Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Masuk Ruangan ICU yang Ia Banggakan

Azwar Halim • Jumat, 15 Januari 2021 | 09:33 WIB
masuk-ruangan-icu-yang-ia-banggakan
masuk-ruangan-icu-yang-ia-banggakan

Selasa 12 Januari 2021, Tak terasa dr. Mukti Fahimi terhitung sepekan sudah berada di RSP TNI AL Ramelan Surabaya. Kondisinya berangsur membaik. Mengisi waktunya selama menjalani perawatan, ia menulis seluruh pengalamannya saat kali pertama menapak RSP TNI AL Ramelan Surabaya.


ANDI PAUSIAH


PERJALANAN panjang menuju kesembuhan dari Covid-19, dr. Mukti kembali mengenang saat awal dirujuk ke Surabaya pada Kamis 7 Januari lalu. Sekira pukul 23.00 WIB, dari IGD ia dipindahkan menuju ICU menggunakan kendaraan ambulan. Masih saat itu bertahan dalam kesakitan. Setiap kali menarik napas, ia merasakan tubuhnya remuk. Apalagi ia baru saja melalui perjalanan panjang. Bukan 5 jam perjalanan sesuai prediksinya, melainkan meleset hingga 7 jam lamanya bertaruh nyawa di udara, saat proses evakuasi medis yang begitu berisiko dan tak terbilang lelahnya.


Dalam perjalanan pemindahannya menuju ICU, mungkin ini sesuatu yang baru. Nyatanya RSP TNI AL Ramelan begitu luas, pemindahan pasien dengan ambulan sudah umum dilakukan. Setiap pergerakan pasien harus dibantu kendaraan ambulan. Malam itu, kenang dr. Mukti,  ia masuk ke ICU dengan perasaan cemas dan stres. Terlebih lagi di sekelilingnya dipadati petugas lengkap dengan APD level satu. Dan, di sekelilingnya ia melihat hampir semua tempat tidur pasien Covid-19 tidak ada yang kosong. 


“Dalam hati saya waktu itu, oh ternyata saya masuk ICU Ramelan yang dulu pernah saya bangga-banggakan. Perasaan saya semakin berkecamuk, stres menjadi satu. Tapi inilah takdir Allah. Sudah memang harus seperti ini. Dalam hati saya tetap menguatkan diri. Yakin dan bismillah saya bisa melewati ini,” ungkap dr. Mukti. 


Ia kembali bercerita, saat kali pertama  ikut tasyakuran pembukaan ICU Ramelan pada 2018 lalu, ruangan ICU Ramelan ini masih baru. Ia bersama Kolonel Laut Kes Wakabin,  dr. Tjatur, Sp.JP, dan Wakamed 2019, Kolonel Kes dr. Sapta, Sp.B, bersama rekannya, ICU letting PAPK-1999 dr. Wayan, Sp.An, KIC. Bersama rekannya, saat itu ia bangga dengan pembangunan ICU super megah, super canggih. Sebagai bentuk kebanggaannya, sempat mengunggah ke akun Instagram pribadi. “Sempat foto bersama di ruangan ICU baru bersama kedua pejabat penting RSP TNI AL. Saking bangganya saya sempatkan posting di Instagram pribadi. Foto-foto saat itu termasuk dengan punggawa ICU andalannya dr. Wayan, Sp.An, KIC. Semua kenangan itu masih tersimpan di Instagram pribadi,” bebernya.


Namun siapa sangka, hampir 16 bulan berlalu,  takdir kembali membawa dirinya ke ICU kebanggaannya. Namun kali ini dengan cerita yang berbeda bahkan tak terbayangkan akan terbaring dalam ICU yang ia bangga-banggakan. Kali ini tak ada guratan senyuman melihat fasilitas ICU yang super canggih di sana. Hanya ada rasa sakit, disertai rasa mual yang begitu hebat. Selama proses evakuasi, ia berkomunikasi dengan Karumkit RSP TNI AL Ramelan, Laksma TNI, dr. Radito, Sp.THT-KL. “Beliau sangat aktif menanyakan kondisi saya. Karena tanggung jawab besar yang beliau emban. Saya memahami kondisi ini, karena proses evakuasi medis saya adalah perintah langsung dari pimpinan komando atas saat itu,” ungkap pria tiga anak ini.


Selain itu secara teknis medis ia selalu konsultasi dengan dokter senior, Kolonel Laut Kes dr. Eko Budi Prasetyo, Sp.An, KIC. Ia adalah dokter spesialis yang tak diragukan lagi keilmuannya. “Saya tahu betul kemampuan knowledge di bidangnya. Selama di ICU saya terus dimonitor ketat beliau,” ucapnya.


Memasuki hari kedua, Jumat (8/1) berada di ICU Ramelan, sekira pukul 09.00 WIB, semua dokter spesialis mengunjungi bersama dan melakukan diskusi. Ia melihat  bagaimana satu tim medis yang luar biasa di bawah komando, dr. Eko Budi. Hasil keputusan diskusi, dirinya harus dipasangkan central venous catheters (CVC), infus pada pembuluh darah besar.


dr. Wayan mengambil alih pemasangan. Dirinya sempat keberatan dipasangkan CVC dengan metode blind. Sesama profesi, ia sangat tahu bagaimana risiko pnemotorak terjadi jika tusukan meleset. Akhirnya kembali diskusi panjang dengan dr. Eko Budi.  “Saya minta dengan guiding USG. Tapi dr. Wayan berhasil meyakinkan saya insyaallah aman meskipun metode blind. Saya pun akhirnya mau dan hanya bisa menyebut bismillah dan akhirnya alat itu sukses terpasang,” urainya. Setelahnya, semua terapi intervensi lebih mudah dengan akses CVC, ia merasakan tubuhnya mulai nyaman dan tenang. Terlebih ditangani dokter profesional di bidangnya. 


Hari kedua di ICU, perubahan klinis cuku dia rasakan. Meskipun tarikan napas masih terasa sakit, tetapi tidak sesakit di awal. Bahkan rasa remuk di badan sudah berkurang. Begitu pula rasa mual. Memasuki hari ketiga, semua pemeriksaan laboratorium diulang. 


Hari keempat di ruang ICU, hasil laboratorium  keluar dan dinyatakan IL-6 (disekresi dari jaringan tubuh ke dalam plasma darah) yang masih tinggi. Akan tetapi CRP saat itu sudah  menuju normal. Apakah pemberian actemra akan dilanjutkan atau tidak. Beberapa sejawat sempat beda pendapat. Lagi, diskusi panjang terjadi. Hasil akhirnya karena pertimbangan klinis, diputuskan pemberian actemra ditunda. Keputusan itu benar-benar membuat klinisnya membaik dan CRP menuju normal.


Pada 12 Januari 2021, dr. Mukti akhirnya benar-benar keluar ICU. Meski sudah keluar ICU, ia masih harus melewati masa pemulihan. Bagi dr. Mukti, ini  sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Ia menjadi saksi betapa pelayanan ICU mulai dari tim medis dan perawat selalu memberikan perhatian lebih. Hampir setiap 15 menit perawat selalu mengecek kondisi pasien dan menawarkan minuman serta makanan juga kebutuhan buang air. “Dan saya lihat tidak satu pun perawat ICU yang tidur. Semua bergerak mobile melayani pasien. Benar-benar sebuah pelayanan super prima dari ICU Ramelan,” pungkasnya. (*/lim)


 

Editor : Azwar Halim