Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Taiwan Minati Kepiting Bakau Beku Kaltara

Muhammad Erwinsyah • Senin, 21 September 2020 | 10:50 WIB
taiwan-minati-kepiting-bakau-beku-kaltara
taiwan-minati-kepiting-bakau-beku-kaltara

TARAKAN – Selain diminati Malaysia, kepiting bakau asal Kaltara juga diminati Taiwan. Uniknya Taiwan lebih minat terhadap kepiting beku dibanding kepiting hidup.


Kasi Pengawasan, Pengendalian dan Informasi pada Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPMTarakan, M. Roy Pahlavi mengatakan, sejauh ini ekspor kepiting bakau ke Taiwan dalam produk kepiting beku, bukan kepiting hidup seperti ekspor kepiting bakau ke Malaysia.


“Memang bila dibadingkan dengan ekspor kepiting bakau yang masih dalam keadaan hidup ke Malaysia dibandingkan ekspor kepiting bakau beku ke Taiwan, jumlahnya lebih banyak ke Malaysia,” ujarnya.


Berdasarkan data BKIPM Tarakan, jumlah ekspor kepiting beku selama pandemi Covid-19 terus terjadi peningkatan hingga Agustus. Sebelumnya ekspor terjadi penurunan disebabkan adanya pembatasan yang dilakukan negara Taiwan. “Iya ini sudah mulai meningkat lagi, kami harapkan jumlah permintaan kepiting dari Taiwan ini terus meningkat hingga akhir tahun ini,” ucapnya.


Adapun jumlah ekspor kepiting beku ke Taiwan pada Juni mencapai 2.308 kg dengan nilai ekonomis Rp 233.555.752, sementara pada bulan Juli meningkat menjadi 5.303 kg dengan nilai ekonomis Rp 536.611.543 dan data terakhir pada bulan Agustus terjadi peningkatan ekspor kepiting beku menjadi 9.589 kg dengan nilai ekonomis Rp 948.869.796.


“Pengiriman kepiting beku ini, biasanya menggunakan kargo kapal yang memang tujuannya ke beberapa negara termasuk Taiwan,” ucapnya.


Adanya peningkatan ekspor kepiting di Kaltara, baik kepiting bakau hidup ke Malaysia dan kepiting beku ke Taiwan, dirinya nilai bisa memperbaiki kondisi kerugian yang dialami pelaku usaha sebelumnya, yang mana sempat kebingungan untuk menjual hasil komoditas perikanan.


“Bisa kita lihat sebelumnya, kondisi pelaku usaha memang sangat kesulitan ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, ada beberapa faktor yang membuat pengusaha kesulitan menjual komoditinya, pertama adanya pembatasan yang diberlakukan oleh negara tujuan ekspor. Kedua, tidak adanya kapal atau pesawat tujuan ke negara yang akan dikirim, hal inilah membuat pelaku usaha harus berpikir keras untuk tetap bertahan di kondisi pandemi Covid-19,” pungkasnya. (jnr/lim)


 

Editor : Muhammad Erwinsyah