TARAKAN – Di balik keringnya/menipisnya air baku di embung yang dianggap sebagian besar masyarakat musibah, ternyata kondisi itu dianggap rizki bagi sebagian kecil masyarakat. Mungkin hal itulah yang dirasakan Ateng (34) warga Kelurahan Kampung Satu Skip. Pria yang senang memancing sejak kecil ini sudah rutin memancing di Embung Binalatung, sejak 3 tahun terakhir.
Menurut Ateng surutnya air embung memberikan keuntungan tersendiri bagi dirinya dan beberapa pemancing lain yang kerap memancing di embung tersebut. Ia menerangkan, dangkalnya embung dapat membuat ruang gerak ikan menjadi sempit sehingga hal tersebut membuatnya memperoleh lebih banyak ikan daripada saat memancing pada kondisi embung yang terisi normal.
"Lebih banyak dapatnya, kalau air embung normal biasa mancing dari jam 9 sampai jam 5 sore bisa dapat 15 sampai 20 ekor ikan kalau pas surut bisa di atas 30 ekor," ungkapnya.
Siapa sangka, kolam besar penampungan air baku bagi masyarakat Tarakan dihuni oleh beberapa jenis ikan seperti ikan mujair, ikan gabus, ikan lele, ikan nila dan ikan kepala batu. Ia menerangkan sejak pertama kali memancing sekitar tahun 2016, ia lebih sering mendapatkan ikan mujair, ikan nila dan ikan kepala batu. Menurutnya, hal tersebut juga dialami pemancing lain di embung tersebut.
"Paling sering mujair, ikan nila sama kepala batu itu asalkan umpan kita bergerak di dalam air sudan nyambar. Kalau lele ini lebih pintar yah biasanya timbul dulu di air. Kalau lihat orang dia kadang tidak mau makan. Apalagi kalau air surut begini, paling dia masuk lumpur," tutur Ateng.
Ateng menerangkan, dangkalnya Embung Binalatung meruapakan hal yang tidak diharapkan oleh pemancing seperti dirinya. Walau begitu, jika hal itu terjadi pemancing seperti tentu menyambut tersebut dengan baik. Meski mendapatkan berkah tersendiri dari mengeringnya embung, namun sebagai warga biasa ia juga kerap merasakan kesulitan dengan tidak berjalannya penyaluran air di kediamannya.
"Kami sebagai pemancing tidak pernah berharap embung kering. Karena kalau embung kering kami juga yang merasakan dampaknya. Tapi kalau keadaan ini memang terjadi. Sebagai pemancing kita manfaatkan saja keadaannya," ucapnya.
Ateng menerangkan, ikan dari hasil pancingan tersebut ia konsumsi sendiri. Selain itu ia menerangkan beberapa pemancing lain menjual hasil tangkapannya kepada salah satu pedagang di pasar. Sebagai pemancing yang merasakan manfaat embung, ia sangat berterima kasih kepada pengelola embung yang sudah memberikan izin masyarakat untuk memancing.
Bagi Ateng dan pemancing lainnya embung bukan hanya tempat untuk menyimpan dan menampung sumber air baku kebutuhan masyarakat. Namun embung juga memberikan manfaat bagi penghobi mancing dalam menyalurkan hobinya. "Menurut kami, embung ini memiliki banyak manfaat. Selain untuk penyimpanan air baku, embung ini juga merupakan wadah untuk menghindarkan warga sekitar dari banjir. Selain itu dengan adanya ikan di embungnya jiga bisa dimanfaatkan warga untuk memancing. Sangat bermanfaatlah waduk ini," pungkasnya. (*/zac/udn)
Editor : Azwar Halim