Ungkapan yang mengatakan memancing ikan butuh umpan, tidak demikian di Pulau Maratua, Kabupaten Berau. Memancing ikan cukup dengan joran, tali nilon dan kail.
YEDIDAH PAKONDO
USAI menginjakkan kaki di Virgin Cocoa Island, tim Pertamina EP, Kaltara Tour and Travel dan awak media memilih Pulau Maratua sebagai lokasi persinggahan kedua sekaligus untuk menikmati makan siang.
Sebenarnya, rombongan berencana untuk menumpang speedboat menuju ke pelabuhan Maratua, hanya karena gelombang laut yang tinggi sehingga rombongan memutuskan untuk berjalan kaki. Hari itu deru ombak di Pulau Maratua menyapa keras. Wajar, cuaca sedang mendung.
Jika biasanya yang lain memilih untuk bersandar di Pelabuhan Maratua, namun rombongan Pertamina EP muncul dari “belakang” pulau, sambil menyaksikan jejeran kapal nelayan yang sedang berlabuh di pulau kecil tersebut.
Berbeda dengan Pulau Virgin Cocoa, Pulau Maratua dihuni oleh suku Bajo, yang bekerja sebagai nelayan dan petani. Meski hanya berukuran 384,36 kilometer persegi dengan luas perairan mencapai 3.735,18 kilometer persegi, namun Pulau Maratua telah memiliki bandara dan rumah sakit besar yang belum diberi nama.
“Sebenarnya suku Bajo yang ada di Maratua itu berasal dari Derawan yang pindah ke Maratua. Jadi orang Bajo juga. Mereka ini nelayan 50 persen, bercocok tanam juga 50 persen,” tutur Budiono, salah satu pemandu di Pulau Derawan kepada Radar Tarakan.
Suku Bajo memiliki ciri khas, ber kulit sawo matang. Wanita suku Bajo kebanyakan berbadan gemuk, sedang prianya lebih atletis.
Ketika menginjak Pulau Maratua, setiap bangunan rumah seluruhnya nyaris menggunakan batu besi.
“Ya kuat batu hidup (batu besi), karena batu hidup buatan tangan Tuhan, sedangkan batu bata hanya dari tangan manusia itu pun dari tanah liat,” bebernya terkekeh.
Mulai dari lokasi berlabuhnya kapal, rombongan kemudian berkeliling kampung dengan berjalan kaki. Jangan khawatir saat Anda memilih untuk berjalan kaki, sebab masyarakat penghuni Pulau Maratua merupakan masyarakat yang ramah dan suka tersenyum, sehingga setiap turis maupun wisatawan yang melalui lokasi tersebut dapat berjalan kaki dengan nyaman.
Tak hanya itu, jika Anda kebelet untuk buang air, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut juga dengan ramah mengizinkan Anda untuk buang air di kamar mandi pribadi miliknya dengan gratis. Asalkan Anda meminta izin lebih dulu kepada sang pemilik rumah.
Anak-anak di Maratua kerap memanfaatkan waktu untuk memancing ikan. Ada keunikan teknik memancing penduduk asli Maratua. Mereka memancing ikan tanpa umpan.
“Nda ada umpannya, cuma kailnya dilempar ke dalam air aja sudah dapat ikan,” kata Adi (7), bocah di RT 3 Pulau Maratua.
Hasil pancingan biasanya diolah di rumah untuk dimasak. Ikan yang biasa dinikmati masyarakat Pulau Maratua ialah ikan tamban. Namun jika persediaan dirasa masih banyak, ikan dijual. (bersambung/lim)
Editor : Azwar Halim