Barang bekas selalu dipandang sebelah mata, bahkan dibuang begitu saja. Karena dianggap tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Kalaupun ada yang menjualnya, dengan harga yang sangat murah. Tetapi beda lagi ceritanya barang bekas di tangan orang yang kreatif. Bisa dijual dengan harga yang mahal.
LISAWAN YOSEPH LOBO
Seperti Imran (42). Muncul di benak pikirannya untuk mengolah limbah sejak 2013 silam. Mencari teknik sembari belajar, akhirnya 2015 baru diwujudkan impiannya itu. Dari barang bekas seperti paralon dan batang pohon, disulapnya menjadi lampu hias atau lampu tidur yang berwarna-warni.
“Jadi kalau ada barang bekas yang masih bisa didaur ulang, saya sering bawa pulang. Sampai istri tegur, kenapa datang bawa sampah. Jadi saya terpikir, buat lampu,” kata Imran mengisahkan reaksi keluarganya di Ladang Sawah Lunto, Gang Bangker, RT 8, Kelurahan Pamusian.
Untuk suplai paralon bekas, pria kelahiran Tarakan, 12 April 1976 ini berdayakan tiga orang pemulung. Dari tangan-tangan pemulung inilah ia memesan dan membeli paralon bekas. Minimal paralon bekas yang ia cari, 30 sentimeter panjangnya.
Adapun panjang lampu hias yang ia buat dari paralon ini kisaran 25-40 sentimeter, dengan diameter 11,5 mm.
“Segala jenis pipa bisa dibuat. Kalau tidak ada paralon dari pemulung, sementara ada permintaan terpaksa beli di toko,” katanya.
Dari benda yang memiliki bentuk bundar dan lonjong ini, diukir dengan berbagai motif. Ada motif kembang, siluet hingga budaya Kalimantan Utara (Kaltara) dari suku Dayak.
Tentunya ada tantangan tersendiri dalam proses pengerjaannya. Apalagi motif budaya, yang dikombinasikan dengan ala modern. Nah, masa pengerjaan lampu hias ini membutuhkan waktu setidaknya 40 menit hingga dua jam, tergantung dari motif yang diukir.
Nah, khas dari lampu hiasnya ini berwarna hitam dan putih. Karena dinilai lebih elegan dan eksklusif.
“Karena bentuknya bundar, kalau salah dikerjakan pasti tidak bisa dilanjutkan. Belum lagi mencari alat atau mata bornya, itu kan ukurannya dari 0,8 mm sampai 3 mm,” katanya.
Tak hanya paralon saja. Limbah batang pohon dan kayu bekas pun bisa disulap menjadi lampu hias. Seperti batang pohon ketapang dan pelepah kelapa. Jika segala jenis paralon bisa dibuat lampu hias, berbeda pula dengan batang pohon atau kayu, yang baru dimulainya pada 2017 lalu.
Ia lebih mengutamakan keaslian bentuk dan warna dari batang pohon. Juga tidak diukir, hanya dilapisi cat yang menyerupai warna aslinya untuk mencegah dimakan rayap.
“Tidak semua kayu bisa diukir, karena mudah pecah. Tapi kami pilih batang pohon yang unik. Seperti batang ketapang yang masih muda,” terangnya.
Memanfaatkan kayu atau batang pohon bekas, bukan berarti ia keliling mencari. Tetapi limbah ini didapatinya secara kebetulan, saat melintas. Misalnya di daerah Kampung Empat, Pantai Amal, dan daerah yang masih banyak ditumbuhi pepohonan.
Itu pun harus yang bentuknya unik. Maka itu, lampu hias dari kayu ini terbilang jarang diproduksinya. Lantaran stoknya pun tak banyak.
“Jadi nggak pernah cari dengan sengaja, kalau kebetulan lewat dan ada di pinggir jalan, saya ambil,” bebernya.
Memiliki nilai seni, lampu hias dari limbah paralon dipatoknya harga Rp 175 ribu hingga Rp 225 ribu. Sementara lampu hias dari limbah kayu, Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Konon, semakin unik batang pohon, semakin mahal pula nilai jualnya.
Sepanjang produktivitasnya ia sudah menjual sebanyak 700 lampu hias dari paralon, dan sebanyak 115 dari limbah kayu. Tak lupa ia ikut sertakan setiap ada pameran. “Kalau batang pohon dikupas kulitnya kan berubah warna. Kalau warnanya putih dan unik, itu mahal,” katanya.
Tak hanya seputaran Tarakan dan Kaltara saja. Tetapi kerajinan tangannya ini sudah menjelajah hampir di seluruh penjuru Indonesia. Dari daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah Palembang.
Yang lebih menakjubkan lagi, hasil kerajinan tangannya ini pun sudah hingga ke mancanegara. Ada Kamboja, Thailand, Singapura dan Vietnam. Tak tanggung-tanggung, ia pun pernah dilirik dari luar negeri dan mengajak kerja sama. Namun apalah daya, pengurusan dokumen ekspor dan impor belum begitu terpikirkan.
“Karena ikut organisasi Asosiasi Eksportir dan Produsen Handcraft Indonesia (ASEPHI), ini kan organisasi ada di setiap negara. Saya sering ikut pameran juga,” jelasnya.
Nah, selain limbah kayu dan paralon, media apalagi yang dapat dibuat menjadi paralon? Ke depannya, ia memikirkan konsep pemanfaatan limbah kebun. Seperti lampu hias dari batang pisang.
Ia sudah mencoba membuat lampu hias dari batang pisang ini. Ternyata proses pembuatannya membutuhkan waktu yang sangat lama, sekitar dua minggu. Apalagi batang pisang ini mengandung banyak air, butuh berhari-hari dikeringkan. “Itu butuh pisau khusus untuk mengukir. Proses pengeringannya kan bau, karena mengandung banyak air dan berhari-hari. Jadi tidak enak sama tetangga,” tutupnya. (***/lim)
Editor : Azwar Halim