TARAKAN - Tiga ekor beruang madu di dua kandang besi di dalam Hutan Kota Sawah Lunto-Skip, Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah yang diduga sakit dan mengalami stres, dalam tahap pemeriksaan oleh tim kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, dari Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) Tarakan.
Tim kesehatan yang tiba di lokasi sekira pukul 09.20 WITA itu, akan melakukan pengambilan sample untuk feses atau kotoran dari beruang tersebut untuk segera dilakukan pemeriksaan apakah dalam tubuh ketiga beruang terdapat cacing.
“Secara kasatmata memang terlihat kurus. Namun belum pada tahap terlalu parah, biasanya kalau hewan itu sakit, maka akan berimbas pada nafsu makannya. Tapi ini, nafsu makannya masih bagus. Maka dari itu, rencana pengambilan sampel untuk fesesnya untuk pengujian cacing. Baru itu yang bisa kami lakukan, dia cacingan atau tidak,” ungkap drh. Wikan Adi.
Terkait apakah beruang madu ini terkena penyakit pankreas pada pencernaannya, Wikan belum dapat menjelaskan secara pasti. Dikarenakan untuk memastikan penyakit itu, perlu dilakukan uji laboratorium lebih lanjut.
“Kami belum punya laboratorium untuk pengambilan sampelnya dan memang cukup kesulitan dengan hewan liar seperti ini dan tentunya butuh biaya juga,” jelasnya.
Menurut Wikan, sapaan akrabnya, untuk bisa memperbaiki nutrisi beruang tersebut dapat diberikan makanan berupa susu dan pisang. Sedangkan pola kandang sudah terlihat bagus dan memadai untuk ditempati. “Dari segi lingkungan saya kira juga mendukung tidak terlalu ramai dan sejuk juga, mungkin ini pengaruhnya ke stres. Kalau dia kelihatan orang, akan terlihat takut,” bebernya.
Namun saat ditanyakan lebih detail soal ketiga beruang madu tersebut, Wikan tidak dapat menjelaskannya lebih rinci karena bukan pakar beruang. Hanya dirinya pernah mengikuti cara memberi makan beruang.
“Kebanyakan memang pisang. Karena kami enggak mempelajari khusus tentang beruang, jadi orang yang biasa di konservasi lebih paham,” jelasnya lagi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan Supriyono mengatakan untuk memastikan penyakit beruang tersebut harus dilakukan pemeriksaan darah dan kotoran. Permasalahannya kini ialah biayanya yang mahal dan juga di Tarakan tidak ada laboratorium pendukung. “Jadi kalau untuk mengetahui penyakit apa, pastinya harus dibawa keluar. Namun itu tadi, biayanya yang tidak murah. Dan kami tidak ada anggaran untuk itu,” bebernya. (eru/lim)
Minim Anggaran, Cuma Periksa Kotoran
Editor : Azwar Halim