Terletak di posisi strategis kota, masjid kecil satu ini tidak pernah sepi dari jemaah. Setiap harinya sedikitnya 200 jemaah menjalankan ibadah berjemaah di masjid tersebut. Masjid Al-Ikhlas,di Jalan Diponegoro, Kelurahan Sebengkok Kecamatan Tarakan Tengah.
AGUS DIAN ZAKARIA
MAULANA, takmir Masjid Al-Ikhlas mengungkapkan, masjid dengan desain unik tersebut dulunya merupakan musala yang dikembangkan hingga menjadi masjid. Tidak lain disebabkan antusias warga sekitar dan para musafir menjalankan ibadah.
“Masjid Al-Ikhlas ini berdiri sebagai musala pada tahun 1992, dibangun seorang jenderal yang cukup dikenal di Kota Tarakan kebetulan beliau sebagai putra daerah yang memiliki jiwa sosial luar biasa. Karena dulu lokasi masjid sangat jauh sehingga dibuatlah masjid ini untuk orang sekitar beribadah. Karena antusias jemaah sangat besar sehingga setelah 2 tahun berjalan akhirnya musala direnovasi dan diubah menjadi masjid. Alhamdulillah sejak 1994 ini,” ungkapnya, kemarin (12/5).
Mengalami banyak penambahan sepanjang dibangun, sedikitnya Masjid Al-Ikhlas mengalami 3 kali renovasi. Bahkan dalam waktu dekat ini, pengurus kembali merencanakan renovasi.
“Masjid ini sudah 3 kali direnovasi. Pertama peralihan musala menjadi masjid, yang kedua dan ketiga perbaikan dan perluasan masjid ini. Alhamdulillah dalam waktu dekat ini, kami berencana merenovasi total masjid ini. Insyaallah setelah Lebaran kami akan mulai pengerjaannya,” tuturnya.
Mungkin tidak banyak yang mengetahui jika masjid yang berwarna bak istana negara tersebut, merupakan masjid favorit Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, beribadah. Maulana menerangkan, masjid Al-Ikhlas merupakan masjid yang setiap hari menjadi tempat salat berjemaah dr. Khairul hingga saat ini.
“Wali Kota sering salat di sini. Bahkan sebelum jadi Wali Kota beliau setiap hari berjemaah di sini. Dia juga merupakan seorang takmir di sini. Karena rumah beliau kan tidak jauh dari sini,” ujarnya.
Rutinitas itu mulai berkurang sejak dr. Khairul mendiami rumah dinas di Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah
yang letaknya jauh dari masjid tersebut. Meski demikian, Maulana menerangkan dalam satu minggu, Wali Kota selalu menyempatkan waktu untuk salat berjemaah di Masjid Al-Ikhlas.
“Sekarang juga masih sering, cuma tidak setiap hari karena beliau sudah pindah ke rumah dinasnya. Tapi kemarin beliau hadir berjemaah asar di sini. Katanya rindu sama masjid ini,” ujar Maulana.
Di momen Ramadan ini, masjid ini juga memiliki rutinitas yang sama di saat Ramadan seperti masjid lainnya. Mengadakan buka bersama setiap hari dan terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung.
“Sama seperti masjid pada umumnya, setiap hari di bulan Ramadan masjid ini juga mengadakan buka puasa bersama. Itu hasil dari jadwal antaran warga bergilir yang diterapkan dari dulu. Sama seperti semua masjid. Masjid ini selalu terbuka untuk siapa saja yang beribadah tanpa terkecuali. Datang jam berapa pun pintu masjid selalu terbuka untuk dikunjungi,” terangnya.
Selain itu, masjid ini memiliki penyajian tidak jauh berbeda usai melakukan salat subuh berjemaah. Ialah, kultum atau siraman rohani pagi yang dimaksudkan keimanan jemaah sejak pagi hari selalu terjaga.
“Setiap hari dalam seminggu sehabis salat subuh masjid ini biasanya ada kegiatan kultum. Jadi kepada jemaah salat subuh itu tidak diperkenankan pulang selesai salat. Ada sedikit semacam asupan agama yang kami berikan sebagai penyemangat warga dalam menyambut pagi,” ujarnya. (***/lim)
Editor : Azwar Halim