Penyebaran agama Islam di nusantara yang dimulai dari abad ke-11 yang dibawa pedagang-pedagang Gujarat dari India telah melahirkan sejarah panjang. Penyebaran yang terus berlanjut akhirnya sampai pada sebuah pulau kecil yang kaya sumber daya alam minyak yaitu Tarakan.
AGUS DIAN ZAKARIA
PENYEBARAN Islam di Kota Tarakan, tidak jauh berbeda dari penyebaran Islam di daerah lainnya. Seperti melalui perdagangan dan perkawinan dengan penduduk setempat.
Menelisik bukti perkembangan Islam di Kota Tarakan rasanya kurang pas jika tidak berbicara masjid satu ini. Ialah Masjid Jami Nurul Islam yang merupakan saksi peradaban Islam di Bumi Paguntaka.
Masjid Jami Nurul Islam merupakan masjid yang dibangun tahun 1936 yang letaknya berada di Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah. Diketahui, masjid ini telah berdiri sebelum adanya invasi tentara Jepang ke Kalimantan.
Kepala Kementerian Agama Tarakan H.M. Shaberah menyampaikan catatan sejarah Islam yang terarsip itu.
“Masjid Jami Nurul Islam merupakan masjid tertua di Kota Tarakan. Artinya masjid ini sudah berdiri sebelum datangnya Jepang ke Tarakan. Didirikan karena kawasan Pamusian atau Markoni ini dulunya termasuk salah satu pusat keramaian di Tarakan, tempo dulu. Masyarakat waktu itu sulit mencari tempat ibadah, akhirnya dibangunlah masjid ini,” ujarnya, kemarin (7/5).
Dalam perjalanan masa ke masa, masjid tersebut sedikitnya telah mengalami 3 kali peremajaan. Meski demikian, tidak ada catatan pasti mengenai tahun direnovasinya. Dulunya hanya bangunan kayu yang direnovasi mengikuti perkembangan zaman. Walau begitu, peremajaan terakhir dilakukan pada pertengahan tahun 1992 dan hingga saat ini bentuk bangunan masih dipertahankan.
“Terakhir direnovasi itu tahun 1992 dan bentuknya masih sampai sekarang. Mungkin ada sudah penambahan beberapa fasilitas tapi kalau hasil renovasinya masih tetap. Bentuk pertama bangunan ini kayu, kemudian mulai diremajakan menjadi tembok tapi hanya satu lantai dan kemudian direnovasi lagi menjadi 2 lantai,” jelasnya.
Musa selaku penjaga masjid menerangkan, masjid tertua di Tarakan tersebut setiap harinya dikunjungi ratusan jamaah. Saat ini telah berdiri puluhan masjid baru di Kelurahan Pamusian, namun masjid tersebut sama sekali tidak mengalami kekurangan jamaah.
“Kalau hari biasa jamaahnya ratusan lebih yah. Bisa sampai empat saf. Satu safnya itu bisa 40 orang. Kalau empat saf berarti sekitar 160 jamaah yang setiap hari salat isya, subuh, zuhur dan asar. Tapi kalau magrib itu lebih banyak dua kali lipat. Biasanya bisa sampai 8 saf. Jadi dulunya masjid ini digunakan seluruh warga Pamusian dan sekitarnya. Tapi sekarang kan masjid sudah banyak. Tapi dari dulu jemaah tidak berkurang,” terangnya.
Selain itu, ia menerangkan masjid ini juga memiliki rutinitas yang sama di saat Ramadan seperti masjid lainnya. Mengadakan buka bersama setiap hari dan terbuka bagi siapa saja.
“Sama seperti masjid pada umumnya, setiap hari di bulan Ramadan masjid ini juga mengadakan buka puasa bersama. Itu hasil dari jadwal antaran warga bergilir yang diterapkan dari dulu. Sama seperti semua masjid. Masjid ini selalu terbuka untuk siapa saja yang beribadah tanpa terkecuali. Datang jam berapa pun pintu masjid selalu terbuka untuk dikunjungi,” ucapnya.
Masjid Jami Nurul Islam memiliki penyajian berbeda usai melakukan salat subuh berjamaah. Ialah kultum atau siraman rohani pagi yang dimaksudkan keimanan jemaah sejak pagi hari selalu terjaga.
“Mungkin perbedaannya setiap beberapa hari dalam seminggu sehabis salat subuh masjid ini biasanya ada kegiatan kultum. Jadi kepada jemaah salat subuh itu tidak diperkenankan pulang selesai salat. Karena ada semacam asupan agama yang kami berikan sebagai penyemangat warga dalam menyambut pagi,” ujarnya (***/lim)
Editor : Azwar Halim