Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan memutuskan untuk menutup sementara pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) yang dimulai hari ini hingga 14 Maret 2022 mendatang. Kepada Radar Tarakan, Plt. Kepala Disdik Tarakan, Eny Suryani, S.H, mengatakan, angka penyebaran Covid-19 ini disikapi dengan menutup sekolah sementara, merujuk pada rekomendasi Dinkes Tarakan.
Namun, seiring berjalannya waktu ditemukan banyak siswa yang mengalami gejala Covid-19, hal ini berdasarkan laporan dari pihak sekolah. “Ada guru dan murid yang positif, tapi belum sempat dikeluarkan rekomendasinya dari Dinkes Tarakan. Sudah terlalu banyak yang bergejala, akhirnya saya berkomunikasi ke Pak Wali untuk meminta arahan. Akhirnya diputuskan PTM ditutup selama 2 minggu, ini rekomendasi Dinkes Tarakan juga,” ungkap wanita berhijab ini, Rabu (23/2).
Data terakhir menyebutkan 13 sekolah telah terpapar Covid-19, di antaranya SDN 001 Selumit, SDN 005 Kampung 1, SDN 018 Karang Rejo, SDN 020 Sebengkok, SDN 021 Skip, SDN 035 Pamusian, SDN 052, SDN Utama 1, SDN Utama 2, SMPN 3, SMPN 8, SMPN 14 dan SMP Indo Tionghoa.
Belum ada pembahasan bantuan paket internet menyikapi situasi ini. Sebab, kata dia, tujuan utama Pemkot adalah menyelamatkan siswa dari penyebaran Covid-19. “Fokus kami ke penyebaran Covid-19 yang cepat, makanya banyak anak-anak yang flu, guru-gurunya juga tumbang,” jelas Eny.
Akibat penyebaran Covid-19 yang cepat ini juga berakibat pada tertundanya penilaian tengah semester (PTS) siswa. Sebab dikatakan Eny dalam hal ini keselamatan siswa menjadi prioritas di bangku pendidikan.
PTM DIGANTI PJJ
Di Nunukan, dari jumlah kasus peningkatan Covid-19 yang terjadi secara signifikan di Nunukan, bahkan sejumlah pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) juga ada yang terpapar Covid-19, PTM ditunda dahulu selama 2 pekan.
Jubir Penanganan Covid-19 Nunukan, Sabaruddin mengatakan, dari hasil rapat darurat, disepakati soal PTM sesuai instruksi Bupati Nunukan, Hj. Asmin Laura Hafid, untuk wilayah Nunukan, Sebatik dan Sei Menggaris, PTM diubah dengan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) dua pekan, terhitung mulai Kamis (23/2).
Dari 9 kecamatan di wilayah Nunukan, Sebatik dan Sei Menggaris tersebut, jika ditemukan lagi adanya kasus Covid-19. Harus ada inisiatif pihak sekolahnya yang tegas menutup sekolahnya dengan jangka waktu yang sama selama 2 pekan. “Di tiga wilayah ini, sudah masuk di zona merah semua,” ungkap Sabaruddin kepada Radar Tarakan, Rabu (23/2).
Sementara jumlah pelajar SD dan SMP yang terpapar, jumlahnya mencapai lebih dari 20 pelajar. Transmisi ini memungkinkan dan dikhawatirkan berpotensi menularkan ke yang lain, langkah penutupan sekolah pun, memang harus dilakukan. “Mereka terpapar dari luar, entah dari keluarga dan sebagainya, termasuk tenaga pengajarnya,” tambah Sabaruddin.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Disdik Nunukan, Widodo mengatakan, memang sesuai kebijakan dari SKB 4 Menteri, Nunukan masih masuk dalam level 1 dengan capaian vaksinasi juga sudah di atas 80 persen.
Mencermati perkembangan Covid-19 yang begitu cepat penularannya dalam beberapa pekan terakhir, ditambah lagi sudah adanya laporan dari sejumlah sekolah SD dan SMP yang tenaga pengajarnya hingga pelajarnya terpapar Covid-19, maka PTM terbatas 50 persen dihentikan.
“Ada guru di SD, kemudian di-tracing, ada sekian pelajar yang juga terpapar, setelah mereka melapor, langsung kami perintahkan tutup sekolahnya, itu sudah ketentuan SKB Menteri dan Bupati. Ketika PTM dilakukan kemudian ada satu orang yang terpapar, sekolah harus langsung tutup,” ujar Widodo ketika diwawancarai, Rabu (23/2).
Setidaknya ada 6 SD dan 2 SMP di Nunukan yang tutup dan berlakukan PJJ selama dua pekan ke depan. Atas penularan itu, seluruh sekolah di kecamatan wilayah Nunukan, Sebatik dan Sei Menggaris pun, harus berlakukan PJJ selama dua pekan. (shy/raw/lim)
Editor : Azwar Halim