Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pawai Obor, Yesus Telah Bangkit

Azwar Halim • Selasa, 3 April 2018 | 11:01 WIB
pawai-obor-yesus-telah-bangkit
pawai-obor-yesus-telah-bangkit

TARAKAN - Pagi-pagi buta 70 orang anak-anak dan remaja berjalan kaki mengelilingi lingkungan pemukiman Jalan Danau Jempang RT 5 dan RT 6, Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah dengan membawa obor. Mengawali peringatan Hari Paskah bagi umat Kristiani. Perayaan Hari Paskah merupakan hari raya umat Kristiani yang merayakan kebangkitan Yesus.


Pendeta Haria Syam selaku pendeta pada Gereja Toraja Jemaat Betlehem Tarakan mengatakan, sejumlah jemaat melaksanakan rangkaian ibadah yang dimulai dari perayaan Kamis Putih, Kamis (29/3). Anak-anak dan remaja melakukan pembasuhan kaki terhadap sesama temannya pada perayaan Kamis Putih tersebut. 


“Anak-anak dan remaja diajarkan untuk saling merendah terhadap sesamanya dan bersedia melayani dengan tulus,” tuturnya.


Kemudian pada Sabtu (31/3), anak-anak dan remaja melakukan hias telur Paskah. Dari menghias telur Paskah, anak-anak dan remaja diberikan pemahaman bahwa telur Paskah tersebut merupakan cikal bakal akan adanya kehidupan. 


“Paskah selalu dilambangkan dengan telur Paskah yang maknanya memberikan kehidupan baru,” ujarnya.


Pada Minggu (1/4) pukul 04.00 Wita, anak-anak dan remaja sudah berkumpul di gereja dan melakukan peribadatan. Kemudian sekitar pukul 05.00 Wita, dilaksanakan pawai obor di mana mereka berjalan kaki sambil membawa obor mengelilingi sekitar lingkungan gereja di Jalan Danua Jempang, Kelurahan Pamusian. Hal ini rutin setiap tahunnya dilaksanakan oleh anak-anak dan remaja. 


“Pawai obor sudah menjadi tradisi di setiap gereja. Setiap Minggu pagi selalu ada pawai obor,” tuturnya.


Sesuai dengan kisah yang tertulis pada Alkitab, Maria dan kerabatnya pergi ke pekuburan untuk melihat kubur Yesus dengan tujuan untuk meminyaki kubur Yesus. Namun mereka terkejut, ternyata kubur tersebut telah terbuka dan kosong.


“Yesus sudah bangkit,” tuturnya. 


Sehingga makna dari pawai obor ini adalah mengingatkan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari kubur pada hari ketiga setelah disalibkan. Di mana hal yang sama dilakukan oleh Maria dan kerabatnya dalam kisah tertulis di Alkitab juga dapat dilakukan oleh anak-anak dan remaja. 


“Anak-anak dan remaja dari usia 2 tahun hingga 15 tahun memiliki semangat yang tinggi untuk bangun pagi-pagi dan melakukan pawai obor,” ungkapnya.


 


Perayaan kebangkitan Yesus Kristus, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Paskah, tentu memiliki makna tersendiri. Saat ditemui Radar Tarakan, Guru Sekolah Minggu Gereja Toraja Bukit Harapan Kota Tarakan, Santi mengatakan bahwa saat pelaksanaan Paskah, biasanya ia meminta anak sekolah Minggu untuk berkumpul dan menyalakan obor ketika jam masih menunjukkan pukul 03.00 Wita. Hal tersebut dilakukan untuk mengajarkan kepada anak-anak Kristen bahwa ketika Yesus Kristus mati di kayu salib, Yesus juga bangkit dari antara orang mati.


“Kami mengajarkan (kepada anak Kristen) tentang kemenangan. Bahwa ketika Yesus bangkit dari kubur. Dia (Yesus) telah mengalahkan maut,” tuturnya.


Pelaksanaan pawai obor ini pun menjadi sebuah tradisi yang biasa dilakukan oleh organisasi gereja. Sehingga setiap tahun kegiatan tersebut dilaksanakan. Meski harus bangun subuh, Santi mengaku bahwa tidak ada satu pun anak yang mengeluh, justru kegiatan ini sangat dinantikan, untuk memahami bahwa Yesus bangkit ketika hari masih subuh.


“Seperti yang dipahami, dalam bahasa Inggris perayaan Paskah disebut juga sebagai Easter Sunday. Jadi Yesus memang bangkit saat di awal pagi,” ujarnya.


Santi menuturkan, dalam perayaan Paskah pihaknya selalu menanamkan pendidikan tentang kebangkitan Yesus yang artinya kemenangan, sehingga menimbulkan sukacita bagi anak-anak.


“Jadi ada sukacita bahwa Allah kita (Yesus Kristus) adalah Allah yang hidup,” bebernya.


Sebab ini merupakan perayaan kemenangan, maka perayaan Paskah memang wajib dilakukan oleh setiap umat Kristen, karena ini merupakan rangkaian penyelamatan Allah. Sehingga kegiatan pawai obor menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan ketika Paskah.


Sementara itu, Gembala Sidang Gereja Pantekosta Serikat Indonesia (GPSI) El Shaddai 3 Kota Tarakan Pendeta Joni Riza, S.Th, M.A, mengatakan bahwa sama seperti perayaan Jumat Agung, tema Paskah di 2018 ini ialah Kuasa Darah Yesus. Umat Kristen percaya bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib tidak hanya menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit, melainkan juga dapat menyelamatkan manusia dari hukuman mati.


Untuk diketahui, pada kegiatan ibadah Jumat Agung ialah memperingati hari kematian Yesus Kristus di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Sedangkan pada perayaan Paskah, merupakan karya keselamatan Tuhan yang dulunya mati kemudian bangkit pada hari yang ketiga dan berhasil mengalahkan maut.


“Jadi pada pelaksanaan Paskah ini mengartikan bahwa Umat Kristen telah menang atas maut dan dosa, serta dimerdekakan dari hukuman, sebab sebenarnya manusia harus dihukum karena dosanya. Tapi karena Yesus mati dan bangkit, jadi manusia tidak lagi dihukum, sebab hukuman sudah diambil Yesus Kristus di atas kayu salib,” jelasnya.


Menurut Joni, perayaan Paskah sama dengan perayaan Natal. Sebab jika keduanya tidak terlaksana, maka karya penebusan Yesus Kristus hanya berjalan separuh. Namun karena rentetan pelaksanaan penebusan dosa Yesus Kristus ialah dimulai dari Natal yang berarti kelahiran Yesus, yang dilanjutkan dengan perayaan Jumat Agung atau peringatan hari kematian Yesus dan Paskah, yakni kebangkitan Yesus dari antara orang mati, maka sempurnalah karya penebusan dosa yang dilakukan Yesus Kristus di dalam dunia ini.


“Kepada seluruh umat Kristen, Paskah ini merupakan momen bagi manusia untuk dapat lebih baik lagi, menghargai ibadah, harus lebih setia. Tidak hanya ibadah, namun juga berbuat baik kepada sesama manusia,” harapnya. (*/jhn/*/shy/lim)

Editor : Azwar Halim