AGUS DIAN ZAKARIA
BPOM Tarakan diamanahkan tugas membawahi lingkup kerja seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Utara (Kaltara). Instansi yang kini dipimpin Herianto Baan.
Sebelum bertugas di Kaltara, pria kelahiran Ambon 15 Oktober 1979 ini memiliki pengalaman yang membuat orang bergidik.
Ditemui pekan lalu di kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Tarakan, Heri menceritakan perjalanan kariernya di BPOM. Dimulai pada 2006, ia mengisi jabatan staf BPOM Jayapura. “Jadi saya memulai karier itu tahun 2006 di Balai POM Jayapura sampai tahun 2015. Kemudian tahun 2015 sampai tahun 2018, saya ditunjuk menjadi kepala Pos POM di Merauke, Papua. Setelah itu di tahun 2018 sampai 2020, saya dilantik menjadi kepala Loka POM di Timika, Papua. Kemudian di tahun 2020 sampai tahun 2021, saya direkomendasikan menjadi kepala Balai POM di Manokwari, Papua. Setelah itu di tahun 2021 Desember, saya memulai karier di Balai POM di Tarakan, Kaltara,” ujarnya, Sabtu (13/3).
Pria hobi renang ini awalnya memiliki cita-cita menjadi pilot. Namun dalam perjalanannya ia mulai tertarik pada dunia kesehatan sehingga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan apoteker di Universitas Hasanuddin, Makassar pada 1999 silam. Pada tahun 2006 ia ikut tes seleksi sebagai pegawai BPOM. Ia pun diterima.
Ia mengakui, selama meniti karier di BPOM hal berkesan adalah saat dirinya dapat membantu masyarakat mengurus legalitas izin. “Saya asalnya dari Toraja, mendaftar di Makassar kemudian diterima untuk ditempatkan di Jayapura. Banyak hal yang berkesan selama berkarier di BPOM. Terutama bagaimana bisa membina pelaku usaha agar bisa mendapatkan izin. Sehingga dari mereka yang sebelum tidak tahu cara mengurus izin, akhirnya mereka bisa mengikuti aturan yang ada. Itu yang membuat saya senang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” terangnya.
Selama belasan tahun menjadi staf, tahun 2018 ia dipercaya mendapat promosi jabatan dan dipercaya menjadi kepala Pos POM di Timika, Papua. Dari sanalah pengalaman menantang itu dimulai.
“Saya mulai mengemban jabatan sebagai Kepala saat di Timika. Kalau di Merauke semacam kepala Pos POM artinya penanggung jawab di Pos POM, tapi wilayah kerjanya dibawa naungan Balai POM Jayapura,” terangnya.
“Kalau Loka POM areanya hanya di beberapa kabupaten saja, tapi kalau balai wilayah kerjanya untuk seluruh area kabupaten/kota di provinsi. Seperti di Kaltara ini, walaupun namanya Balai POM Tarakan tapi wilayah kerjanya di seluruh Kaltara,” sambungnya.
Bertugas di daerah terpencil dan minim infrastruktur melahirkan tantangan besar bagi Heri. Medan yang sulit, jarak yang jauh, cuaca ekstrem bahkan suasana yang kurang kondusif menjadi makanan sehari-hari. “Saya kan menjalani karier itu lebih banyak di Papua Barat, selama 15 tahun. Tantangan terberatnya adalah transportasi. Wilayah kerja kami kan cukup jauh. Karena kita tahu bagaimana kondisi alam di sana, daerahnya cukup ekstrem,” terangnya.
“Tetapi, selama saya menjadi kepala di sana saya tidak pernah takut menjalankan tugas sampai ke perbatasan. Bahkan waktu saya menjadi kepala di Mimika saya selalu menginstruksikan seluruh pegawai untuk bisa pemeriksaan walaupun sesulit apa pun medannya,” lanjutnya.
Alam dan kondisi sosial di Papua juga senantiasa memberi alarm. Ia menyadari maut bisa datang kapan saja saat bertugas. Kendati begitu, ia meyakini jika sesuatu dimulai dengan niat baik, maka nasib baik akan selalu menyertai. “Meski takut juga karena di Papua ada gerakan separatis, tapi misi yang dibawa BPOM, yaitu menjaga produk obat dan makanan yang aman dikonsumsi masyarakat. Itu kan misi mulia,” tukasnya.
“Jadi saya yakin Tuhan pun akan menyertai kita. Karena niat bekerja dengan hati. Ini kan kebutuhan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dan masyarakat di perbatasan juga harus mendapatkan perlakuan yang sama,” ucapnya.
“Kalau selama dua bulan saya di Kaltara, dari situasi keamanan sangat jauh berbeda di Papua. Kalau dibandingkan Papua, Kaltara ini sangat aman. Karena di Papua kita tahu sendiri dari kondisi alamnya hingga ancaman separatisnya itu yang membuat kita selalu waswas,” lanjutnya.
Tak jarang, ia menghabiskan hampir setengah hari di dalam sebuah kendaraan hanya untuk menjangkau perjalanan darat sebuah desa. Belum lagi momen baku tembak yang kerap terjadi membuatnya dan staf harus terus berhati-hati.
“Saya pernah punya pengalaman setelah kami selesai melakukan pemeriksaan, di Mimika itu pecah baku tembak antara TNI-Polri dan KKB. Untung kami sempat pulang. Bahkan tidak jarang ketika memasuki suatu desa di desa itu diberitakan ada baku-tembak. Dan kami mengonfirmasi sekda ketika laporannya sudah aman kami baru menuju lokasi,” katanya.
Lokasi tugas di zona merah bukanlah hal yang boleh dianggap sepele. “Jadi selama bertugas di Papua saya bertugas di wilayah zona merah. Timika, Nduga, Lanin Jaya, Intan Jaya, Puncak Jaya. Itu wilayah zona merah. Hanya satu yang aman, itu di Asmat,” terangnya.
Tidak hanya itu, bahkan pihaknya paham betul waktu yang cukup rawan, ketika kelompok kriminal bersenjata (KKB) menyerang sebuah kampung. “Bahkan kita sudah biasa mendengar orang tembak-tembakan sebelum ke lokasi itu. Mau bagaimana lagi kalau kita ditugaskan di sana. Bahkan kemarin saya dengar ada penembakan lagi beberapa pekerja di Gome. Itu kami pernah ke sana, tapi kami berangkat pagi dan sebelum jam 12 siang kami harus pulang. Karena sore sudah cukup rawan,” ungkapnya.
Jarang meminta pendampingan TNI-Polri selama perjalanan. Menurutnya, sasaran utama KKB justru apparat. Sehingga menggunakan pengawalan dapat memancing serangan KKB. “Karena sebenarnya sasaran utama mereka itu aparat. Kami hanya melapor kepada koramil kalau ada pengawasan supaya mereka bisa mengawal secara tidak langsung,” tukasnya.
Meski bertugas di wilayah konflik, namun bukan berarti ia tak mampu berprestasi. Tercatat, ia menyumbang predikat wilayah bebas korupsi dari Kemenpan-RB atas upayanya dalam mengutamakan integritas pelayanan. “Yang kedua saya bisa membawa Loka POM Timika menjadi satker mandiri. Dari satker mandiri bisa mengelola keuangan sendiri dan sebagainya,” tukasnya.
“Setelah itu, di Balai POM Manokwari, saya bisa mengawal dan membawa Balai POM Manokwari di tahun 2021 kemarin bisa meraih predikat wilayah bebas korupsi BPK dari Kemenpan-RB, itu capaian terbaik yang kami raih. Karena baru satu tahun saya bertugas di sana (Manokwari), kami langsung meraih itu. Dan itu satu-satunya Balai POM di ujung timur Indonesia yang baru bisa meraih penghargaan bebas korupsi, itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” urainya.
Menurutnya hal ini tidak terlepas dari dukungan keluarga yang setia menemaninya di mana pun bertugas. “Dari keluarga selalu mendukung di mana pun saya ditugaskan. Bahkan salah satu pengorbanan istri saya ketika saya dipindah tugaskan ke Merauke, dia memilih resign sebagai pegawai salah satu BUMN yaitu Telkomsel di Jayapura untuk bisa ikut dengan saya. Karena keluarga kan yang utama,” ucpanya.
Selain pengalaman mengerikan yang pernah dilaluinya, pengalaman godaan dalam
bertugas dan ancaman pengusaha pun pernah dirasakannya. Meski pernah mendapat ancaman keselamatan, namun menurutnya tidak ada hal yang ditakutkan kecuali Sang Pencipta.
“Kalau meminta kelancaran pasti ada, tetapi saya katakan Badan POM tidak mengenal itu. Karena kita sekarang izin sekarang semua melalui sistem online yaitu e-registrasi. Termasuk pembayarannya.
Selama di BPOM saya mengenal dua tipikal pelaku usaha. Mana yang benar pelaku usaha, mana yang penjahat. Biasanya kalau penjahat dia tidak jera melanggar aturan meski tertangkap beberapa kali. Dan memang sulit mengatur pengusaha seperti itu,” urainya.
“Bahkan saya punya pengalaman diancam orang yang produknya sering dirazia. Saya diberi pilihan secara halus atau kasar. Kalau halus pertanyaannya nominalnya berapa, kalau kasar pertanyaannya alamatnya di mana. Tapi saya tetap menjalankan apa yang menjadi tugas saya, akhirnya Puji Tuhan hal buruk tidak menimpa saya,” tukasnya.
“Saya berharap tetap dapat terus menjalankan tugas dengan baik dan amanah. dan diberikan kemudahan di mana pun saya berada,” doanya. (***/lim)
Editor : Azwar Halim