tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dengan Pemkot Tarakan dan instansi terkait. Ia menegaskan pihaknya hanya sebagai penyedia yang tidak bisa melakukan penindakan terhadap antrean mengular maupun parkir inap. “Kita sudah laporan ke Pemkot kalau bisa dihimbau ke pelaku usaha supaya mereka berpindah ke industri. Pertamina tidak bisa direct ke pelaku usaha makanya kita ke Pemkot, kita masih mengharapkan upaya supaya segera menghimbau saja ke pelaku usaha, karena regulasi juga kelas,” jelasnya. (zar/lim)
Editor : Azwar Halim