Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Fasilitas Taman Berkampung Dirusak

Azwar Halim • Selasa, 18 Desember 2018 | 14:29 WIB
fasilitas-taman-berkampung-dirusak
fasilitas-taman-berkampung-dirusak

TARAKAN - Wajah Bumi Paguntaka menjadi lebih indah dengan hadirnya Monumen Minapolitan. Sesuai dengan namanya, monumen yang dibangun di bundaran pertigaan Jalan Kusuma Bangsa-Jalan Sei Sesayap-Jalan Pulau Ligitan bergambar ikan bandeng, udang dan kepiting.


Ketiga komoditas itu sengaja diabadikan Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga karena menjadi hasil perikanan unggulan Tarakan. Itu sekaligus sebagai rasa terima kasih pemerintah terhadap usaha perikanan dan kelautan. “Sebagai sebuah apresiasi makanya saya coba membuat ide, ilustrasi, pemikiran, bagaimana kalau saya bikin sebuah monumen sebagai rasa terima kasih kita semuanya, kepada alam, pengusaha kita semuanya yang banyak melibatkan tenaga kerja di sektor kelautan perikanan, ribuan nih. Mana sih tandanya, belum ada. Akhirnya dibuatlah tandanya berupa monumen itu,” ujar Sofian Raga pada peringatan HUT ke-21 Kota Tarakan pekan ini.


Kehadiran monumen tersebut sekaligus memperbaiki sudut kota.


“Masa jalan siang malam lihat aspal terus. Adalah yang indah-indah biar mata juga agak sejuk. Kan nanti di mana lagi, sesuaikan potensinya,” tutur Sofian Raga.


Ia membeberkan, monumen tersebut dibuat dengan bantuan dari perusahaan perikanan dan kelautan di Tarakan karena pemerintah sedang defisit anggaran. Selain itu, juga melibatkan sejumlah seniman di Tarakan.


Monumen tersebut memiliki panjang sekitar 4 meter lebih dengan berat 4 ton, yang di atasnya mengambarkan kepiting. Pembuatan monumen tersebut memakan waktu 1,5 bulan. Monumen akan memperindah air mancur yang sebelumnya sudah mewarnai bundaran di pertigaan tersebut.


Sofian Raga berharap monumen bisa menjadi salah satu destinasi pariwisata sekaligus ikon Tarakan, seperti Kota Surabaya yang memiliki Monumen Suroboyo.


“Kenangan bagi orang luar. Mereka datang ke sini, kalau di Surabaya itu dia lihat patung Monumen Suroboyo, ada ikan hiu dan buaya. Sudah lama enggak ke Surabaya, kangen sama monumen patung itu. Nanti orang lama enggak ke Tarakan dia ingat kepiting, ingat patung bandeng, mau kembali deh,” harapnya. 


Namun, di sudut kota Tarakan lainnya, Sofian Raga prihatin dengan fasilitas Taman Berkampung di Kelurahan Kampung Empat dirusak oknum tak bertanggung jawab. Fasilitas berubah lampu taman.


“Kasihanlah. Kasihan nih kotanya sendiri kok dirusak-rusak. Kebanggaan apa sih yang kamu dapatkan juga, ngerusakin yang sudah ada. Bantu enggak, ngerusaknya iya, jangan,” sesalnya.


“Jangan merusak fasilitas tuh, itu wujud nyata bantuan. Kalau enggak bisa bantu, diam saja, itu bagus. Termasuk menjaga kebersihan, itu enggak bayar,” pesannya.


 


TEMPATKAN PETUGAS


Sementara itu, Kepala Bidang Tata Ruang dan Dekorasi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan Broto Subagyo menduga kerusakan fasilitas di Taman Berkampung disengaja oknum. “Yang jelas ulah pengunjung karena itu sengaja flexi-nya dipecah, terus rencana mau mengambil lampunya,” ujar Broto Subagyo kepada awak media ini.


Dengan kejadian itu, ke depan pihaknya berencana mengusulkan pemasangan kamera pengintai di sejumlah taman agar mudah memantau. Sebelumnya, pihaknya juga sudah menempatkan petugas keamanan untuk menjaga fasilitas taman.


DPUTR juga berencana berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam mengamankan ikon baru Kota Tarakan tersebut.


Rawannya perusakan infrastruktur sehingga pihaknya harus menjaga ekstra monumen yang baru diresmikan beberapa hari tersebut. Karena saat ini, dikhawatirkan monumen tersebut  dijadikan objek foto yang berpotensi terjadinya perusakan.


"Karena ini masih baru, jadi kami khawatirkan akan terjadi seperti kemarin patung-patung dirusak lampu kolam diambil. Jadi kami kerja sama dengan Satpol PP untuk menjaga sementara monumen ini," ungkapnya.


Sementara itu mengenai sistem penjagaan, ia menerangkan jika penjagaan dilakukan secara bergilir di malam hari. Karena menurutnya potensi perusakan infrastruktur sebagian besar dilakukan pada malam hari.


"Jadi yang jadwalnya piket malam  ditempatkan berjaga di situ, jaganya bergantian, sampai pagi. Karena dari oengalaman kemarin itu kan patung unggas dirusaknya saat malam. Karena pengamanan itu sudah dilakukan sejak malam Jumat lalu. Kalau banyak orang tidak jadi masalah kalau tidak ada orang itu yang bahaya," terangnya.


"Yang kurang lampu di bawah kepiting itu kurang dua LED, terus lampu yang dikelilingi kolam itu juga rencana mau diubah. Kalau pewarnaan kolam atau di bawah patung tiang penyangganya itu memang kami buat seperti itu," ujarnya.


Mengenai anggaran dalam pembuatan monumen tersebut, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti. Meski demikian, ia menerangkan jika pembangunan monumen tersebut adalah inisiatif Wali Kota sebagai kado HUT Tarakan di masa akhir jabatannya.


"Itu sebenarnya langsung dari Pak Wali, mungkin karena di akhir jabatan beliau memberikan kado untuk ulang tahun Tarakan karena ultah selanjutnya kan sudah wali kota baru," sebutnya.


"Jadi tulisan Minapolitan itu kan samar-samar, maksudnya karena kami mau lebih menonjolkan patungnya. Karena kalau kami tonjolkan tulisannya pandangan orang pasti fokus ke situ. Ini trik perhatian saja sebetulnya," jelasnya. (*/naa/*/zac/lim)


 


 

Editor : Azwar Halim