TARAKAN – Gedung Grand Tarakan Mall (GTM) berdiri kokoh di tengah-tengah perkotaan. Letaknya sangat strategis, satu-satunya mall di Kalimantan Utara (Kaltara) ini tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakatnya.
Namun beberapa tahun terakhir hampir tak ada aktivitas di mall ini. Berdasarkan pantauan Radar Tarakan, sekitar pukul 09.30 Wita, pintu utama di lantai dasar mall ini masih tertutup rapat. Ini menandakan toko-toko di dalamnya belum terbuka. Hanya terlihat dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang membersihkan teras mall.
Terlihat juga beberapa orang yang duduk-duduk di teras mall. Jarangnya aktivitas jual beli di GTM ini, kebanyakan dimanfaat orang yang kebetulan lewat, khususnya pejalan kaki yang singgah di teras untuk berisitirahat.
Tepat pukul 10.00 wita, pintu kaca itu pun tak kunjung terbuka. Beberapa orang pun sekadar menumpang lewat di halaman mall. Belasan menit kemudian, akhirnya seorang satpam membuka pintu kaca itu.
Salah seorang pemilik tenant atau toko pun terlihat sibuk membuka tokonya tepat di bagian pinggir saat memasuki mall ini. Meski sepi, Titin (38) lebih memilih bertahan berjualan di GTM. Ia membuka toko pukul 10.30 wita hingga pukul 21.00 wita.
Ia mengatakan, sejauh ini hanya tersisa tiga toko di lantai satu ini. Sedangkan di lantai dua dan lantai tiga sudah tak ada aktivitas sama sekali. Alasannya memilih tetap bertahan di GTM ini, karena ia terlanjur merasa nyaman. Maklum ia mengisi stan sejak pertama kali GTM beroperasi, yakni 2005 silam.
“Di sini tinggal tiga yang jualan, ada jualan brukat bunga, kaca mata, dan saya jual aksesoris. Saya nyaman saja di sini, sudah 12 tahun jadi malas mau pindah lagi,” tuturnya kepada Radar Tarakan, Jumat (8/6).
Awalnya ia mengisi stan di lantai dua, namun karena kurangnya aktivitas di mall ini akhirnya ia memilih pindah di lantai satu. Ia berterus terang, biasanya dalam sehari bisa saja tidak ada pengunjung atau pembeli yang datang. Biasanya pun ada, walau hanya satu hingga dua orang saja.
“Ada saja yang datang, terkadang juga sama sekali tidak ada yang datang. Tapi kita merasa cocok saja di sini karena tidak ada keterpaksaan,” jelasnya.
Titin melanjutkan, harga sewa pun dipertimbangkan dengan sepinya pengunjung. Dahulu ia dikenakan harga sebesar Rp 4 juta per bulan, namun karena kondisinya sepi pengunjung ia hanya dikenakan pembiayaan listrik sebesar Rp 800 ribu.
“Saya mau bertahan di sini sampai dibuka kembali, karena mau pindah juga malas. Mau sewa ruko kan mahal juga,” tambahnya.
Ia merasa barang dagangannya yang berupa aksesoris cocok didagangkan di mall. Jauh sebelumnya ketika mendengar akan dioperasikannya kembali mall ini, besar harapannya pengunjung kembali ramai seperti sedia kala.
“Ini kan bahan perak, saya jual di atas harga Rp 90 ribu. Kalau mau jual di pasar kan harganya jatuh, karena kita sesuaikan dengan tempatnya. Semoga lah bisa ramai lagi kan, banyak pengunjung,” harapnya.
Sebelumnya banyak tenant yang mengisi stan-stan di lantai satu hingga tiga di GTM ini.
Saat dikonfirmasi ke Pengelola GTM, Agus Tony mengatakan total tenant di GTM ini sebanyak 255 unit. Tenant ini pun terbagi menjadi dua, yakni 55 tenant dimiliki pengusaha itu sendiri. Sementara 200 tenant milik GTM yang kemudian akan disewakan kepada pengusaha.
“Totalnya ada 255 unit di GTM. Kita pernah berkumpul dengan para tenant membicarakan ini, intinya mereka setuju saja yang penting jalan,” ujarnya. 55 tenant ini pun akan menyesuaikan untuk menempati stan-stan yang ada. Lebih lanjut ia belum membicarakan rencana ke depannya, sebab manajemen pun sementara fokus dengan pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana di GTM ini.
“Kita belum konfirmasi lagi, karena masih fokus pembangunan bioskop, sarana dan prasarana. Nanti setelah semuanya siap, pasti ada kabar selanjutnya lagi,” terangnya.
Sementara pengerjaan ruang Cinema XXI ini dihentikan. Kemungkinan dilanjutkan usai Lebaran ini. Sebelumnya mall digunakan tiga lantai, tetapi dengan adanya Cinema XXI di lantai empat, pusat perbelanjaan pun dioperasikan dari lantai satu hingga lantai empat.
“Dahulu kan mall ada tiga lantai, tapi kalau bioskop sudah beroperasi maka mall ada empat lantai,” tutupnya. (*/one/nri)
Editor : Muhammad Erwinsyah