TARAKAN - Tanggal 25 Mei genap 100 hari kerja Drs H Zainal Arifin Paliwang SH,. M.Hum dan Yansen T.P menakhodai Kaltara. Meski telah mengklaim sudah merealisasi 80 janji politik, namun tidak sedikit pihak yang meragukan klaim tersebut.
Saat dikonfirmasi, Praktisi Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si menuturkan, tentunya cukup sulit menilai kinerja pemerintah dalam waktu 100 hari kerja. Meski begitu, menurutnya merealisasikan program dalam 100 hari tidaklah mudah, mengingat 100 hari kerja masa pemerintahan, masih harus berkutat pada masa transisi dan penyesuaian anggaran dari pemerintah sebelumnya.
"Jadi kalau kita menggunakan indikator 100 hari menurut saya ini sesuatu yang tidak realistis, karena 100 hari itu dibandingkan masa jabatan selama 5 tahun kurang lebih hanya 5 persen dari presentase masa kerja. Kenapa itu menjadi tidak realistis karena pekerjaan selama 5 persen itu pun, masih berada di bawah bayang-bayang masa transisi gubernur sebelumnya,"ujarnya, (24/5).
"Artinya yang ia kerjakan tidak terlepas dari penetapan dari gubernur lama. Jadi artinya beliau harus meletakkan beberapa penyesuaian-penyesuaian terhadap itu. Kedua beliau juga tersandera oleh fokus pada penangganan Covid-19. Artinya keleluasaan beliau, disandera oleh situasi itu, di mana pilihan-pilihannya sangat kecil,"sambungnya.
Sementara itu ketua Komite 2 DPD RI Hasan Basri menilai masa kerja 100 tidak dapat dijadikan patokan dalam menilai kinerja kepala daerah. Menurutnya, dalam kondisi tersebut kepala daerah masih berkutat pada persoalan transisi dan penyesuaian dalam segala hal.
"Untuk menilai kinerja pemerintahan dalam 100 hari tentunya cukup sulit, selain masih dalam proses keluar dari transisi pemerintah sebelumnya, gubernur baru juga memiliki keterbatasan program karena masih bergantung pada anggaran sebelumnya,"terangnya.
"Tetapi secara realistis, saya cukup sulit menilai kinerja dalam 100 hari karena di negeri ini tidak ada persoalan dan program yang bisa ditangani secara instan. Apalagi Kaltara ini kan provinsi baru jadi tidak bisa segala persoalan diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan," pungkasnya. (*/zac/har)
Editor : Azwar Halim