TARAKAN - Hujan yang mengguyur Bumi Paguntaka belakangan ini menjadi berkah bagi PDAM. Jika sebelumnya PDAM sampai putar otak untuk memenuhi kebutuhan air di Tarakan karena musim kemarau, namun di musim hujan ini jumlah air yang ada di embung menjadi penuh, sehingga cukup untuk digunakan masyarakat Tarakan.
Kepala Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan, Usman Assegaf mengatakan bahwa saat ini kondisi Embung Persemaian memiliki kapasitas air yang penuh, hanya saja jika tidak terjadi hujan kembali, air di dalam Embung Persemaian hanya akan bertahan selama delapan hari saja.
“Kalau tidak ada hujan, lewat 8 hari airnya habis lagi,” katanya.
Untuk diketahui, Embung Persemaian di Kota Tarakan mampu menampung air hujan sebanyak 130.000 kubik, yang alirannya tersebar hingga ke Selumit Pantai, Selumit Darat, Gusher, Korpri, dan Lingkas Ujung.
Sementara itu, lokasi Embung Kampung Satu sampai saat ini baru menampung air hujan mencapai 40 persen, dengan luas embung 500.000 kubik. Nah, karena tinggi air hujan di Embung Kampung Satu baru mencapai 40 persen, maka air tersebut belum dapat digunakan secara penuh karena Embung Kampung Satu biasanya digunakan secara penuh oleh masyarakat Kampung Bugis.
“Kampung Bugis jumlahnya 40 persen, jadi itu harus disuplay dari Embung Kampung Satu,” jelasnya.
Dalam penggunaan air Embung Kampung Satu, PDAM menggunakan 40 persen air sungai dan 60 persen Embung Kampung Satu. Namun sampai saat ini penggunaan air kearah Kampung Bugis belum dapat digunakan, sehingga masyarakat Kampung Bugis hanya dapat menggunakan air sungai.
“Kampung Bugis saat ini masih normal airnya karena ada hujan, kalau tidak ada hujan, sungainya jadi kering. Nah, biasanya kalau sungai kering, itu air di Embung Kampung Satu yang diharapkan, tapi air Embung Kampung Satu belum bisa digunakan,” jelasnya.
Oleh sebab itu, penggunaan air Embung Kampung Satu baru dapat tersebar sampai ke Kampung Bugis apabila keadaan air embung sudah penuh. Usman menjelaskan, bahwa curah hujan yang terjadi belakangan ini hanya berada di titik perkotaan, sedangkan kawasan Kampung Satu memiliki curah hujan yang tidak begitu sering dan deras.
“Memang airnya ada, tapi airnya tidak sampai ke permukaan pipa, jadi belum bisa disedot (air embung) karena masih gantung,” ujarnya.
Sementara itu, penggunaan air sungai tadah hujan, tergatung pada curah hujan yang terjadi di Tarakan. Untuk itu, jika tidak terjadi hujan, maka wilayah Kota Tarakan akan menjadi kering.
“Jadi kalau namanya tadah hujan, itu hanya nunggu hujan. Dalam embung itu kan ada yang sungai, kalau di Tarakan ini tidak ada sungai, tapi ada sungai kecil di Kampung Bugis dan Juata Laut, jadi itu langsung menggunakan air sungai. Tapi wilayah Persemaian dan Kampung Satu, itu pakai embung,” tuturnya.
Oleh sebab itu, penggunaan air Embung Kampung satu membutuhkan sebanyak 60 persen lagi ketinggian air baru dapat digunakan, namun secara operasional, jumlah air saat ini masih terbilang stabil dan dapat bertahan antara 8 hingga 20 hari saja.
“Makanya kalau lewat dari 20 hari, semuanya jadi panik karena tidak ada air. Kota Tarakan hanya membutuhkan hujan dengan produksi air mencapai 1.500.000 kubik per bulannya,” pungkasnya. (*/shy/udn)
Editor : Muhammad Erwinsyah