Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ketika Daun Pisang Mulai ‘Naik Daun’ 

Azwar Halim • Selasa, 4 Juni 2019 | 20:04 WIB
ketika-daun-pisang-mulai-naik-daun
ketika-daun-pisang-mulai-naik-daun

 


TARAKAN – Momen perayaan Idulfitri memang menjadi hal yang paling dinanti-nanti sepanjang tahun, karena di momen inilah suasana rumah menjadi ramai berkumpulnya sanak saudara. Tidak hanya itu, sajian makanan khas lebaran pun juga yang paling ditunggu. Mulai dari buras, rendang, daging, opor ayam, dan makanan tradisional lainnya. 


Yang paling identik setiap kali perayaan Idulfitri  yakni buras, makanan khas yang dibuat suku Bugis. Alhasil, karena makanan ini terbuat dari beras yang ditanka dicampur santan dan dibungkus daun pisang,  daun pisang pun seolah ‘naik daun’ karena  paling banyak diburu pembeli.  


Seiring perkembangan zaman, makanan khas Sulawesi ini ternyata mulai menjadi makanan multikultur dan menjelma menjadi makanan khas dan wajib disantap saat lebaran bersana keluarga. Di Tarakan, sejumlah penjual daun pisang ikut kebanjiran rezeki karena kebutuhan daun pisang meningkat pesat. Sampai-sampai harga daun pisang pun melonjak. Rerata harganya berkisar Rp 15 ribu  hingga Rp 30 ribu per gulungnya. Seperti diakui salah seorang  penjual daun pisang, Rukmin. Perempuan usia 42 tahun ini mengakui dirinya kebanjiran permintaan sejak H-7 Idulfitri. Perempuan yang  beralamat di Kelurahan Mamburungan ini menyebutkan untuk harga yang ditawarkan bervariasi. Itu berdasarkan kualitas daun. 


"Macam-macamharganya, ada yang Rp 20.000 untuk tiga lembar. Ada juga yang harga Rp 15 ribu  isi tiga lembar yang muda," ucapnya.


Padahal diakui sebelumnya, harga daun pisang hanya di kisaran Rp 10 ribu per tiga lembar (pelepah) daun.  Namun karena permintaan tinggi, stok yang biasa dia sediakan dari kebun sendiri mulai menipis, harga pun dipatok seperti umum dijualkan penjual daun pisang lainnya. Ia juga mengambil stok dari tetangga untuk menutupi permintaan. “Susah carinya. Karena banyak orang mau pakai. Lain kalau hari biasanya harganya juga murah," tambahnya.


Sejauh ini, diakui Rukmin sudah menjual kurang lebih 200 lembar pelepah daun pisang. Omset yang diraupnya pun tak main-main jika dikalkulasikan keseluruhan. Rukmin enggan menyebut nilai pasti  omzet hasil jualan daun pisang miliknya. Bisa dihitung sendiri 200 lembar dikalikan kisaran harga Rp 15 ribu sampai Rp 30ribu. Keuntungannya alhamdulillah bias buat makan sudah cukup," tutupnya.


Penjual kebanjiran rezeki, berbeda dengan yang dirasakan pembeli daun pisang. Karena kebutuhan naik, berpengaruh terhadap permintaan daun pisang yang ikut naik, dan harganya ikut pula naik. Banyak pembeli mengeluhkan kenaikan harga daun pisang.   Seperti diakui Kamsiah. Perempuan yang mengaku sebagai ibu rumah tangga ini mengatakan ia cukup kerepotan dengan harga daun pisang yang melambung. Bagaiamana tidak, tentu hal ini mempengaruhi uang belanja yang telah disisihkannya. Dan ternyata di luar perkiraannya, harga daun pisang melonjak hingga 50 persen.


“Mahal semua. Biasanya Rp 10 ribu sekarang naik dua kali lipat.  Masalahnya ini tiap tahun jadi kebutuhan. Tidak bisa tidak dibeli. Jadi ya mau tidak mau, beli saja tapi jumlahnya dikurangi. Sisanya bisa masak lontong saja,” pungkasnya. (ega/zia)

Editor : Azwar Halim