TARAKAN – Ada yang berbeda di Balai Adat Tidung Tarakan. Beberapa dinding di lokasi tersebut, mendapat sentuhan relief yang menggambarkan kegiatan sosial dan budaya suku asli Tarakan, suku Tidung.
Budayawan Datu Norbeck mengatakan, gambar relief yang ada di lokasi Balai Adat Tidung Tarakan menceritakan kehidupan sosial budaya dari suku Tidung. “Gambar relief ini menceritakan berbagai hal mulai dari kegiatan keseharian suku Tidung yang profesinya sebagai nelayan, keseniannya, hingga acara adatnya. Salah satunya adalah Festival Iraw Tengkayu, relief ini merupakan sumbangan mantan Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga,” tuturnya Sabtu (9/3).
Dengan adanya relief tersebut, bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Kota Tarakan. “Kita juga berharap dengan gambar relief ini, wisatawan lokal maupun mancanegara mengetahui apa arti dari gambar relief tersebut,” ujarnya.
Terkait pengembangan pariwisata Tarakan, dirinya berharap Balai Adat Tidung Tarakan bisa dilakukan pengembangan lagi ke depannya. Mengingat Balai Adat Tidung Tarakan merupakan tempat yang bisa memberikan informasi adat istiadat dan budaya suku Tidung. “Memang kita ketahui kondisi keuangan saat ini sedang mengalami defisit, hal tersebut harus kita maklumi, namun kita harap ke depan tempat ini bisa terus dikembangkan sebagai salah destinasi wisata yang dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujarnya.
Terpisah Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, mengatakan, ada dua hal penting yang akan dikembangkan untuk memajukan Kota Tarakan. “Kita tahu Tarakan memiliki banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan, tapi saat ini tidak dikemas dengan baik,” tuturnya.
Beberapa potensi pariwisata yang bisa dikembangkan di antaranya wisata kuliner. Dengan pola paket wisata makanan khas tarakan. “Wisata rekreasi di pantai juga perlu dikembangkan, karena kita punya Pantai Amal namun tidak dimanfaatkan dengan baik. Selain itu kita juga punya wisata Museum Sejarah Perang dan Museum Sejarah Perminyakan yang lebih bagus dibandingkan negara Vietnam, jika hal ini dikembangkan tentunya mendapatkan pemasukan bagi PAD Tarakan,” pungkasnya.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, Kamis (7/3) lalu menilai Kalimantan Utara (Kaltara) sangat bisa berkembang. Dengan berkembangnya pariwisata secara tidak langsung berpengaruh pada perkembangan ekonomi kecil, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pariwisata sangat erat berkaitan dengan budaya, adat istiadat, kuliner, kerajinan tangan, dan lokasi wisata.
“Seperti pompa angguk yang ada di Tarakan, saya baru pertama kali datang ke suatu kota, ternyata ada pompa angguk di pinggir jalan, adanya pompa angguk di kota ini bisa menjadi objek pariwisata Instagramable bagi turis yang datang, saya saja tadi sampai turun dari mobil untuk berfoto di pompa angguk,” ungkapnya.
Media sosial (medsos) menjadi sarana yang baik dalam upaya mempromosikan pariwisata yang ada di Kaltara, karena jangkauannya yang cukup luas. “Saat ini kebanyakan turis yang datang dari luar negeri lebih memilih Yogyakarta dan Bali sebagai tempat wisata, padahal masih banyak tempat wisata lain di Indonesia bagus untuk dituju, seperti Tarakan,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan bila potensi pariwisata digali serius di tiap daerah, bukan tidak mungkin bisa menyaingi negara Thailand yang setiap tahunnya didatangi 35 juta wisatawan asing. “Indonesia pada tahun 2014 baru didatangi 9 juta wisatawan asing, kalau sekarang mungkin sudah meningkat yakni ada 14 juta wisatawan asing,” bebernya.
Kota Tarakan dinilai mempunyai potensi untuk pengembangan pariwisata. Bila promosi yang dilakukan tepat sasaran, bukan tidak mungkin nantinya Tarakan akan membuka jalur penerbangan bagi turis negara ASEAN lainnya. (jnr/lim)
Editor : Azwar Halim