Bukan berasal dari keluarga berada, tetapi Iskandar Zulkarnain mampu menunjukkan hasil dari didikan orang tuanya. Sosok Iskandar Zulkarnain sudah mengitari tiga kabupaten dan satu kota sebagai Pimpinan BPD Kaltimtara, di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) ini.
LISAWAN YOSEPH LOBO
DIDIKAN orang tuanya cukup keras, terutama dalam hal ajaran agama sangat ditekankan. Lulus dari bangku SMA Negeri 2 Samarinda, Iskandar Zulkarnain lebih memilih buka usaha kecil-kecilan. Termasuk kerja apa saja, asalkan menghasilkan uang. Yang terpenting di jalan yang benar.
Nyatanya kemauannya ini bertolak belakang dengan keinginan orang tuanya, yang mengingkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. “Saya lebih suka berbisnis, walaupun kecil-kecilan. Ikut kerja juga sama orang. Saya kuliah dipaksa sama orang tua. Namanya keinginan orang tua, jadi saya ikut. Tapi kalau saya tidak kuliah, mungkin saya tidak seperti sekarang ini. Buah hasil dari didikan orang tua, akhirnya saya berhasil,” katanya saat ditemui Radar Tarakan di ruang kerjanya, Rabu (28/8).
Sampai sekarang pun tak hentinya ia berterima kasih kepada orang tuanya, yang mampu mengantarnya ke gerbang kesuksesan.
Saat kuliah, Iskandar mengaku tidak semulus yang dia bayangkan. Sebab ibunya sempat beberapa kali menjual emas demi membiayai kuliahnya. Karena itu Iskandar memilih kerja sambil kuliah, untuk meringankan beban orang tuanya. “Ibu dan kakakku yang turut andil dalam kuliahku. Kalau gaji bapak hanya untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Kalau ingat masa lalu, mau menangis rasanya. Saya terus terang, di keluarga saya tidak ada yang punya jabatan sampai pimpinan. Ayah saya hanya PNS biasa di Bea Cukai, sekarang sudah pensiun. Ibuku hanya lulusan SD. Kakak saya PNS di Kantor Gubernur, yang lainnya ada di swasta dan honorer,” kenangnya.
Sejak kecil Iskandar sudah mahir di bidang hitung-hitungan, termasuk akuntansi. Hal ini pula yang menjadi bekalnya saat masuk dalam dunia perbankan. Namun yang membuat ia tertarik terjun ke dunia perbankan karena setelannya. Rapi, berdasi, dan tampak keren di pandangannya. “Saya lihat teman saya kerja di bank, kakak saya juga. Dulu kan kalau orang awam lihat kerja di bank banyak uangnya. Tampilan fisiknya keren dan gagah. Rapi dan berdasi. Kalau ikut ngaca, keren juga. Jadi saya terpacu. Saat ada tes saya ikut,” kata pria kelahiran Samarinda, 7 September 1974 ini.
Pria yang akrab disapa Jojo ini memulai kariernya di Kutai Barat pada tahun 2000 silam. Di tahun itu, ada beberapa bank yang membuka lowongan kerja. “Jadi saya tertarik ikut di BPD. Setelah ikut 4 kali tahap tes, diterima. Saya juga sempat masukkan lamaran di bank lain. Jadi ditanya, mau di sini atau di BPD. Tapi hatiku lebih ke BPD, setelah tanya ke keluarga juga lebih banyak yang menyarankan di BPD,” lanjutnya.
Pada 2010, ia dimutasi dan menjadi pimpinan di kantor cabang pembantu (KCP) Kecamatan Bongan, Kutai Barat. Tiga tahun kemudian, ia dimutasi ke Bontang, sebagai Pemimpin Bidang Layanan dan Operasional.
Setelah delapan tahun di Bontang, ia pun mendapatkan promosi jabatan pimpinan cabang di Malinau. Inilah awal ia berkarier di Kalimantan Utara, tepatnya pada 2014 lalu. Sementara Ia mulai menjabat sebagai pimpinan Cabang Tarakan pada Juni 2019 lalu. “Dua tahun di Malinau, kemudian mutasi ke KTT selama 1 tahun 8 bulan. Kemudian bergeser ke Nunukan selama 1 tahun 5 bulan. Kemudian ke Tarakan Juni 2019. Nanti, kalau dimutasi ke Tanjung Selor lagi, sudah khatam saya,” katanya sembari tertawa.
Mengitari beberapa daerah, termasuk pedalaman tentu segudang pengalaman yang dialaminya. Yang paling diingatnya saat bertugas di Kutai Barat. Saat itu masih dalam masa pembangunan. Transportasinya hanya jalur udara, menggunakan pesawat DAS, dan jalur perairan dengan kapal. “Dulu belum ada kendaraan darat. Jadi itu yang cukup berat, karena saat itu masih masa pembangunan. Tapi sekarang jalannya sudah diaspal,” katanya.
Sungai jeram pun pernah dilewatinya. Rasa takut tentu ada. Namun tantangan ekstrem itu terbayarkan dengan pesona alam yang dilalui. “Saya pernah ke daerah yang ada sungai jeram. Itu cukup berbahaya, tapi karena tugas saya tetap lalui. Tapi kalau sudah lihat pesona alamnya, rasanya terbayarkan saat melewati jeram itu,” kenangnya.
Lantas bagaimana dengan pengalamannya saat di Kaltara? Ia merasa tertantang saat membuka KCP Long Nawang, Malinau. Terutama dari segi geografisnya. “Pengiriman barang hanya lewat udara dengan biaya yang cukup besar. Ada jalur darat, tapi memakan waktu berhari-hari. Sekitar 3 hari, itupun dalam kondisi tidak banjir. Kalau banjir, bisa sampai 5 hari, karena yang kita seberangi itu sungai. Kemudian saat meninjau proyek bersama teman di Malinau, ada juga melewati sungai jeram. Takut tetap ada, tapi namanya tugas tetap saya jalani. Makanya teman-teman yang di sana (Malinau) saling support,” katanya.
Namun demi membangun daerah perbatasan, BPD masuk hingga ke daerah terpencil. Dahulu, di daerah pedalaman cara mengirim uang cukup unik. Mengirim uang dengan cara menitip ke rekan yang hendak ke kota, atau ke pos yang letaknya pun jauh dari desa. Cara ini pun berlanjut turun-temurun. “Awalnya bank masuk mereka takut. Dulu mau masuk bank, alas kakinya dilepas dan memang budayanya masih kuat. Itu saya rasakan saat di Kutai Barat dulu. Kalau bank ada di kota besar, tapi kami satu-satunya bank yang ada di perbatasan. Program Presiden Joko Widodo itu nawacita, membangun dari perbatasan atau pinggiran. Tapi kita sudah mulai sejak dahulu,” lanjutnya.
Terlepas dari perjalanan kariernya, ayah dari dua orang anak inipun lebih menekankan ajaran agama dalam mendidik anak. Didikan ini diadopsinya dari orang tuanya. Apalagi ia tidak mendampingi langsung kedua anaknya ini, tetapi tetap memantau melalui telepon. “Anak pertama di pesantren di Samarinda. Yang yang bungsu juga Insya Allah ikut kakaknya masuk pesantren. Tujuan saya mendidik anak jangan sampai terjerumus ke hal negatif. Saya ingin yang terbaik untuk anak. Kalau istri saya PNS, masih aktif mengajar di Kutai Barat. Memang jiwanya di situ, jadi saya izinkan tetap mengajar,” katanya.
Tentu ada kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga. Biasanya pun ia menyempatkan berkumpul dan menjenguk anaknya, saat dinas di Samarinda. “Kantor pusat kan di Samarinda. Kalau ke kantor pusat saya sempatkan ngumpul di Samarinda. Jadi nanti istri ke Samarinda, kami ketemu di Samarinda sekalian jenguk anak di pesantren. Ada kerinduan, tapi seperti lirik lagu akan indah pada waktunya,” ucapnya sembari tertawa lepas. (ash)
Editor : Azwar Halim