TARAKAN — Momen Idulfitri biasanya identik dengan sesuatu hal yang baru. Mulai dari baju, celana dan berbagai kebutuhan lainnya diburu warga untuk digunakan dan bisa tampil maksimal di momen Idulfitri.
Namun berbeda dengan yang dilakukan Anwar, salah seorang pembeli yang sempat ditemui media ini kala memilih pakaian bekas di Pasar Tenguyun. Mengutip lagu yang tak awam terdengar di momen Ramadan menjelang lebaran, “ Baju baru alhamdulilah, tak ada pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama”, itu juga yang diterapkan Anwar.
Tak harus selalu menggunakan pakaian baru. Ia justru lebih senang berburu pakaian bekas yang masih layak pakai di sejumlah pasar. Seperti di Pasar Tenguyun. Di pasar ini ada satu komplek yang khusus menyediakan sejumlah pakaian bekas yang dipasok dari berbagai negara.
Kata Anwar, tahun ini dia ingin mencari celana jeans dan beberapa pakaian bekas yang masih layak pakai. Menurutnya, kualitas bahan dan jahitan celana jeans tak kalah saing dengan celana jeans baru yang umum dijual. Selain itu harganya lebih ekonomis. “ Kualitasnya bagus, tahan lama, harganya murah lagi. Jadi kenapa harus cari yang baru. Asalkan kita teliti membelinya. Sebenarnya bukan soal harga juga tapi kualitas yang saya cari juga,” aku Anwar kepada Radar Tarakan, Selasa (4/6).
Diungkapkan Salma, salah seorang pedagang pakaian bekas di Pasar Tenguyun, untuk detail harga yang ditawarkan berkisar Rp 80 ribu hingga yang paling mahal yakni Rp 250 ribu khusus celana jeans.
"Alhamdulilah ada saja pembeli yang datang, yang lihat-lihat lebih banyak juga," papar Salma.
Selama berjualan pakaian bekas, menurut Salma untuk peningkatan dari tahun ke tahun atau di momen tertentu tak ada yang berbeda. Karena menurutnya, pelanggan yang datang pun biasanya hanya mencari barang-barang tertentu seperti celana, jaket, dan sweater. Untuk pakaian khusus dipakai sendiri dirasakan Farida peminatnya kurang.
"Yang paling dicari itu jaket, celana, dan sweater dengan merek tertentu. Biasanya kalau mereka pintar memilih dapat yang bagus. Lagian kan harganya juga murah," ucapnya.
Lantas apakah biasanya ada warga yang memburu pakaian bekas masih layak pakai untuk kebutuhan berlebaran? Menurut Salma ia tak bisa memastikan berapa persentasenya. Karena hanya barang-barang khusus yang paling sering diburu warga. “Mungkin yang cari celana jeans ya itu juga digunakan untuk momen lebaran. Tapi kalau khusus pakaian baju misalnya mungkin tidak banyak,” lanjutnya.
Ia juga mengakui, rata-rata barang-barang yang dijualkan dipasok dari negeri jiran, Malaysia. Meski tak begitu signifikan kenaikan permintaan pembeli, ia megaku tetap bersyukur. Karena setiap hari ia tak menampik ada saja yang datang. “Ada setiap hari pasti selalu ada walau tak ramai. Tetap disyukuri,” pungkas Salma. (ega/zia)
Editor : Muhammad Erwinsyah