Masjid Agung Al-Maarif di RT 07, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Selumit, Tarakan Tengah, merupakan salah satu masjid terbesar di Kota Tarakan. Letaknya yang strategis tidak jauh dari jantung kota, membuat masjid ini kerap dijadikan pilihan utama kegiatan ibadah dan bernuansa Islami lainnya.
AGUS DIAN ZAKARIA
SELAIN memiliki jemaah cukup banyak, masjid ini memiliki peranan penting dalam menjaga ukhuwah umat di Bumi Paguntaka. Pembangunannya melibatkan banyak pihak.
Masjid ini telah berdiri di akhir masa pemerintahan Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.
H. Fadlan, seorang pengurus Masjid Agung Al-Maarif mengungkap awalnya masjid ini berbahan kayu dan beratap daun nipah. Lama kelamaan mengalami pergeseran lokasi berdirinya karena alasan perluasan bangunan.
“Bangunannya itu dulu di di gedung Baznas sekarang. Waktu itu atapnya masih daun nipah. Setelah ada tanah wakaf akhirnya dibangunlah masjid yang besar. Dulu belum ada namanya. Orang bilang masih Masjid Selumit karena letaknya di Kelurahan Selumit. Masjid ini berdiri di lokasi Baznas itu di tahun 1966. Tapi dari data Kementerian Agama masjid ini berdiri tahun 1961 itu masih di akhir pemerintahan presiden pertama, bapak Soekarno. Nah setelah masjid di lokasi lama mengalami dua kali renovasi akhirnya dipindahkan ke tempat yang sekarang ini sekitar tahun 1996,” cerita Fadlan kepada Radar Tarakan, kemarin (9/5).
Perombakan total dilakukan pada tahun 1996 yang kala itu Indonesia sedang kesulitan. Krisis moneter mulai terasa di sebagian wilayah Indonesia. Perekonomian Kota Tarakan masih lebih baik, mengandalkan sektor perikanan. Beberapa pengusaha pun menikmati keuntungan besar dengan naiknya nilai tukar dolar Amerika. Sejumlah pengusaha kemudian menggalang dana membantu pembangunan masjid hingga dikerjakan.
“Dulu daerah Jawa mulai merasakan kesulitan, tapi ekonomi di Tarakan tidak begitu terpengaruh karena saat itu sedang jaya-jayanya ekspor udang Kota Tarakan yang mengambil keuntungan dari meningkatnya nilai tukar dolar. Sehingga ada salah satu pengusaha udang sekaligus kontraktor almarhum H. Muhiddin ini mau membantu membangun masjid ini lewat kerja sama. Dia bangunkan, warga di sini membayar lewat mencicil kepada almarhum. Tapi beliau tidak mematok dengan harga bangunan biasa karena ini rumah ibadah jadi beliau memberi keringanan pembayaran,” jelas H. Fadlan.
Warga secara bersama-sama saling bahu membahu mengumpulkan uang untuk pembangunan masjid tersebut. Solidnya persatuan umat berjuang memperbesar rumah ibadahnya.
“Kami membangunnya dengan bayar mencicil sampai bertahun-tahun kepada H. Muhiddin (kontraktor), bahkan sampai beliau meninggal utang kami belum lunas. Tapi setelah kami mendatangi keluarga beliau, akhirnya keluarga beliau memutuskan untuk mensedekahkan sisa pembayaran yang belum lunas. Jadi beliau tidak mengambil keuntungan membangun masjid ini. Dana pembangunan ini dikumpulkan dari masyarakat semua lapisan, bukan hanya warga Selumit saja, tapi juga daerah lain dan semua masyarakat semangat saling membantu agar tempat ibadah terbesar di Tarakan ini bisa berdiri,” terangnya.
Selain untuk tujuan ibadah, dibangunnya masjid terbesar pertama di Kota Tarakan ini untuk mengumpulkan umat agar dapat beribadah bersama. Sejak rampung pembangunan renovasi total, masjid ini ramai digunakan. Semakin banyak jamaahnya. Warga Kelurahan Selumit pun bangga.
“Masjid ini kan di pinggir jalan. Jadi siapa saja yang lewat bisa singgah kalau mau beribadah. Mau dari nelayan, sopir, pedagang, pegawai negeri bahkan warga yang dari jauh seperti Tarakan Utara dulu sering salat di sini. Karena dulu masjid belum sebanyak sekarang,” tuturnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti sosok pemilik tanah yang mewakafkan tanah masjid.
“Kalau persoalan wakaf saya tidak bisa menjawab karena ada beberapa warga yang mengklaim mewakafkan tanah ini. Jadi tidak enak juga kalau menyebutkan satu tidak menyebutkan lainnya. Karena belum ada yang tahu pasti orang yang mewakafkan tanah ini,” ucapnya.
Diketahui, di bulan Ramadan ini, selain agenda kegiatan sama pada masjid lainnya, Masjid Agung Al-Maarif juga menggelar kegiatan sahur bersama yang disediakan kepada jemaah yang datang secara gratis. Hal itu dimaksudkan, agar seluruh umat Islam merasakan indahnya Ramadan meski dalam keadaan sulit.
“Di sini ibadah setiap harinya khususnya saat zuhur dan magrib itu, selesai ibadah biasanya jemaah disajikan dengan kultum setelah ibadah. Siapa saja bisa memberikan kultum selagi dia memiliki niat menjalankan dakwah. Di bulan Ramadan ini tidak jauh berbeda dari masjid lainnya. Setiap berbuka kami selalu menjalankan buka bersama dan juga untuk sahur, kami juga adakan sahur bersama di masjid ini. Untuk makanannya, itu hasil sumbangan bergilir dari warga sekitar. Jadi kami bisa membantu musafir atau fakir berbuka dan sahur di masjid ini,” ungkapnya. (***/lim)
Editor : Azwar Halim