Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

MENGHARUKAN...!! PMI Kaltara Pertemukan Keluarga yang Terpisah Sejak 20 Tahun Lalu

Muhammad Erwinsyah • Rabu, 5 September 2018 | 00:17 WIB
mengharukan-pmi-kaltara-pertemukan-keluarga-yang-terpisah-sejak-20-tahun-lalu
mengharukan-pmi-kaltara-pertemukan-keluarga-yang-terpisah-sejak-20-tahun-lalu

Di balik perjuangan para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalimantan Utara (Kaltara) di Lombok, terselip banyak kisah. Tidak hanya sebagai pelayan kesehatan bagi para korban, para relawan juga berkewajiban untuk mengembalikan keberanian para korban, menghilangkan trauma, bahkan menyatukan kembali keluarga yang sempat terpisah. Empat relawan, Amrin, Desy Kurniasari, Muhammad Syarif, dan Maria Imakulata Ose melakukannya.


MEGA RETNO WULANDARI


HARI pertama menginjakkan kaki di Lombok, empat relawan PMI Kaltara disambut gempa berkekuatan 7,0 skala richter. Tentu ini awal yang cukup sulit dan mengejutkan, perasaan panik dan khawatir sudah tidak dapat dibendung lagi.


Meski demikian, keempatnya tetap bertekad untuk menyelesaikan tugas yang telah diinstruksikan PMI Kaltara. Dengan bekal pengetahuan tanggap darurat yang baik, keempatnya membuktikan bisa menyelesaikan tugas hingga kembali ke tanah kelahiran.


Hal itulah yang diungkapkan pendamping tiga relawan kesehatan Kaltara, Amrin. Diceritakannya, selama empat belas hari berada di Lombok gempa susulan terus bersambut. Hingga mereka terbiasa setiap kali gempa datang.


“Alhamdulillah, relawan Kaltara sangat diakui karena mereka bekerja sesuai prosedur yang ada, makanya kami tidak membuka untuk umum karena menjadi relawan itu harus menguasai ilmu kepalang merahan terlebih dulu, karena kita tidak sama dengan lembaga yang lain, jadi empat orang inilah yang kami maksimalkan,” paparnya.


“Jadi memang sempat gugup, karena tempat yang ditugaskan teman-teman ini di Lombok Timur pusat gempanya. Sempat saya tanyakan, apakah masih mau lanjut atau bagaimana. Mereka tetap mau lanjut, tetap semangat dan safety, wajah ketakutan itu pasti ada, tetapi wajah ingin membantu lebih besar sehingga mereka mengatakan sudah mewakafkan dirinya, apapun yang terjadi  bekerja sesuai prosedur dan sisanya diserahkan kepada Tuhan,” tambahnya.


Mereka pun menyaksikan langsung bagaimana kepanikan masyarakat saat gempa berkekuatan lebih besar dari sebelumnya melanda Lombok. Semua orang berlarian, gedung hancur, menara-menara tinggi melambai-lambai seakan tak sanggup lagi berdiri kokoh di atas bumi.


“Jadi kalau bisa kami istilahkan bantal di sana dan di sini sama empuknya, tapi tidurnya lebih nyaman di sini daripada di sana. Karena kami tidur itu benar-benar sambil menjaga diri, dan siaga,” ucapnya.


Berada di lokasi bencana alam, berbagai risiko bisa saja datang. Kekhawatiran keluarga pun tidak dapat dibendung lagi, meski demikian keempatnya tetap meyakinkan diri dan keluarga serta memohon doa untuk keselamatan.


“Sudah pasti cemas, jadi kami diingatkan mereka agar  selalu waspada,” ungkap relawan pria yang pernah menjadi relawan gempa dan tsunami Aceh 2005 lalu.


Selama bertugas berbagai kejadian dan pengalaman tak terlupakan pun dirasakan keempat relawan, salah satunya Amrin yang bertugas sebagai koordinator bidang hubungan keluarga, bisa menjadi saksi pertemuan ibu dan anak yang terpisah selama 20 tahun lamanya.


“Ada seorang ibu sudah terpisah 20 tahun sama keluarganya, jadi ada anaknya  yang ada di Kutai Kartanegara menghubungi hotline PMI, setelah kami dapat nomornya langsung kami antar ke sana, proses pencariannya memang cukup sulit. Tapi akhirnya kami bertamu dengan ibu tua berusia sekitar  60 tahun, dia tidak menyangka. Dia bahagia sekali setelah kami coba sambungkan dengan anaknya,” ungkapnya.


Pengalaman yang mengharukan itulah yang masih terus terngiang-ngiang di pikiran Amrin. Mempertemukan ibu dan anaknya, menjadi kisah yang sangat menyentuh baginya. Ini menjadi bukti bahwa tugas relawan tidak hanya menyalurkan bantuan, namun juga menyatukan keluarga yang terpisah.


Diakui Amrin, sambutan masyarakat Lombok kepada para relawan pun sangat luar biasa ramahnya. Bahkan tidak jarang para relawan diberikan kopi buatan masyarakat setempat, dan berbagi makanan.


Dirinya menyebut saat ini para korban bencana gempa di Lombok masih sangat membutuhkan bantuan, terutama terpal untuk membuat perlindungan sementara. Sebab selama Gempa masyarakat tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah.


“Sampai sekarang bantuan memang belum terpenuhi secara merata, banyak sekali yang dibagikan tapi belum semua terkaver, karena kebutuhan mereka semakin bertambah. Apalagi selama gempa ini mereka banyak kehilangan mata pencaharian, sampai saat ini pun belum ada yang memberikan layanan di dalam rumah sakit, semuanya di luar dengan tenda darurat,” jelasnya.


Selain itu, para masyarakat korban gempa juga membutuhkan trauma healing. Karena mengingat kerusakan akibat gempa yang sangat parah ditambah timbulnya korban jiwa. “Jadi sepanjang jalan itu bisa dilihat gedung dan rumah banyak yang rusak, aktivitas perekonomian juga drastis terhenti, perlu waktu untuk melakukan pemulihan itu,” ujarnya.


Bahkan saat keempat relawan PMI Kaltara kembali ke Kota Tarakan, mereka pun masih memikirkan rekanan relawan yang masih bertugas di Lombok.


“Saat kembali ke Tarakan, saya hanya kepikiran sama teman-teman yang bekerja di sana. Kalau trauma tidak, kami memang dianjurkan untuk membuat psyco social support diri kita masing-masing sebelum pulang, misalnya jalan-jalan dalam bentuk liburan. Akhirnya saat pulang ada cerita lucu membuat kami melupakan kejadian-kejadian duka di sana,” tutupnya.


Amrin sendiri nantinya berencana akan kembali ke Lombok pada 24 September mendatang untuk bergabung tim relawan. (***/lim)

Editor : Muhammad Erwinsyah