TARAKAN – Indonesian City Expo (ICE) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) pada 24-28 Juli membawa dampak perekonomian yang cukup baik bagi Tarakan. Transaksi selama kegiatan itu berlangsung mencapai Rp 17 miliar.
Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga mengatakan, sejak awal pembukaan hingga penutupan, antusias masyarakat sangat tinggi. Semua stan kota yang berpartisipasi dengan menampilkan produk unggulannya dapat diketahui pengunjung yang ada.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan memetik keunggulan dari setiap daerah yang hadir. “Hari kedua banyak produk-produk unggulan yang sudah habis,” katanya.
Sehingga kualitas dan tampilan dan produk-produk dari berbagai kota ini memiliki nilai jual yang bagus dan tinggi, termasuk Tarakan yang juga tidak kalah menariknya. Ini menjadi salah satu momen yang sangat penting, menjadi salah satu strategi untuk mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Tarakan. “Karena di sini dari usaha mikro, kecil dan menengah juga ikut berperan, jadi banyak hal positif yang dapat diambil,” ungkapnya.
Sofian merincikan, seperti dalam City Expo misalnya, transaksi diperkirakan lebih dari Rp 2 miliar. Di luar City Expo diperkirakan Rp 15 miliar lebih. “Sehingga kegiatan besar seperti ini perlu terus dilanjutkan, tidak hanya dengan konteks kegiatan pemerintah. Tetapi juga untuk dunia usaha, perusahaan, industri, olahraga, dan kesenian juga bisa dengan skala nasional bahkan internasional,” tambahnya.
Sementara itu, stan Kabupaten Tana Tidung yang juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mendapat keuntungan yang banyak. Bukan hanya keuntungan karena dapat menjual berbagai produk dari Tana Tidung, tetapi dapat mengenalkan seni, budaya, hingga wisata alam kepada para pengunjung. “Keuntungan kami mencapai jutaan rupiah, dan semua barang habis dibeli masyarakat. Ini sangat meriah dan kami harap akan ada kegiatan seperti ini lagi,” ungkap Mulyadi Saputra, Ketua UKM KTT.
Pihaknya menawarkan berbagai produk UKM, mulai dari makanan seperti keripik tudai dan kerang, kerajinan rotan khas, dan batik cap. Diakuinya, produk-produk tersebut diproduksi secara berkelanjutan, memenuhi permintaan dari luar daerah. “Kami ingin memerkenalkan daerah kami, dengan dapat bonus barang yang kami jual laris dan laku,” tuturnya.
Senada dengan pelaku UMKM Kota Metro, Lampung, Hasia (38) yang juga meraup keuntungan mencapai Rp 30 juta. Diakuinya selama tujuh kali mengikuti Rakernas Apeksi, masyarakat Tarakan sangat antusias. Bahkan setelah dua hari berbagai barang dan produk yang dijualnya dan hampir habis. “Saya jual perhiasan, aksesoris, kaligrafi, batik, dan songket. Yang paling disukai itu perias berlapis emas. Saya harap bisa ikut kegiatan seperti ini lagi di Tarakan,” urainya.
PALING LARIS, OLEH-OLEH KHAS
Selain produk UMKM Center, pengunjung atau tamu dari luar juga kebanyakan berburu oleh-oleh khas Tarakan di Pasar Batu. Salah seorang pedagang, Fany (24) mengaku selama berlangsungnya Rakernas Apeksi, para tamu dari luar kota berburu oleh-oleh. Adapun produk khas Tarakan yang diburu adalah ikan tipis, udang kering, cumi kering dan jambal. Tak hanya bahan baku, aneka camilan seperti amplang yang diolah dari hasil laut.
“Pastinya khas Tarakan, ada juga barang Malaysia. Karena banyak orang kantoran, jadi beli saset,” tuturnya kepada Radar Tarakan.
Apalagi harganya cukup terjangkau, ikan tipis dipatok mulai dari harga Rp 20 ribu hingga Rp 65 ribu. Tak hanya dalam bahan mentah, ia juga menjual ikan asin yang sudah matang. Satu pak dihargai Rp 25 ribu. “Ikan tipis ada juga yang dijual per kilogram, tapi jarang. Nah yang paling laris itu ikan asin yang sudah matang,” jelasnya.
Saking banyaknya yang berburu ikan tipis, sebanyak 50 stok dalam sehari laku terjual. Bahkan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen, lantaran terbatas.
Ia mengaku belakangan ini sulit mendapatkan produksi ikan tipis. Hal ini kemungkinan disebabkan cuaca yang kurang bersahabat dan gelombang tinggi. “Kemarin juga produksinya kurang, bahkan sampai sekarang belum ada lagi stoknya padahal peserta Apeksi sudah pulang,” lanjutnya.
Dengan adanya kegiatan nasional yang dihadiri 95 kota termasuk Tarakan, tentu berdampak besar bagi para pedagang. Ia mengaku omzetnya meningkat drastis. Dalam satu hari, pendapatannya mencapai Rp 5 juta ke atas. “Kalau hari biasanya sepi, tapi dengan adanya even seperti apeksi ini bisa sampai Rp 5 juta ke atas,” bebernya.
Senada yang dikatakan Amrullah. Pemilik Toko Wahyu ini mengaku, puncaknya peserta berburu oleh-oleh khas Tarakan sejak 26 Juli kemarin. Bahkan sejak pukul 07.00 Wita, pengunjung mulai berdatangan hingga menjelang magrib.
“Ikan tipis, sama amplang banyak yang cari. Ada produk dari Malaysia seperti kue atau kerupuk,” kata Amrullah.
Mulai dari harga Rp 20 ribu hingga Rp 65 ribu, adapula ikan tipis yang diberi bumbu dengan harga Rp 28 ribu. Olahan laut yang dikeringkan ini memang cukup mahal dan banyak diminati, Rp 115 ribu per kilogram.
“Udang kering, cumi kering, amplang banyak yang cari. Kalau amplang murah saja, Rp 14 hingga Rp 15 ribu. Udang kering Rp 50 ribu untuk kemasan 400 gram,” lanjutnya.
Jika dibandingkan hari biasanya, ia mengaku omzetnya ada peningkatan.
“Pasti ada perubahan, yang jelasnya ada perubahan dari hari biasanya,” tutupnya. (*/naa/*/one/lim)
Lima Hari City Expo, Raup Puluhan Juta
Editor : Azwar Halim