Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ini Alasan Kenapa Kantong Darah Harus Dibayar Pasien

Azwar Halim • Jumat, 6 Juli 2018 | 09:02 WIB
ini-alasan-kenapa-kantong-darah-harus-dibayar-pasien
ini-alasan-kenapa-kantong-darah-harus-dibayar-pasien

TARAKAN - Pendonor mendonorkan darah tidak dipungut bayaran. Tapi kok sampai di tangan pasien harus berbayar? 


Bagi masyarakat awam, itu pertanyaan yang kerap kali muncul. Dijelaskan Wakil Ketua PMI Tarakan, Hamid Amreen, pada dasarnya, adanya pembiayaan yang dikenakan untuk pasien yang membutuhkan darah karena ada proses sterilisasi sebelum darah sampai ke tangan pasien. 


"Jadi yang dibayar itu bukan darah, tapi prosesnya. Semisal, kantong darah tidak biaa sembarangan, semua diimpor dari PMI pusat, maka kita harus membayar," ungkap Hamid yang juga saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kota Tarakan. 


Terlebih lagi, sebelum sampai ke tubuh pasien, darah harus benar-benar terjamin kebersihannya. Sehingga pada prosesnya, darah harus bebas dari penyakit seperti hepatitis, HIV dan jenis penyakit lainnya yang bisa tertular. "Jadi sampai plasma darahnya diperiksa, kan semua ada biaya dalam proses itu, makanya ada istilah  tambahan biaya proses pengolahan darah," jelas Hamid Amreen. 


Untuk saat ini, lanjut Hamid, kebutuhan darah untuk Kota Tarakan per bulannya berkisar  800 kantong. Artinya kebutuhan per harinya di kisaran 30 kantong darah. Adanya kebutuhan tersebut dikarenakan adanya permintaan dari rumah sakit. Tak terkecuali pula, saat ini banyak dokter spesial. " Dokter spesial banyak, semakin banyak kebutuhan jenis darah apalagi ini harus diantisipasi dengan bertambahnya rumah sakit, maka permintaan kantong darah pasti  lebih banyak," ungkapnya. 


Untuk itu, lanjutnya, perlu kesadaran masyarakat untuk mau menyumbangkan darahnya. Karena darah hanya bisa ditemukan dalam tubuh manusia. Diakuinya, untuk antisipasi kekosongan, PMI memiliki database pendonor yang bisa dihubungi sewaktu-waku jika dibutuhkan. " Semisal pendonor sudah mendonor, kita minta ke keluarganya yang punya golongan darah sama. Standar bisa mendonor sampai 4 kali dalam setahun," urainya usai kegiatan donor darah yang digagas PMI Tarakan bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Kaltara dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Kalimantan Utara, belum lama ini. Tambahnya lagi, dalam kegiatan tersebut Hamid mengapresiasi karena kegiatan tersebut bisa menjadi model sebagai bentuk kepedulian dan kebiasaan masyarakat untuk berbagi. " Walaupun sebelumnya sudah banyak model, tapi ini bisa menjadi acuan. Fungsi darah itu seperti obat. Problemnya obat bisa ditemukan apotek, sementara darah tidak bisa karena hanya ada di tubuh manusia," jelasnya. 


Sementara itu, kembali menyoal untuk pembiayaan dalam proses sterilisasi darah,  Ketua Unit Transfusi Darah PMI Cabang Tarakan, Edi Samudro membenarkan, adanya pembiayaan karena darah melalui proses yang panjang. Sebelum sampai ke tubuh pasien, darah perlu diperiksakan agar ada jaminan benar-benar bersih atau steril dari penyakit. 


Untuk per kantongnya, sesuai Surat Keputusan (SK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dihargai Rp 360 ribu. Biaya itu sudah meliputi berbagai proses dalam sterilisasi darah. " Harga per kantong untuk pasien itu sudah jadi ketentuan pusat. Karena proses pemeriksaannya sudah include dengan pemeriksaan jenis penyakit mulai dari HIV/AIDS, hepatitis, sifilis dan lainnya," ungkap Edi, sapaan akrabnya. 


Sehingga, pihak terkait sudah menjamin saat sampai ke tubuh pasien, harus benar-benar bersih. " Itu harga mati untuk kebersihannya," tegas Edi. 


Tambahnya lagi, semua dipermudah dan gratis jika pasien terdaftar dalam BPJS. "Makanya itu jangan sampai BPJS tidak aktif. Jadi tidak disuruh bayar," jelas usai ditemui media ini dalam kegiatan donor darah yang digagas BI Perwakilan Kaltara. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hendik Sudaryanto dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, dengan kondisi kebutuhan darah per bulannya mencapai 800 kantong, pihaknya bisa berkontribusi memberikan sumbangsih target  200 pendonor atau 200 kantong untuk PMI Tarakan. " Setidaknya bisa  berkontribusi membantu menambah suplai. Ini baru semester satu. Ke depan  di semester dua pasti direncanakan lagi, untuk waktu kami menyesuikan nanti," ungkap Hendik, sapaan akrabnya. 


Tambahnya lagi, jika di kegiatan mereka hanya merangkul beberapa komunitas seperti komunitas sepeda dan TNI serta Brimob, ke depan pihaknya akan merangkul keseluruhan basis massa yang ada di Tarakan. " Persiapannya harus lebih matang. Untuk saat ini, kami menggandeng BMPD Kaltara," ungkapnya, Kamis (28/6) lalu.


Ia menambahkan, kegiatan itu sebagai bentuk kepedulian kepada sesama yang dibutuhkan masyarakat. Sejak BI Kaltara terbentuk, itu menjadi kegiatan pertama yang dilakukan. 


"Ke depan harapannya, bukan jadi pertama dan terakhir melainkan pertama dan seterusnya, akan kami laksanakan dengan niat membantu kesediaan suplai dari darah untuk PMI," pungkasnya. (zia)

Editor : Azwar Halim