Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tambak Kecil Potensi Panen Besar, Begini Caranya....

Muhammad Erwinsyah • Senin, 10 September 2018 | 10:24 WIB
tambak-kecil-potensi-panen-besar-begini-caranya
tambak-kecil-potensi-panen-besar-begini-caranya

TARAKAN – Direktorat Jenderal Perikanan dan Budidaya pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai petani tambak di Kaltara belum dapat meninggalkan sistem pengolahan tradisional. Padahal usaha sistem tersebut berbanding terbalik dengan hasil yang dicapai.


KKP pun mengenalkan program pengolahan modern yang diklaim dapat meningkatkan hasil produksi yang lebih besar meski di areal tambak yang kecil.


H. Jamaluddin Jaffar, petambak yang menjadi inisiator program ini meyakini apa yang diperkenalkan KKP dapat diterapkan di Kaltara. Petani tambak memiliki masa depan yang lebih baik, jika program tersebut dapat dilakukan.


“Di sini saya lihat tambak-tambak ukurannya semua cukup besar, tapi hasilnya tidak seberapa. Padahal mestinya itu 50 ton paling rendah per hektare,” ungkapnya kemarin, (8/9).


Menurutnya, selama ini petambak Tarakan berpatokan pada luas tambak untuk mendapatkan hasil besar. “Mindset, atau cara berpikir kita selama ini bukan pada pengolahannya. Tapi pada ukuran tambaknya. Padahal walaupun besar hasilnya juga rendah,” tuturnya.


Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan dan Budidaya pada KKP Slamet Subiakto mengungkapkan, sistem modern yang ditawarkan pemerintah saat ini adalah, penataan luas tambak, kedalamanan air tambak, pergantian benih dan pengelolaan menggunakan teknologi.


“Yang pertama tambaknya itu harus ditata dengan baik, juga dengan sistem yang baik. Jadi, sistem yang baik itu tambaknya jangan luas-luas. Kenapa, karena dengan ukuran kecil mudah untuk pengelolaannya, mudah mengatur. Lebih gampang. Terus yang kedua kalau tambak udang kedalamannya juga harus sesuai dengan budidaya udang. Ketiga, benihnya haru diketahui cara membedakan mana benih yang terkontaminasi virus, mana yang tidak. Kalau benih terkontaminasi virus, pertumbuhannya lambat. Pengelolaannya dengan teknologi. Yah, jadi ini perlu ada sentuhan teknologi, yang dinamakan pengelolaan tambak berkelanjutan,” terangnya.


Diungkap Slamet, sebagian besar bibit udang di Indonesia telah terkontaminasi virus. “Kalau induk udang yang melahirkan benur-benur itu, setelah kami cek di berbagai tempat di Indonesia ini semuanya sudah terkontaminasi penyakit. Sehingga benih yang harus digunakan adalah benih bebas dari penyakit yang berasal dari induk sehat. Yaitu melalui sistem pemuliaan trading program yang sekarang ada di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara. Di sana sudah mengembangkan induk-induk unggul, udang windu yang bebas dari penyakit,” pungkasnya.


Ia berharap dengan diterapkannya sistem pengolahan yang modern dapat berpengaruh besar terhadap perekonomian Kota Tarakan. “Saya berharap dengan pengenalan pengelolaan baru ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani tambak,” tutupnya. (*/zac/lim)


 


Tambak Kecil Potensi Panen Besar


 

Editor : Muhammad Erwinsyah