TARAKAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tarakan nampaknya masih memikirkan krisisnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri.
Bagaimana tidak, perbandingan antara Sekolah Dasar (SD) negeri dan SMP negeri sangatlah jauh. Bahkan, tak dapat dipungkiri besarnya minat siswa yang memilih sekolah negeri, namun tidak diikuti dengan perkembangan jumlah kuota penerimaan.
Kasi Pembinaan SD dan SMP, Wiranto mengungkapkan, karena meningkatnya jumlah penduduk di beberapa kelurahan mengakibatkan bertambahnya jumlah usia sekolah yang otomatis menambah angka lulusan SD beberapa tahun selanjutnya.
"Selama ini antara jumlah SD dan SMP bedanya sangat jauh. Sementara ada beberapa kawasan yang menjadi lumbung-lumbung kepadatan masyarakat. Salah satunya Kelurahan Karang Anyar dan Kelurahan Selumit Pantai. Kelurahan Karang Anyar itu penduduknya sekitar 28.573 jiwa. lebih banyak daripada Kabupaten KTT 23.498,” ujarnya.
“Sementara jumlah SMP negeri di Karang anyar itu cuma ada dua yaitu smpN 8 dan smpN 12. Sementara smp terdekatnya mungkin smpN 2. Idealnya perlu ada penambahan. Kemudian daerah Selumit Pantai itu khususnya beringin itu juga menjadi perhatian kami karena seharusnya terdapat SMP negeri di situ. Cuma, permasalahan sekarang adalah lahan," lanjutnya.
Wiranto mengungkapkan, yang menjadi permasalahan pemerintah saat ini dalam membangun sekolah ialah masalah lahan. Sehingga, hal tersebut tentunya sangat sulit untuk mewujudkan kehadiran sekolah baru strategis yang berada tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk.
"Kalau membangunnya sebenarnya mudah saja setiap tahun bisa diusulkan, Cuma lahannya tidak ada. Dengan tingginya minat lulusan SD bersekolah di SMP Negeri mau tidak mau Tarakan harus menambah jumlah sekolah. Tapi saat ini kita masih terus membahas mengenai lahan di kawasan penduduk seperti yang saya sebutkan tadi," tuturnya.
Ia menerangkan idealnya Kota Tarakan harus menambah 3 SMP negeri untuk menyesuaikan kebutuhan kuota bagi lulusan SD di tahun selanjutnya. Selain itu ada beberapa sekolah swasta yang sudah tidak menerima siswa baru lagi, secara otomatis SMP negeri harus menambah kuotanya agar semua siswa SD dapat melanjutkan sekolahnya.
"Mau tidak mau kita harus menyiapkan diri. Karena 2 atau 3 tahun lagi kemungkinan akan terjadi ledakan usia sekolah karena adanya ledakan penduduk. Untuk sekolah dasar masih aman karena sedikitnya ada 46 SD Negeri dan puluhan swasta yang dapat menampung siswa baru. Nah yang kita khawatirkan ini sekolah lanjutannya nanti," terangnya.
Ia melanjutkan, sejauh ini pihaknya masih mengupayakan penambahan SMP Negeri dengan mencari lahan yang strategis. Selain itu, saat ini pihaknya masih mengupayakan pembangunan gedung smpN 11 yang kegiatan belajar mengajarnya sudah dioperasikan. Mengenai lahan yang terdapat di perbukitan kawasan Karungan, merupakan daerah yang kurang layak Karena lokasinya berada di antara jurang. Selain itu, kondisi tekstur tanah di kawasan itu juga dianggap kurang aman karena berpotensi terjadi kelongsoran. "SMPN 11 saja sekarang sudah hampir 3 tahun berdiri bangunannya belum ada. Lahannya ada cuma dari segi kelayakan lahannya kurang layak untuk didirikan bangunan. Karena lokasi berdekatan dengan jurang sangat tidak aman. Informasi yang kita dapat dari PU itu belum bisa dilakukan pemerataan mungkin kalau ada anggaran lebih besar baru bisa dilakukan pemerataan gunung itu," pungkasnya. (*/zac/udn)
Editor : Azwar Halim