Namun saat ini pejuang-pejuang nan gagah perkasa di medan perang ini telah rentah dimakan usia.Meski memiliki peran besar dalam membela kedaulatan negara, namun hingga hari ini jasa veteran seakan terlupakan.
Hidup dibawa garis kesejahteraan serta minimnya santunan menjadi bukti bahwa veteran hari belum mendapat perhatian nyata.
Salah satu veteran yang merasakan hal tersebut ialah Muhammad Jafarjalsah yang merupakan pejuang dalam konfrontasi Malaysia 1963-1966 yakni peperangan yang lebih dikenal sebagai operasi Dwikora.
Jafar menerangkan, hingga saat ini ia dan rekan yang masih hidup masih berjuang bertahan hidup dengan bergantung kepada anak lantaran minimnya santunan yang diterimanya.
Diketahui saat ini veteran hanya menerima Rp 250 ribu setiap bulan yang hanya dibayar per triwulan atau 3 bulan sekali.
Jika dahulu nominal ini cukup besar untuk bertahan hidup, namum hingga saat ini nominal tersebut sangat jauh dari kata cukup. Selain itu, tidak ada agi santunan yang diberikan kepada veteran yang masih tersisa.
"Saat ini total veteran di Kota Tarakan tersisa 41 orang saja, setiap tahun berkurang, setiap tahun ada yang meninggal. Veteran di Tarakan sebagian besar terdiri dari pejuang kemerdekaan, pejuang operasi Trikora, dan Dwikora,"ujarnya, Rabu (10/8).
Tidak banyak yang bisa dilakukan Jafar dan 40 rekan lainnya, meski tidak menginginkan lebih, namun menurutnya setidak ia dan rekan-rekan dapat diberikan sedikit perhatian terkhusus kebutuhan untuk menghabiskan sisa hidupnya.
"Sampai saat ini kami merasa memang benar-benar tidak mendapat perhatian. Padahal dulu, kami bersedia mengorbankan nyawa kami, hidup mati membela negara ini. Sampai saat sebagian besar veteran hanya mengantungkan hidup pada anak untuk bertahan hidup. Karena tunjangan kami sangat jauh dari kata layak untuk kehidupan saat ini,"sambungnya. (*)
Editor : Sopian Hadi