BAPAK Pembangunan Kalimantan Utara (Kaltara), dr. H. Jusuf Serang Kasim atau lebih dikenal Jusuf SK menghembuskan napas terakhir, Jumat (12/11) setelah beberapa bulan terakhir menderita sakit. Atas jasanya, wali kota Tarakan periode 1999-2009 ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dwikora, Tarakan.
dr. Ari Yusnita, putri almarhum, tampak menemani sang ayah hingga ke peristirahatan terakhir, kemarin. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) 2014-2019 itu mengungkapkan jika kondisi kesehatan sang ayah telah mengalami penurunan sejak 6 Juni 2021. Sekira dua hari lalu, sang ayah tampak terlihat lemas, tak seperti biasa.
“Biasanya kalau lemas gitu, saya curiga natrium kaliumnya turun. Karena saya khawatir kondisi masih Covid-19, jadi di rumah saya minta pasang infus,” tuturnya, Jumat (12/11).
“Sudah pasang infus sudah sempat baikan. Semalam (Kamis 11 November) juga masih kondisinya membaik. Masih makan,” sambungnya.
Istri almarhum, Hj. Elisabeth Venny mengatakan, almarhum sempat merasakan gelisah dan sedikit sesak napas. “Semalam (Kamis 11 November) masih sempat ganti tiga kali bantalnya karena basah karena keringatan,” ungkapnya.
Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dwikora, di Kelurahan Gunung Lingkas, Tarakan Timur setelah sebelumnya disalati oleh ratusan jemaah di Masjid dr. H. Jusuf SK, di Kompleks Bandara Juwata Tarakan.
SEKILAS KEPEMIMPINAN
Saat menjabat wali kota Tarakan pada 1999, Tarakan belum memiliki anggaran belanja yang besar. Di dalam kota, mudah menemui sampah yang kurang terurus, tidak sedap dipandang. Fasilitas pendidikan belum demikian memadai.
Jusuf SK paham, Kota Tarakan ini perlu ditangani serius. Ia pun sering turun, mengecek ke lapangan ragam persoalan pembangunan.
Hal yang ditangani pada awal pemerintahannya yakni sampah, dengan melibatkan sejumlah pengusaha lokal. Truk-truk pengangkut pun mulai berjalan. Di zaman pemerintahannya dikenal pemilihan sampah organik dan non-organik.
Beberapa waktu kemudian, Pemkot Tarakan menerima hibah. Di antaranya bus, ambulans hingga armada pemadam kebakaran.
Dari urusan sampah, selanjutnya ke pendidikan. Ia membangun fisik-fisik gedung sekolah. Kemudian laboratorium hingga kelengkapan seperti toilet sekolah. Lantas berlanjut memperjuangkan Universitas Borneo Tarakan. Adapula tunjangan tenaga pengajar, kepala sekolah, dan pengawas juga ditingkatkan. Pun dengan peningkatan sumber daya manusia pada bidang pendidikan.
Setelah masalah sampah, pendidikan dan usaha ditangani, berikutnya adalah masalah hutan bakau yang dihuni bekantan. Setelahnya lahirlah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan.
Jusuf juga membangun taman di tengah kota. Ada tiga taman di Kota Tarakan, dan satu di antaranya dibuat di lahan bekas kebun kangkung. Taman menghidupi para pedagang makanan dan minuman.
Jusuf pula yang mengenalkan konsep The Little Singapore. Tarakan sebagai daerah kecil yang modern.
Pada 2004, ia kembali terpilih menjadi wali kora. Di bawah kepemimpinannya, Tarakan memperoleh 40-an penghargaan termasuk Kalpataru. Yang paling mengesankan dari semua itu adalah pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas rata-rata nasional sejak 2001.
MERASA KEHILANGAN
Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, menceritakan bahwa ia telah mengenal Jusuf SK sejak masih menjadi staf di RSUD Tarakan, sedang Jusuf SK menjadi Direktur RSUD Tarakan pada tahun 1993.
“Kedekatan kami terjadi sejak saat itu, sampai beliau (Jusuf SK) pindah ke Samarinda, dan kembali menjadi wali kota. Maka saat beliau menjabat itulah, saya terkadang dipanggil ketika masih menjadi kepala seksi,” ucap Khairul.
Jusuf SK di mata Khairul merupakan sosok orang tua. Khairul merasa sangat kehilangan. “Saya banyak belajar tentang masalah kedisiplinan. Saya ingat betul beliau orang yang sangat disiplin dan humble dalam berkomunikasi, apalagi beliau orang yang cerdas. Hampir semua beliau miliki, jujur dan berani juga. Sehingga saat menjabat ada banyak terobosan yang terjadi di Tarakan,” kata Khairul dengan nada terisak.
Yang paling diingatnya saat pembentukan Kota Tarakan, anggaran belum ada sehingga Jusuf SK banyak melakukan terobosan dengan berbagai cara. Sehingga yang dicapai Pemerintah Kota Tarakan saat ini merupakan bagian dari peran Jusuf SK, seperti penataan infrastruktur jalan, pembangunan rumah sakit bagi Kaltara, dan sebagainya.
“Banyak karya yang beliau tinggalkan, sudah sepantasnya beliau dikenang. Beliau memang Bapak Pembangunan Tarakan karena beliau mengawali pemerintahan ini saat perubahan dari kota administratif menjadi kota madya, beliau adalah wali kota pertama yang dipilih melalui anggota DPRD dan itu berlanjut selama 2 periode,” jelas Khairul.
Jusuf SK merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 1963 yang dikenal sukses membawa nama almamater. (*/zac/shy/lim)
Editor : Muhammad Erwinsyah