PULAU Sadau merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari Kota Tarakan. Pulau seluas 37 hektare sempat dihuni 30 kepala keluarga dengan 104 jiwa.
Sayangnya masih minim fasilitas di pulau ini. Sebagian warganya pun memilih pindah ke daratan Pulau Tarakan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk mengakses pendidikan dan kesehatan.
Ketua RT 13 Karang Harapan, Samsuddin membenarkan kepindahan beberapa warga itu didasari akses terhadap kebutuhan dasar. “Kebanyakan warga sini sekarang tinggal di Tarakan, mereka baru kembali kalau air besar (pasang) untuk singgah beristirahat. Karena profesi semua warga di sini sebagai nelayan,” ungkapnya, Selasa (22/2).
Tak ada fasilitas kesehatan di pulau tersebut. Itu menjadi keluhan warga sejak lama. Jika ada warga yang sakit, maka pilihannya cuma satu, tinggal sementara di Pulau Tarakan.
Pulau Sadau cukup nyaman. Salah satunya indikasinya, jumlah penduduk pernah meningkat signifikan. Bahkan, mereka menggelar turnamen sepakbola tahunan. Namun, saat itu warga sudah tak sebanyak dulu. “Di atas (gunung) ada lapangan bola. Dulu setiap sore warga main. Bahkan dulu ada turnamennya, pesertanya kami undang dari Bunyu dari Tarakan dan Sesayap. Kalau sekarang sudah tidak lagi, lapangannya juga sudah tertutup,” tuturnya.
Rencana pemerintah menyulap Pulau Sadau menjadi kawasan wisata menjadi angin segar bagi masyarakat di sana. Selain bakal meningkatkan perekonomian, hal itu juga dianggap menciptakan ragam peluang pekerjaan bagi masyarakat. Hal itu “Kalau jadi kawasan ini dibuat tempat wisata, pasti penduduk akan ramai. Orang yang sudah pindah pasti kembali karena masih punya rumah di sini. Dan itu hadirnya kawasan wisata membuat fasilitas akan dibangun,” tukasnya.
Menurut Samsuddin, kepindahan sebagian warganya ke Pulau Tarakan tentu dengan alasan yang kuat. Ia sendiri memiliki anak yang tinggal di Tarakan. Namun, Samsuddin belum terpikir meninggalkan pulau kecil tersebut. “Dia (anak Samsuddin) sudah nyaman tinggal di sana (Tarakan) dan dari kuliah dia memang sudah di sana. Kalau soal tempat tinggal biar dia yang menentukan mana yang nyaman untuk dia sendiri,” tukasnya.
Jumlah warga yang bermukim kurang dari 100 orang. Samsuddin masih berharap adanya peningkatan fasilitas.
Di pulau ini juga terdapat makam tua di bibir pantai. Konon, makam ini pernah mengalami abrasi. Namun secara tiba-tiba, makam ini kembali dalam posisi semula seperti sebelum terjadi abrasi.
Dengan kejadian itu, warga Pulau Sadau meyakini jika makam tersebut bukanlah makam sosok biasa. Kendati begitu, tidak ada warga yang mengetahui siapa sosok yang dimakamkan tersebut.
Dari cerita beberapa warga, makam tersebut merupakan seseorang yang dikenal memiliki budi pekerti mulia.
Adapun siring pada makam dibuat oleh seorang petani tambak yang merasa didatangi makhluk astral memintanya memperbaiki makam tersebut. “Kuburannya ini sudah jatuh sampai ke bawah. Tapi anehnya besoknya kuburannya sudah kembali seperti semula. Pernah ada seorang petambak datang minta izin untuk menyiring kuburan ini. Karena niatnya baik kami izinkan dan informasinya tambaknya selalu berhasil,” kisahnya. (*/zac/lim)
Editor : Azwar Halim