Meski begitu, pihaknya masih akan meninjau kembali terkait pelaksanaan PTM. Pada hakekatnya PTM yang digelar masih bergantung pada kasus pandemi Covid-19 di daerah. “Kalau naik level ya nanti dievaluasi, kalau turun juga akan dievaluasi. Tapi sementara masih PTM,” tegas Budi.
Di hari pertama Ramadan, siswa diliburkan agar dapat fokus pada pelaksanaan ibadah puasa. Namun setelah itu, siswa kembali mengikuti PTM di sekolah dengan mengikuti sesi belajar yang telah dibagi oleh pendidik. “Kita lihat nanti perkembangan level kita dan cakupan vaksinasi. Kita selalu koordinasi dengan Dinkes terkait ini,” ujar mantan kepala Dinas Ketenagakerjaan Tarakan.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa di Tarakan, Nurul mengatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan dilakukannya PTM di bulan suci Ramadan. Sebab hal ini sebagai pembelajaran khususnya bagi siswa yang beragama Islam agar tetap kuat menjalani puasa sambil belajar. “Kalau ada aktivitas di sekolah malah bagus, karena anak tidak terasa puasanya. Pas pulang, eh bentar lagi berbuka. Jadi saya setuju saja,” ucap Nurul.
Nurul berharap agar pemerintah dapat meningkatkan vaksinasi bagi siswa sekolah, karena pihaknya masih khawatir akan penyebaran pandemi Covid-19. “Kalau bisa vaksinasinya ditingkatkan. Takut anak-anak terpapar lagi,” harapnya. (shy/lim)
Editor : Azwar Halim