Sebagai salah satu buah tangan Bumi Paguntaka, batik khas Tarakan jatuh bangun merebut pasar lokal maupun nasional. Namun dengan perkembangan era digital dan didukung dengan kemudahan pemasaran produk melalui e-commerce, kini batik khas Tarakan menjadi salah satu produk yang diminati pasaran lokal, nasional hingga internasional.
JANURIANSYAH
JATUH bangun batik khas Tarakan diceritakan Adi Setyo Purwanto terjadi usai dirinya bersama sekitar 20 orang lainnya mengikuti pelatihan di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta pada tahun 2010. Saat itu dirinya bersama 20 orang lainnya yang merupakan warga Tarakan mengikuti pelatihan terkait pembuatan batik.
Pria yang akrab disapa Anto Gondrong ini menceritakan, usai mengikuti kegiatan tersebut, pada tahun 2011 dirinya bersama 20 orang yang mengikuti pelatihan di BBKB Yogyakarta mulai melakukan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) yakni batik khas Tarakan, namun dalam memulai usaha yang tergolong baru di Tarakan tersebut tidaklah mudah, sehingga satu-persatu orang-orang yang sempat mengikuti pelatihan BBKB Yogyakarta harus gulung tikar, penyebabnya tidak lain pengeluaran biaya produksi yang tidak seimbang dengan jumlah pendapatan yang kurang.
“Dulu tahun 2011 hingga 2013 kita sangat sulit untuk memasarkan produk, banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya ruang pasaran yang belum ada,” tuturnya kepada pewarta, Kamis (26/9).
Bahkan dirinya sempat harus gali lubang tutup lubang untuk tetap mempertahankan eksistensi batik yang dirinya beri nama batik pakis asia khas Tarakan tersebut, dikarenakan keuntungan yang dirinya harapkan tidak kunjung datang.
“Sempat bentrok sama istri, karena mengangap usaha yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil, bahkan rasa putus asa juga sempat saya rasakan, karena keuntungan tidak ada, saya malah harus menanggung kerugian setiap bulannya dengan mengeluarkan biaya Rp 5 juta untuk gaji para pekerja saya,” bebernya.
Namun berbekal motivasi yang kuat bahwa batik khas Tarakan nantinya akan menjadi salah satu buah tangan yang dicari para pelancong yang datang ke Kaltara khususnya Tarakan, pada tahun 2014 usaha yang sebelumnya terus-terusan mengalami kerugian kini mulai merangkak naik memperoleh keuntungan.
“Daya tarik batik pakis asia khas Tarakan ada pada motif budaya lokal yang ada di Kaltara yakni Tidung, Bulungan, Dayak Kenyah dan Dayak Lundayeh, selain itu untuk warna bila batik Jawa lebih soft(lembut), untuk kita warnanya lebih ngejreng dan berani, kini setiap bulannya ada sekitar 250 lembar kain batik yang terjual, bila kita hitung omzetnya mencapai Rp 75 juta setiap bulannya,” ungkapnya.
Pameran UKM skala nasional dan internasional juga selalu dirinya ikuti sebagai upaya mengenalkan batik khas Tarakan, setidaknya dalam satu tahun dirinya selalu mengikuti tiga kegiatan pameran UKM. Dirinya menilai pameran UKM sangat penting untuk mengenalkan produk langsung kepada calon pembeli.
“Kalau pameran skala internasional paling sering di beberapa daerah di Malaysia dan Brunei Darussalam, dari pameran yang telah dilakukan, respon pengunjung yang datang ke stan kami cukup positif dan antusias untuk lebih mengenal dan mengetahui produk batik khas Tarakan,” ungkapnya.
Tingginya permintaan akan kain batik khas Tarakan di pasaran, dirinya kini mempekerjakan 8 orang yang dalam satu bulannya bisa menghasilkan 400 hingga 450 lembar kain batik khas Tarakan dimana harga perlembarnya Rp 300 ribu.
“Perkembangan dunia digital dan keberadaan e-commerce juga sangat membantu kita dalam hal pemasaran produk melalui media sosial seperti instagram dan Facebook, saat ini pemasaran sudah menjangkau seluruh Indonesia, untuk luar negeri sudah menjangkau ke negara tetangga Malaysia yakni Tawau dan Kinabalu,” ujarnya.
Selain peranan e-commerce, peranan penting lainnya ada pada ketersedian logistik yakni bahan baku pembuatan kain batik khas Tarakan, dimana diketahui bahan baku tersebut harus dipesan dari luar Tarakan.
“Bisa dikatakan logistik merupakan bagian dari gaya hidup sebagai pelaku UKM, sudah menjadi kebutuhan dasar, tanpa adanya logistik pelaku UKM tidak dapat memproduksi produk untuk dipasarkan,” tuturnya.
Peranan besar pemenuhan kebutuhan logistik ini ada di tangan penyedia jasa penyelenggara pengiriman logistik yang mana keberadaannya sangat membantu para pelaku UKM dalam memenuhi kebutuhkan logisitik. “Tanpa adanya penyedia jasa penyelenggara pengiriman logistik, mungkin kita akan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan logistik, yang perlu diketahui untuk bahan baku pembuatan batik semuanya harus dipesan di Pekalongan, Jawa Tengah,” tuturnya.
Dirinya berharap ke depan batik khas Tarakan dapat terus berkembang dan menjadi daya tarik bagi pasaran lokal, nasional dan internasional, tentunya tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Tarakan.
“Terus berkembang dan kita minta support dukungan dari warga Tarakan,” ujarnya.
Suksesnya Adi Setyo Purwanto dalam pengembangan batik khas Tarakan membuat Lapas Kelas II-A Tarakan tertarik untuk mengembangkan produk UKM serupa, sehingga pada November 2018 secara internal dilakukan pelatihan terhadap warga binaan perempuan yang berada Blok Charlie Lapas Kelas II-A Tarakan.
“Kita bekerja sama dengan batik pakis asia khas Tarakan yang dalam hal ini pembinanya Adi Setyo Purwanto untuk melakukan pelatihan terhadap warga binaan kita dalam pembuatan batik khas Tarakan,” ujar Pembimbing UKM Lapas Kelas II-A Tarakan, Muhammad Fauzan.
Mengapa Lapas Kelas II-A Tarakan tertarik dengan batik khas Tarakan, karena menilai pengembangan batik di Kaltara khususnya Tarakan masih sedikit, sehingga pihaknya ingin memberikan bekal kepada warga binaan untuk bisa digunakan untuk membuka usaha ketika kelak bebas nanti.
“Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan, sudah kewajiban memberikan pembekalan kepada warga binaan berupa pelatihan UKM, kita harapkan nantinya apa yang didapatkan bisa berguna ketika bebas nanti,” tuturnya.
Sejauh ini dalam pemenuhan kebutuhan logistik pembuatan batik khas Tarakan, pihaknya mengambil langsung dari Adi Setyo Purwanto yang juga memiliki stok bahan baku, namun bila stok kosong pihaknya memesannya dari Balikpapan.
“Pemenuhan kebutuhan logistik ini sangat penting, seperti simbiosis mutualisme semua saling berkaitan mulai dari penjual logistik, penyedia jasa pengiriman logistik, pelaku UKM dan konsumen,” ucapnya.
Terpisah Pimpinan Cabang JNE Tarakan, Ardiansyah mengatakan, e-commerce yang tumbuh sejak 2010, turut mendorong peningkatan jumlah pengiriman JNE secara nasional, dimana dalam ekosistem e-commerce terdapat 3 pilar yang harus selalu mendukung dan saling menunjang agar tiap transaksi dapat terselesaikan dengan lancar yakni logistik, fintech dan online platform.
“Dalam e-commerce pula jenis produk yang diperdagangkan secara online bisa segala macam, mulai dari produk fashion, elektronik, produk otomotif, produk olahraga, dan yang lain sebagainya, bahkan makanan jadi sampai dengan bahan makanan atau sembako,” ujarnya.
Perkembangan IT di era digital memungkinkan JNE berinovasi sehingga dapat menghadirkan value added bagi pelanggan berupa fasilitas atau produk layanan. Dapat dikatakan sejak internet mulai berkembang di Indonesia, secara perlahan JNE pun mulai melakukan digitalisasi. Diawali dengan secara bertahap mengkoneksikan seluruh jaringan, seiring dengan perkembangan jangkauan internet di tanah air yang secara bertahap mulai mencakup hingga ke pelosok.
“Dengan pengembangan berbagai hal, salah satunya dalam sektor IT terkait dengan digitalisasi ini, maka jumlah pengiriman JNE dapat terus meningkat rata–rata sekitar 30 persen tiap tahun, sehingga dari berbagai macam hal yang menjadi langkah JNE, baik dalam bisnis mau pun kegiatan lainnya, dapat dikatakan kebutuhan pengiriman menjadi selalu ada di berbagai bidang, sehingga menjadi bagian dari gaya hidup tiap orang di era digital,” pungkasnya. (***/lim)
Editor : Azwar Halim