TARAKAN – Pencarian terhadap tiga anggota polisi perairan yang dinyatakan hilang di sekitar Pulau Tibi, Tana Tidung membuahkan hasil di hari kedua. Dalam pencarian tersebut, ada 8 armada yang dikerahkan untuk memaksimalkan pencarian.
Dirpolairud Polda Kaltara, Kombes Pol Nyoman Budiharja mengatakan bahwa laka laut tersebut terjadi pada Sabtu (8/8) malam dan korban baru dapat berkomunikasi pada Minggu (9/8) subuh. Proses pencarian terhadap 6 korban baru dapat dilakukan pada pukul 05.30 WITA. Dalam waktu setengah jam, pihaknya menuju ke TKP dan menemukan 3 orang korban, sedang 3 lainnya belum ditemukaan saat itu.
“Karena pelaksanaan SAR (pencarian dan pertolongan) mengutamakan kesegeraan, kami menghimpun potensi SAR dari Polairud saja dulu untuk kecepatan. Kemudian menyusul kami mengumpulkan SAR dari Angkatan Laut dan potensi masyarakat,” ujarnya.
Hingga pukul 18.00 WITA pada Minggu, 3 korban dinyatakan belum ditemukan. Akhirnya koordinasi terus ditingkatkan sehingga pihaknya mendapatkan dukungan pencarian dari Satbrimob Polda Kaltara, dan Basarnas untuk memaksimalkan pencarian.
Insiden yang menimpa kapal patroli terjadi saat badai menyapu kawasan perairan Pulau Tibi secara tiba-tiba. “Anggota itu bisa menyelamatkan diri sebenarnya ke tepi. Tapi karena keadaan ombak yang cukup menyulitkan, dan mereka terpencar, ini yang menjadi masalah,” jelasnya.
Tiga anggota yang ditemukan saat ini masih beristirahat dan sudah dapat dimintai keterangan. Hanya masih mengalami trauma.
Untuk diketahui, petugas polair melakukan patroli siang dan malam. Saat berpatroli Sabtu malam, Nyoman menduga keenam personel tersebut belum memahami kondisi perairan Kaltara.
“Mereka profesional dan tahu BMKG. Tapi kalau cuaca seperti itu, di BMKG juga tidak ada yang memperkirakan ada badai ada jam tertentu. Di sini (Tarakan) kejadiannya terkadang seperti itu,” tuturnya.
Pencarian bangkai kapal merupakan target kedua pihaknya, sebab saat ini pihaknya masih fokus dalam pencarian korban yang belum ditemukan.
Potensi SAR telah dibagi pihaknya berawal dari titik TKP sepanjang Sungai Tibi sampai muara, baik di sisi selatan sampai utara. Mengingat dua orang yang belum ditemukan saat itu sedang berada di pinggir pulau.
“Apakah dalam keadaan luka atau apa sehingga memerlukan kecermatan anggota untuk melihat satu per satu,” jelasnya.
Untuk diketahui dalam proses pencarian ini Angkatan Laut melibatkan 5 kapal, Polair 3 kapal, Basarnas 2 kapal, potensi masyarakat 3 kapal besar dan kapal kecil untuk masuk ke daerah tambak.
“Mengingat kondisi medan, enggak memungkinkan untuk menggunakan kapal besar. Tapi kami mengantisipasi juga cuaca, jangan sampai tim SAR dan kapal kecil juga jadi korban. Ini membutuhkan ketepatan koordinasi,” tegasnya.
Untuk diketahui, muatan kapal yang terbalik ini tidak melebihi kapasitas. Para petugas yang berpatroli juga dilengkapi life jacket(jaket pelampung).
“Badai dari jam 11 malam hingga 4 pagi, itu tidak normal. Idealnya 7 hari pencarian, kami akan mengevaluasi setiap hari perkembangannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kapolda Kaltara, Irjen Pol Indrajit mengatakan bahwa 6 orang polair yang menghadapi kecelakaan itu merupakan bawah kendali operasi (BKO) dari Ditpolair Baharkam Polri dan baru dua pekan berada di Kaltara untuk membantu personel Ditpolair Polda Kaltara yang saat ini masih terbatas.
“Kita juga tetap berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar cepat ditemukan dalam kondisi selamat,” harapnya.
Sementara itu, Dirpolair Baharkam Polri, Brigjen Pol Mohammad Yassin Kosasih menambahkan seorang korban yang telah ditemukan atas nama Brigpol Ivan Bilasman yang merupakan TS perwira teknik KP Kepodang 5001.
Saat ditemukan, posisi korban berada 4,8 nautical mile atau 8,9 km dari titik terakhir terlihat. “Korban dibawa ke RSUD Tarakan untuk dilakukan visum. Karena korban berasal dari NTB (Nusa Tenggara Barat), kami tidak akan berlama-lama dan akan mengirim jenazah ke NTB,” jelasnya.
Saat ditemukan Ivan masih menggunakan baju dinas berwarna biru dengan kondisi life jacket dan sepatu yang terlepas.
“Dari foto yang kami dapatkan, korban terbawa masuk ke pohon bakau. Jadi bukan di laut lepas,” tuturnya.
“Tidak ada luka, tapi tetap dilakukan visum. Terlihat keluar darah dari hidung dan mulut, biasa korban laka begitu,” sambungnya.
ANGIN KENCANG DISERTAI HUJAN LEBAT
Kecelakaan laut KP Kepodang 5001 pada Sabtu (8/8) lalu, diduga akibat cuaca buruk terjadi di sekitaran perairan Tarakan. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, William Sinaga mengatakan, berdasarkan data saat itu kondisi cuaca di sekitaran perairan Tarakan di bagian utara mengalami hujan yang disertai angin kencang.
“Dari jam 22.00 WITA itu sudah pergerakan awan dari barat menuju perairan Kaltara,” katanya, kemarin (10/8).
Hujan saat itu diketahui turun hingga pukul 02.00 WITA. Kemudian dari satelit BMKG lagi, tinggi gelombang mulai dari 0,5 meter hingga 1,24 meter. Namun apabila adanya angin kencang, jelas William, dapat menambah tinggi gelombang.
“Kami tidak bisa pastikan (tinggi gelombang), tapi perkiraan itu 0,5 meter hingga 1,24 meter jadi variasi juga. Karena setiap wilayah klaster awannya itu tidak sama di seluruh perairan,” jelasnya.
Dibeberkan William, beberapa hari ke depan berpotensi terjadi cuaca buruk. Tinggi gelombang diprediksi dari 0,5 meter hingga 1,25 meter. Untuk kecepatan angin mencapai 3 sampai 12 knot.
Untuk kategori gelombang dari 0,1 sampai 0,5 dikategorikan air laut tenang. Untuk rendah 0,5 sampai 1,24 meter. “Namun ada risikonya. Kalau kecepatan angin lebih dari 15 knot dan gelombang di atas 1,25 meter maka akan berisiko terhadap perahu nelayan,” imbuhnya.
Kemudian untuk kecepatan angin di atas 16 knot dan ketinggian gelombang mencapai 1,5 meter, maka akan berbahaya terhadap kapal berjenis tongkang. Untuk kecepatan angin di perairan Tarakan Utara pada Sabtu lalu, mencapai 17 knot setara dengan 8,7 meter per detik. “Jadi angin yang tercatat itu jam 23.00 WITA, dari arah barat laut. Itu kategori angin kencang dan belum ekstrem,” sebutnya.
Dilanjutkannya, untuk kategori angin kencang terjadi saat akan hujan lebat. Artinya kecepatan angin akan naik apabila ada fenomena cuaca buruk, seperti hujan. “Jadi itu ada pergerakan awan sebenarnya menjadi pemicunya,” pungkasnya.
6 JAM KEHILANGAN KONTAK
Saat kejadian KP Kepodang 5001 yang diketahui bermesin 40 PKditumpangi 6 petugas yang sedang berpatroli, Sabtu (8/8) malam. Mereka adalah Brigpol Ivan Bilasman, Bharatu Yoseph Arianto, Bharatu Donni Budi Santoso, Bripka Ujang Walia (Pema KP Kepodang), Brigpol Amrullah (ABK), dan Bharada Rivaldi U'jae.
Kejadian bermula pada Sabtu 8 Agustus sekira pukul 20.00 WITA, tim patroli KP Kepodang 5001 yang dipimpin oleh Bripka Ujang berpatroli rutin di sekitar perairan Juata, Tarakan ke arah Pulau Tibi, Tana Tidung.
Pada pukul 23.00 WITA cuaca memburuk di sekitar perairan Tarakan Utara. Pukul 00.00 WITA sampai dengan 06.30 WITA petugas kehilangan kontak dengan tim yang berpartoli.
Pukul 06.35 WITA, Bripka Made Bilantara, personel Ditpolairud Polda Kaltara mengecek posisi tim patroli. Diketahui KP Kepodang 5001 belum juga sandar. Bripka Made lantas menelepon Bripka Ujang Walia. Bripka Ujang Walia melaporkan bahwa telah mengalami musibah tenggelam di perairan Pulau Tibi dan kemudian membagikan posisinya via aplikasi perpesanan WhatsApp.
Setelah itu, Bripka Made melaporkan ke Dirpolairud Polda Kaltara bahwa telah terjadi laka laut yang melibatkan KP Kepodang 5001.
Dirpolairud Polda Kaltara lalu memerintahkan personel Ditpolairud Polda Kaltara dan personel untuk melaksanakan search and rescue terhadap anggota tim yang belum ditemukan. Pada Minggu (9/8), pukul 08.00 WITA, tim SAR menemukan 3 orang selamat dan kemudian dievakuasi. (shy/zar)
Editor : Muhammad Erwinsyah