TARAKAN – Musim yang selalu berubah-ubah membawa dampak yang besar bagi ketersediaan air di Bumi Paguntaka. Krisis air kembali dialami masyarakat.
Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Usman Assegaf mengatakan kondisi embung saat ini cukup kritis. Meskipun hujan, namun ketersediaan air di embung hanya bertahan selama 8 hari saja, selebihnya memanfaatkan aliran sungai kecil. Jika hujan tidak turun, meskipun ada embung tetap saja tidak dapat digunakan karena tidak ada air sama sekali.
"Embung membutuhkan hujan untuk dapat menampung air. Karena Tarakan tidak memiliki sungai yang besar seperti daerah lainnya," Kata Usman.
Konsumsi air di Tarakan memang cukup besar, satu hari saja membutuhkan air sampai 35 ribu hingga 45 ribu kubik, sedangkan produksi hanya 1,5 juta perbulannya. Jika hujan yang turun tidak deras dan hanya di beberapa tempat saja maka, membutuhkan waktu satu bulan untuk dapat memenuhi debit air di setiap embung.
"Jika hujan deras dan terus-menerus maka hanya membutuhkan waktu 5 hari saja," ungkapnya.
Tetapi yang menjadi masalah yakni, hujan di Tarakan biasanya bersifat lokal. Atau tidak setiap tempat akan turun hujan, hanya di beberapa tempat saja. Jika hujan terjadi di Kampung Satu saja dan tidak di Persemaian, otomatis embung persemaian tidak akan terisi air.
"Bisa harap hujan saja, kalau bisa lima sampai enam kali baru bisa memenuhi embung," ungkapnya.
Saat ini kondisi embung Kampung Satu, masih bisa bertahan empat hari, sedangkan embung Persemaian kering total dan tidak dapat diambil kembali airnya. Karena hujan hanya satu hari saja hanya bisa menutupi permukaan embung saja. Karena kondisi Embung Persemaian sudah cukup kering. Bahkan satu pompa milik PDAM Tarakan sempat terbakar karena menarik lumpur yang ada di embung.
"Kalau lumpur yang sudah naik, maka tidak dapat diambil lagi airnya. Itu sudah mencapai batasnya," ungkapnya.
Untuk mengatasi hal ini, pihaknya mengambil air dari embung cadangan yakni di wilayah Bengawan. Dari Embung Bengawan sendiri, debit airnya hanya bisa diambil sebanyak 80 liter per detik, tetapi kebutuhan air mencapai 180 liter per detiknya. Sehingga yang dapat disuplai, hanya sebagian pelanggan saja yang bisa menikmati, sebagiannya lagi tidak akan bisa terpenuhi.
"Umumnya bagian perbukitan itu tidak akan mendapatkan air, biar dipaksa juga tidak akan dapat. Karena tekanan air yang biasanya 180 liter per detik, kemarin turun mencapai hanya 60 liter per detiknya," jelasnya.
Sama halnya dengan kondisi Embung Kampung Satu, saat ini masih normal tetapi debit air sudah mulai menurun. Jika terus menurun dan hujan tidak turun selama satu minggu, maka air tidak dapat diambil lagi. Jadi kondisi Tarakan yang merupakan pulau, dan tidak memiliki aliran sungai yang besar hanya dapat mengandalkan air hujan saja.
"Kami berharap masyarakat maklum, dan sebisa mungkin untuk menghemat air yang ada. Jika bisa menampung air, karena sewaktu-waktu jika embung sekarat, masih bisa mendapatkan air," pungkasnya.
PASOK AIR BAKU KE SEKATAK BELUM DIREALISASIKAN
Lagi-Lagi, PDAM Tirta Alam Tarakan kekeringan air baku di beberapa embung. Akibatnya, beberapa sambungan ke rumah-rumah warga ikut terhambat bahkan tak dialiri air bersih sama sekali.
Sulitnya air baku di Kota Tarakan ini bukan hal pertama kalinya. Tepat Tahun 2016 lalu, PDAM Tarakan sempat mengalami hal serupa sulitnya mendapatkan air baku. Dua embung yang ada, ternyata belum mampu dengan maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat selama ini. Jika tak hujan, maka embung pun tak dapat mengalir.
Lalu bagaimana dengan pasokan air baku ke Sekatak Buji, Kabupaten Bulungan yang sempat dicanangkan untuk dilakukan penyambungan?
Disinggung hal tersebut, Direktur PDAMTirta Alam Tarakan Usman Assegaf mengungkapkan jika hingga saat ini pihaknya masih kesulitan dalam hal anggaran, dikarenakan memakan biaya yang cukup besar.
“Dua tahun sudah ni kami mengurus itu. Baik dari Gubernur Provinsi Kaltara dan Wali Kota Tarakan juga sudah membuat surat bahkan hingga ke Kementerian. Namun memang lagi-lagi tinggal anggarannya saja yang belum,” ungkap Usman.
Soal perencanaan, lanjut Usman juga sudah selesai dan tidak ada masalah. Bahkan dirapat terakhir dia mengetahui ada 13 daerah di seluruh Indonesia salah satunya Tarakan yang sedang mengusulkan bantuan ke pusat.
“Juga termasuk Papua dan 13 wilayah provinsi lainnya yang sedang mengusulkan dan memang kami ini harus punya sistem regional antara kabupaten dan kota untuk pemenuhan air baku,” jelasnya
Nah persoalannya ialah ada pada anggarannya. Pipa penyeberangan antar satu wilayah dengan wilayah lainnya bisa menggunakan anggaran hingga Rp 2 triliun.
“Itu baru pipa, belum instalasinya. Jadi kalau perhitungan kasarnya itu kira-kira Rp 10 triliun lah,” bebernya.
Apalagi yang dihadapkan saat ini, mau mendekati pemilihan dan pastinya menterinya akan ganti baru lagi. “Dua tahun mengurusnya. Sekarang tinggal siapa lagi menterinya yang mendukung,” ujarnya. (*/naa/eru/nri)
Judsm: Air Tidak Mengalir, Embung Mengering
Editor : Muhammad Erwinsyah