Juru Bicara Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan, bahwa sejak pekan lalu, Tarakan sudah mengalami perkembangan kasus. Penelusuran yang dilakukan tenaga kesehatan mengungkap penyebaran kasus yang signifikan. “Ada beberapa sekolah yang sudah terpapar, jadi tidak melakukan kegiatan PTM,” ungkap Devi, Senin (21/2).
Pengawasan oleh pihaknya telah dilakukan sejak adanya keputusan pemerintah untuk melaksanakan PTM pada Desember 2021 lalu. Pengawasan ini diselenggarakan setiap bulan yang terdiri dari sekolah-sekolah yang berada di wilayah kerja puskesmas. “Sekolah yang dijadikan sampel itu tidak boleh SD semuanya atau SMP semuanya atau SMA. Jadi harus ada SD, SMP dan SMA ataus berbeda strata. Yang di-sampling itu guru dan murid. Kalau ada satu yang terkonfirmasi positif, kami lakukan tracing kasus dan melakukan pemeriksaan,” jelasnya.
Jika hasil pemeriksaan dinyatakan negatif, maka harus menunggu 5 hari kemudian untuk dilakukan pemeriksaan kedua. Jika hasil pemeriksaan swab kedua negatif, maka dinyatakan negatif Covid-19. Kegiatan surveillance atau pengawasan sempat terhenti karena disyaratkan dengan tes RT-PCR. “Waktu awal (surveillance) kita pakai PCR. Tapi seiring dengan peningkatan kasus, jadi hasil swab PCR itu tidak bisa kita dapatkan hasilnya dalam 2x24 jam. Sehingga bisa dilakukan dengan tes antigen,” ungkap Devi.
Jika kemudian usai melakukan tracing kasus dan pihaknya tidak menemukan adanya kontak erat yang dinyatakan positif, maka pihak sekolah sudah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka. Namun jika saat masih dilakukan tracing kasus dan ditemukan positif pada kontak erat, maka PTM tidak dapat dilakukan di sekolah.
Cakupan vaksinasi anak usia 6 hingga 11 tahun telah menyentuh angka 80 persen. Dengan perkembangan kasus penyebaran Covid-19 ini, rekomendasi disampaikan ke Dinas Pendidikan Tarakan. “Kalau terjadi peningkatan kasus, ya kita harus konsolidasi lagi. Karena kami hanya dapat memberikan rekomendasi. Kita perlu melihat level PPKM, dan yang paling penting itu bagaimana kondisi dan situasi daerah. Dalam SKB 4 Menteri sudah dijelaskan, kita mengacu pada itu,” tambahnya.
SDN 018 TIADAKAN PTM
Setelah SDN Utama 1 memberlakukan lockdown atau karantina wilayah karena banyaknya siswa yang terpapar Covid-19, kini giliran SDN 018 Kota Tarakan mengalami hal serupa. Setelah melakukan tes swab kepada guru dan siswa, dilaporkan 15 warga sekolah yang terdiri dari 8 siswa dan 7 guru dinyatakan positif Covid-19.
Kepala SDN 018 Tarakan, Tugina menerangkan, terhitung sejak Senin (21/2), SDN 018 meniadakan PTM sementara karena banyaknya warga sekolah yang terpapar. Mengenai kebijakan selanjutnya bergantung pada kondisi dua pekan ke depan.
“Kami meniadakan PTM karena dari 69 warga sekolah yang menjalani tes swab hasilnya 7 guru dan 8 siswa dinyatakan positif Covid-19. Jadi total ada 15 warga sekolah yang positif Covid-19. Akhirnya saya melakukan konsultasi dengan pengawas pembina dan kami meniadakan PTM selama 2 minggu,” ujarnya, Senin (21/2).
Kendati meniadakan PTM, namun pihaknya tetap mewajibkan guru yang negatif Covid-19 untuk tetap datang ke sekolah meski mengajar melalui daring. “Nah bagi guru yang tidak terpapar Covid-19 melakukan pembelajaran daring dari dalam kelas. Jadi tetap turun. Yang mengajar dari rumah cuma guru yang terpapar saja,” ungkapnya.
Ia menegaskan jika semua warga sekolah yang terpapar sudah menjalani vaksinasi dosis II. Sebelum dilakukan uji swab ia mengakui adanya guru yang merasa tidak enak badan saat mengajar. Setelah dilakukan tes swab hasilnya guru tersebut dinyatakan positif Covid-19.
“Total siswa di sini 642 dan 90 persen sudah divaksin untuk guru ada 29 sudah divaksin semua. Sebelum dinyatakan positif memang ada guru yang mengaku pilek dan tidak enak badan,” tukasnya.
Lebih lanjut, 3 dari 7 guru yang dinyatakan positif sebelumnya juga pernah positif Covid-19. Atas kejadian ini, ia belum dapat memastikan apakah pelaksanaan ujian tengah semester (UTS) yang direncanakan pada 7 Maret dapat dilangsungkan atau ditunda.
“Yang terpapar ini semuanya sudah divaksin. Ada juga 3 guru yang sebelum pernah positif Covid-19, sekarang terpapar lagi. Setelah 2 minggu kita lihat lagi, apakah yang positif ini sudah sembuh atau belum. Kalau sudah sembuh baru kita bisa lakukan PTM 50 persen. Kan sebelumnya PTM sempat 100 persen, tapi diturunkan 50 persen setelah penularan Covid-19 kembali naik,” ungkapnya.
“Jadi untuk UTS Maret nanti kami belum bicarakan apakah nanti ditunda atau tetap jalan,” tambahnya. (shy/*/zac/lim)
Editor : Azwar Halim