TARAKAN - Untuk memastikan penyebab puluhan babi mati secara bersamaan di Malinau dan Nunukan, hingga saat ini masih dilakukan uji laboratorium oleh instansi terkait.
Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Tarakan, Akhmad Alfaraby mengatakan, terkait peristiwa yang terjadi di dua kabupaten di Kaltara tersebut, pihaknya sudah melakukan pengambilan sampel babi yang mati. Adapun pengambilan sampel tersebut bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kaltara dan kabupaten.
“Sejujurnya terkait untuk wewenang karantina terkait lalu lintas komoditas babi dan produknya sangat minim,” ucapnya, Senin (21/6).
Berdasarkan data BKP Tarakan, media pembawa dari babi ada daging babi olahan, daging babi dan tulang babi yang masuk melalui Bandara Internasional Juwata Tarakan. Frekuensinya pun sangat minim. Terbanyak hanya ada 3 kali pengiriman dengan jumlah 2 kg hingga 12 kg. Adapun berdasarkan hasil koordinasi dengan Pemprov Kaltara belum lama ini, seharusnya sudah diterbitkan peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang larangan pemasukan ternak babi dan produknya, dari Sabah, Malaysia. Dengan adanya perda tersebut, diharapkan bisa mengurangi potensi masuknya African Swine Fever (ASF) ke Kaltara. Di Malaysia, ASF ini sudah menjadi wabah di sejumlah peternakan babi.
“Yang jelas terkait hal ini, kami tidak akan tinggal diam, kami akan bekerja sama dengan dinas untuk melakukan identifikasi permasalahan sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel dari BVet Banjarbaru. Adapun dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan BVet Banjarbaru juga sudah melakukan investigasi ke wilayah yang ditemukan babi hutan yang mati di Tulin Onsoi dan Malinau,” bebernya.
Sementara terkait kasus babi yang mati bersamaan di Berau yang termasuk dalam wilayah kerja BKP Tarakan, pihaknya turut serta dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim bersama Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, mengambil sampel untuk di uji di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian.
“Untuk pencegahan, kami juga ikut dalam kegiatan disinfeksi terhadap kandang yang terdapat kematian dan menunjukkan gejala klinis, terus kami lakukan rapat penyusunan pemetaan risiko dan rencana operasional pencegahan serta pengendalian ASF bersama Kementan RI,” jelasnya. (jnr/lim)
Editor : Azwar Halim