TARAKAN – Tahun ini PDAM Tirta Alam sudah bisa memanfaatkan air baku dari Sungai Andulung dan Rawasari. Adanya tambahan jumlah air baku tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan krisis air yang terjadi di Bumi Paguntaka ketika musim kemarau.
Dirut PDAM Tirta Alam Said Usman Assegaf mengatakan, rencana pemanfaatan sumber air baku dilakukan pada Desember tahun ini.
“Bila sesuai dengan rencana, tahun ini sudah bisa dimanfaatkan untuk air bakunya, kalau untuk pembuatan Embung Andulung dan pengoperasian Embung Rawasari masih dalam proses pengerjaan,” tuturnya, Kamis (13/9).
Khusus air baku yang ada di Sungai Andulung, dimanfaatkan melalui intake (lubang asupan) yang terhubung dengan saluran pipa air. “Pipa air sepanjang 11 km ini nanti akan mendistribusikan air baku dari sungai Andulung ke Embung Binalatung,” bebernya.
Sementara Embung Rawasari sejauh ini belum bisa beroperasi karena masih dalam proses pengerjaan. Embung dengan anggaran pembangunan sebesar Rp 64 miliar tersebut hanya bisa dimanfaatkan air bakunya saja.
“Embung yang memiliki luas 3,22 hektare tersebut nantinya ketika sudah beroperasi bisa menampung air baku hingga 112 ribu meter kubik,” bebernya.
Soal pengelolaan air baku menggunakan air laut, dirinya menilai hal tersebut sulit untuk direalisasikan, karena biaya operasinya yang cukup mahal.
“Saya sudah pernah ketemua orang dari Belanda dan Jerman menawarkan teknologi itu, tapi setelah saya mengetahui biaya untuk mengoperasikannya, saya rasa tidak bisa direalisasikan, karena sangat mahal,” tuturnya.
Mahalnya biaya operasi dalam pengelolaan air laut menjadi air baku untuk didistribusikan ke masyarakat tentunya berdampak pada harga air tersebut.
“Harga air sekarang saja kita mau naikin banyak masyarakat yang berteriak, yang jelas tidak ada satu pun PDAM di Indonesia yang menggunakan teknologi, karena biaya operasinya yang cukup mahal,” urainya. (jnr/lim)
Editor : Muhammad Erwinsyah