TARAKAN - Umat Hindu Tarakan menggelar upacara piodalan pada Pura Agung Giri Jagatnatha, Karang Anyar, Tarakan Barat, Rabu (4/11).
Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Utara (Kaltara), I Wayan Sabe mengatakan upacara itu dilakukan setiap 6 bulan sekali. “Namun karena sedikit saja umat Hindu di Tarakan jadi kami lakukan satu tahun sekali,” ujarnya.
Umat Hindu melakukan persiapan sesajen, bersih-bersih pura, membuat penjor dan sebagainya sehari sebelum pelaksanaan. Setelah itu, dilakukan pembersihan alam dan mengembalikan roh jahat ke alamnya. Setelah itu dipimpin oleh pinandita, umat Hindu menurunkan yang bersemayam di pura untuk kemudian disucikan dan disambut dengan tari-tarian. “Kami putar 3 kali baru kami kembalikan. Dan kami sembahyang dalam rangka perayaan piodalan,” katanya.
Piodalan kemarin dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes). Mengingat digelar di tengah pandemi Covid-19.
Wayan pun mengharapkan umat Hindu di Tarakan dan seluruh masyarakat Tarakan aman dan jauh dari pandemi Covid-19. “Mudah-mudahan wabah ini segera berakhir dan masyarakat bisa merasa tenang beraktivitas,” pungkasnya.
TENTANG PIODALAN
Dikutip dari Bali Express (Jawa Pos Group) yang diterbirkan 4 November 2020 lalu, secara garis besar, selain diperingati sebagai hari kelahiran, upacara piodalan juga dapat diartikan sebagai suatu upaya bagi umat Hindu untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.
Selain sebagai ungkapan rasa terima kasih umat kepada Ida Sang Hyang Widhi atas segala anugerah yang diberikannya, secara etimologi, upacara piodalan dapat diartikan sebagai hari lahir atau peringatan kelahiran sebuah pura.
Pada saat dilakukannya upacara ngenteg linggih inilah Ida Bhatara diyakini sudah mulai melinggih atau berstanan di pura atau pameranjan atau palinggih tersebut. Sehingga jika dilihat dari beberapa literatur yang ada, dapat dijelaskan jika saat dilakukan prosesi ngenteg linggih tersebut, pura diberikan kekuatan atau tenaga kehidupan atau prana oleh Ida Sang Hyang Widhi.
Sehingga setelah dilaksanakannya upacara, pura akan memiliki fungsi sebagai pusat ritual dan spiritual bagi umat Hindu.
Jika melihat tata cara dan pelaksanaan piodalan di Bali, pada masa lalu ditemui beberapa macam bentuk. Seperti piodalan biasa, piodalan nadi serta piodalan nyepen. Dari jenis-jenis piodalan ada beberapa faktor yang memengaruhi.
Adapun faktor-faktor tersebut tidak terlepas dari pola kehidupan masyarakat Bali pada masa lalu yang tergantung pada pola hidup agraris. Sehingga faktor-faktor pelaksanaan piodalan di Bali tidak terlepas dari pola musim, seperti musim tanam dan musim panen.
Ketika piodalan jatuh bertepatan pada musim tanam maka piodalan akan diselenggarakan dengan cara yang lebih sederhana. Ini karena konsentrasi masyarakat saat musim masih terfokus pada aktivitas menanam padi di sawah.
Namun jika piodalan jatuh pada musim panen, ketika konsentrasi masyarakat di sawah sudah selesai dan masyarakat Bali memiliki hasil panen yang melimpah, sehingga penyelenggaraan piodalan akan dibuat lebih meriah.
Jika piodalan bertepatan dengan bulan purnama, maka piodalan akan dibuat lebih meriah lagi, bahkan sampai menyelenggarakan acara hiburan.
Sementara piodalan nyepen atau yang juga dikenal dengan istilah ngempet piodalan pada kehidupan umat Hindu Bali di masa lalu, nyepen odalan yang berasal dari kata Nyepi/sepi ini biasanya dilakukan oleh umat Hindu jika piodalan jatuh pada saat masyarakat menderita kekeringan atau musim paceklik. (shy/lim)
Editor : Azwar Halim