TARAKAN - Hujan deras yang mengguyur Tarakan sejak pukul 00.30 WITA, Senin (28/9) dini hari bukan hanya menyebabkan banjir di beberapa kelurahan di Tarakan. Setidaknya ada 42 titik longsor dan mengakibatkan 11 orang meninggal dunia.
NASIB tragis dialami keluarga Piter Batti dan Cristianus Harianto. Dari empat anggota dari masing-masing keluarga, tiga tertimbun longsor.
Dari keluarga Piter Batti, hanyaIntan Aryani Batti, yang selamat dari tanah longsor di RT 17, Juata Permai, Tarakan Utara. Gadis 12 tahun itu kini hidup sebatang kara, kedua orang tua dan saudara laki-lakinya meninggal dunia.
Malam sebelum kejadian, Intan sempat bercanda tawa dengan kedua orang tua dan saudaranya. Maklum, Intan memang gadis yang terbilang dekat dengan keluarga sehingga berkumpul bersama keluarga merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan.
Sekira pukul 02.00 WITA, Senin (28/9), saat semuanya terlelap tidur, bencana menerpa keluarga Pitter Batti.
Praaakkk... Bunyi dinding belakang rumah diterjang tanah. Kejadian itu cepat, hingga membuat Intan kaget. Intan bahkan masih belum membuka mata karena kantuk. “Saya tidur sendiri, orang tua saya tidur bersama dengan adik di kamar belakang. Tapi tiba-tiba ada tetangga ketuk pintu, baru saya bergegas bangun,” ujar Intan lirih.
Saat membuka mata, Intan kaget bukan main karena kondisi rumahnya yang berbeda dari biasanya. Bahkan Intan bingung akan kejadian yang terjadi. Tanpa berpikir panjang, Intan diarahkan tetangganya untuk keluar melalui jendela kamar sehingga Intan berhasil keluar dengan selamat.
Gadis berambut panjang ini pun segera dilarikan ke rumah tetangga untuk beristirahat. Namun, Intan lantas mencari kedua orang tuanya, Piter Batti dan Anna Lisu Lalong serta seorang adik lelakinya yang bernama Tristan Alfian Lalong. “Selama pencarian, saya belum diperbolehkan ketemu sama orang tua dan adik saya. Menangis, cuma itu yang bisa saya lakukan. Saya kaget, saya enggak punya firasat sebelumnya,” tutur gadis yang masih duduk bangku sekolah menengah pertama (SMP) ini.
Hingga tiba di pukul 04.00 WITA, Piter, Anna dan Tristan akhirnya ditemukan. Dalam keadaan tertimbun. “(Piter, Anna dan Tristan) Dilarikan ke Puskesmas. Saya masih ditampung keluarga di rumah tetangga,” kenangnya.
Terpisah, salah satu warga RT 02 Juata Permai, Arisona, menyaksikan kepergian Piter, Anna dan Tristan saat dibopong ke Puskesmas Juata Permai. Pihak keluarga sempat berharap agar tiga korban ini dapat diselamatkan. Namun, sesampainya di Puskesmas Juata Permai, ketiga korban sudah dinyatakan meninggal dunia dan tak dapat diselamatkan lagi. “Jadi, kami membawa korban untuk disemayamkan di rumah keluarga korban yang berada di RT 10, Kelurahan Karang Harapan,” tuturnya.
Hingga kini, jenazah masih disemayamkan, namun proses pemakaman korban masih belum diketahui pastinya mengingat tiga korban ini masih memiliki keluarga yang berada di luar daerah. “Kami masih membuat tenda untuk pelaksanaan ibadah penghiburan nanti malam (tadi malam), sambil menunggu kedatangan keluarga dari luar daerah,” singkatnya.
Sementara itu, Ketua RT 17 Kelurahan Juata Permai, Jezpes menceritakan bahwa kejadian ini telah ia laporkan kepada PLN, kelurahan dan babinsa untuk mendapatkan penanganan. Sehingga dalam pelaksanaan evakuasi dilakukan langsung oleh Kantor Pencarian dan pertolongan dan BPBD. “Ketika kejadian itu, warga panik. Semua teriak minta tolong, jadi tetangga-tetangga datang kemudian kami turut mencari korban. Pada pukul 04.00 WITA, kami dapat keluarga Yakobus Tani karena ada empat orang tinggal di dalam rumah Yakobus. Tapi yang meninggal itu Ariel, anak Yakobus,” jelasnya.
“Jadi korban itu ada 8. Yang meninggal 4. Kalau korban rumah karena longsor ada 3 rumah, tapi itu rumah kosong karena rumah kosong itu sedang dibangun,” tutur.
Jezpes mengungkapkan bahwa longsor yang terjadi di kawasan tersebut bukanlah pertama kali. Tiga tahun sebelum juga sempat ada warga yang tertimbun, namun selamat. “Sering longsor. Tapi baru kali ini memakan korban jiwa, sampai 4 orang,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, Jezpes menginginkan agar pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat sekitar. Sebab jika harus memilih pindah dari lokasi tersebut, Jezpes tidak memiliki tempat tinggal lain. “Kalau mau pindah, mau ke mana? Kecuali ada kebijakan dari pihak yang berkuasa, kita tidak tahu,” pungkasnya.
ULANG TAHUN SI KEMBAR SUDAH DIRENCANAKAN
Tanah Bumi Paguntaka mulai diguyur hujan sekira pukul 00.00 WITA. Guntur dan petir saling bersahut-sahutan. Sebagian orang ada yang terlelap nyenyak ‘berbalut’ selimut. Tapi di sepanjang malam, adapula keluarga yang terjaga. Entah itu rumahnya kebanjiran, atau waswas karena berada di tebing.
Menjadi duka bersama menyelimuti langit Kota Tarakan. Selain bencana longsor dan banjir sejak dini hari, sekira pukul 08.30 WITA disusul musibah kebakaran di daerah Kelurahan Selumit. Sontak bermunculan hashtag dan gambar bertuliskan pray for Tarakan di media sosial.
KisahIntan serupa denganMaria, seorang ibu muda di RT 11, Kelurahan Juata Kerikil, kawasan menuju Jalan Gunung Selatan. Sungguh menyayat hati.
Maria kehilangan suami tercinta, Cristianus Harianto (29), sekaligus bayi kembarnya Yohanes Dava Harianto dan Yohanes Davi Harianto, setelah tertimbun runtuhan tanah longsor.
Hati mana yang tidak merintih, melihat langsung orang-orang tersayang diam, tidak berdaya lagi. Jeritan suara pilu Maria, memecahkan suasana dingin, sambil memeluk jenazah anak kembarnya yang sudah terbujur kaku.
Musibah ini bermula sekira pukul 02.00 WITA, dini hari. Melalui Risma Rina, tetangga dekat Maria bercerita. Sebelum kejadian, Maria sempat menyusui buah hatinya ini. Mungkin itulah kasih sayang terakhir yang diberikan Maria sebelum kejadian pilu ini.
“Ibunya sempat menyusui anaknya yang satu. Tapi yang satunya juga mau susu, jadi dibuatkan di dot,” terangnya kepada Radar Tarakan.
“Bapaknya disuruh bangun tapi tidak enak badan, capek bilangnya,” sahut Maria, korban.
Saat tidur, tiba-tiba runtuhan tanah dari samping menghantam dinding kamar yang masih berbahan tripleks. Yang langsung menindih Maria bersama suami dan anak kembarnya. Sementara, Gusti, adik Maria yang kala itu tidur di ruang tamu, sehingga bisa selamat dari maut.
Beruntung Maria masih bisa selamat. Padahal kala itu, setengah badannya hingga ke bagian kaki sudah tertimbun tanah. Sempat pula berusaha menyelamatkan diri, sebelum akhirnya minta tolong ke tetangga terdekat.
“Di dalam rumah ada 5 orang yang tinggal. Tapi yang selamat itu istrinya (Maria), adiknya yang bernama Gusti. Istrinya ini juga tertimbun setengah badannya, tapi selamat,” ceritanya.
Padahal bayi laki-laki kembar yang berusia 10 bulan ini, akan merayakan ulang tahun yang pertama. Tepatnya 20 November mendatang. Rumah pun sudah dibenahi sedikit, untuk merayakannya. Namun apa daya, manusia hanya dapat merencanakan. Sang penciptalah pemilik kehidupan.
“Mau ulang tahun, kata mamanya biarlah kita pesta kecil-kecilan, putar lagu, pesan kue. Sudah dibenahi rumahnya, dikasih agak lebar sedikit. Tapi kita tidak tahu kehendak Tuhan,” kenangnya.
Sementara itu, Matius (34), tetangga dekat yang ikut mengevakuasi korban, mengatakan ini merupakan musibah kedua yang dialami keluarga Maria. Namun musibah kali ini memakan korban jiwa.
“Dulu pernah kena longsor juga, ini yang kedua. Yang pertama sekitar tiga tahun lalu. Bukan di rumah yang ini, di sebelah sana. Tapi di rumah yang ini makan korban jiwa. Ini rumah seperti pondok-pondok saja,” katanya.
Sekitar pukul 10.00 Wita, tiga korban ini dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan. Rencananya tiga korban ini akan dimakamkan di kampung halamannya, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Tidak punya keluarga dekat di sini. Tapi kita sama-sama merantau, jadi sudah anggap keluarga sendiri,” tutupnya.
PETUGAS SEMPAT TERKENDALA BANJIR
Banjir di sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi. Ada yang bahkan hingga setinggi leher orang dewasa. Hal itulah yang dihadapi petugas dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan saat berupaya mengevakuasi korban tanah longsor subuhnya.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan, Amiruddin AS mengatakan, saat menerima informasi adanya tanah longsor, pihaknya langsung menurunkan tim ke lokasi kejadian.
“Jadi kami pertama kali dapat informasi di daerah Juata Permai dan daerah Karang Anyar, karena jarak yang lebih dekat dan jumlah korbannya lebih banyak fokus awal kami membantu di Juata Permai,” tuturnya.
Sebanyak 7 orang petugas sempat kesulitan. “Jadi hujan deras itu, membuat banjir setinggi lutut orang dewasa, banjir ini yang membatasi ruang gerak kami dalam proses evakuasi para korban,” ucapnya.
Adapun pagi harinya, dirinya kembali menerima informasi longsor tidak hanya terjadi di Juata Permai dan Karang Anyar, namun ada dua titik lain di Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah.
“Kami juga menurunkan tim di sana dan setelah berkoordinasi dengan BPBD Tarakan, Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan semua korban berhasil dievakuasi, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka akibat bencana longsor ini,” tuturnya.
Setelah dipastikan korban semuanya sudah berhasil ditemukan, pihaknya menyerahkan tidak lanjut penanganan ke Pemkot Tarakan terkait rehabilitasi, dan penyaluran bantuan kepada para korban. “Berdasarkan informasi BMKG terhitung mulai tanggal 27 September hingga 29 September akan terjadi anomali cuaca yang sangat buruk. Untuk Kaltara khususnya Tarakan akan terjadi hujan dengan intensitas lebat,” ungkapnya.
“Kenapa mesti hati-hati, karena di Tarakan ini masih ada masyarakat yang tinggal di tepi bukit dan di bawah bukit dengan risiko terjadi longsor ketika hujan deras. Jadi bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, kita harapkan untuk tidak tinggal sementara waktu di rumah tersebut, mengantisipasi jatuhnya korban jiwa akibat bencana longsor,” harapnya. (shy/*/one/jnr/lim)
Editor : Muhammad Erwinsyah