Abrasi semakin nyata di RT 06, Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Timur. Beberapa warga telah berpindah, meninggalkan sekitar bibir pantai. Memilih mendirikan bangunan sekitar ratusan meter menjauh dari laut. Warga lain merasa khawatir, abrasi tak juga berhenti. Seperti Ambo (30), merencanakan pindah ke Sulawesi Selatan jika kelak abrasi melenyapkan lahan di mana rumahnya berdiri.
--------------
SUDAH puluhan tahun bagian daratan mendangkal. Pada 2006 lalu, sebuah kajian lingkungan menunjukkan jika telah terjadi abrasi sejauh 50 meter dari daratan semestinya. Setelah 11 tahun, abrasi semakin menjadi. Nyiur yang dulunya menghiasi pinggir-pinggir pantai, satu per satu tumbang, hanya meninggalkan akar.
Ambo (30), warga setempat merasa ketakutan. “Jika memang pengikisan pantai itu terkena rumah saya, satu-satunya cara adalah meninggalkan Kota Tarakan dan harus kembali ke kampung saya di Sulawesi Selatan,” kata Ambo, saat ditemui Radar Tarakan pekan lalu.
Bertahun-tahun di Tarakan, Ambo hidup di pesisir, menggantungkan hidup dari menjadi nelayan hingga membudidayakan rumput laut. Ambo mengaku tidak memiliki tanah lain selain tempat tinggalnya sekarang di Pantai Amal.
Dekat dengan kediaman keluarga Ambo, keluarga Andi Baso (35) juga mengkhawatirkan hal yang sama. “Kami merantau ke Kota Tarakan untuk berbudidaya rumput laut. Kami cari makan di sini untuk biaya anak kami satu-satunya yang masih sekolah di Sulawesi,” kata Bunga Dea (30), istri Andi Baso.
Ketua RT 06, Abdul Gafar mengungkap persoalan yang dihadapi warganya yang berada di pinggir pantai. Air laut semakin dekat, daratan semakin hari menjurus ke laut. “Sebelumnya ada 10 rumah warga yang berada di pinggir pantai. Tetapi, karena merasa terancam akhirnya beberapa warga pindah rumah. Dan Ini mengenai penyiringan saja yang lebih prioritas,” kata Gafar.
Menurut Gafar, hal tersebut sudah ia usulkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2017 lalu. Ia juga menyampaikan permasalahan tersebut saat rapat di Kantor Kelurahan Pantai Amal. Ia mengusulkan penyiringan wilayah RT 6 sepanjang 800 meter.
Lanjutnya, dulu jarak rumah warga dengan pantai sejauh 50 meter. Namun saat ini air laut bahkan sudah masuk hingga di kolong rumah warga. Bahkan terdapat sebuah rumah panggung, yang dapurnya berada di pantai. Kondisinya miring, sewaktu-waktu bisa roboh dihantam gelombang tinggi.
“Jadi kalau ada abrasi lagi, tinggal robohnya aja itu rumah. Rumah tembok juga sudah hancur-hancur karena terkikis air. Makanya warga pindah, karena takut,” jelasnya.
Malam tiba, ketakutan sama, gelombang tinggi. Warga yang beristirahat terkadang harus terjaga. “Apalagi setelah penyiringan di Pantai Amal Lama, jadi arus ombak mengarah ke sini. Dengan demikian, kami pun berharap ada bantuanlah untuk dibuatkan penyiringan di RT 06 ini,” katanya.
Disisi lain, Lurah Pantai Amal Tri Ongko Usdianto mengatakan, hal yang dihadapi pemerintah kadang kala mengenai ganti rugi lahan. “Kami juga sempat benturan dengan masyarakat. Saat ada bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Kaltim, untuk lokasi yang rawan abrasi. Sementara masyarakat minta ganti rugi. Jadinya, terpaksa dialihkan ke yang lain,” ungkap Tri.
Sementara dijelaskan Tri, sebagian RT di Pantai Amal, seperti di RT 15 sudah mendapatkan bantuan penyiringan pada 2017 yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi.
“Untuk RT 06, memang pernah diajukan saat musrenbang 2017 lalu. Nah, sampai sekarang kami juga masih menunggu, seyogyanya memang koordinasi dengan Pemkot Tarakan. Tapi, sejauh ini saya tidak tahu sudah sampai mana,” bebernya.
Sepengetahuan Tri selama bertugas dua tahun belakangan, baru RT 15 yang mendapat bantuan. “Kami berharap ada bantuan, supaya tidak terjadi abrasi. Sehingga, masyarakat lebih aman. Dan juga soal lahan, masyarakat juga harus bisa bekerja sama demi keamanan masyarakat itu sendiri,” tukasnya.
Proses abrasi di Pantai Amal Baru makin mengancam daerah pesisir pantai. Potensi rusaknya lingkungan semakin menjadi. Penanganan yang tepat dan cepat untuk menghentikan abrasi pantai harus dilakukan sebelum semakin tergerus.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Encik Welliadi mengatakan proses abrasi salah satu dipicu karena berhadapan langsung dengan perairan laut Sulawesi, gelombang tinggi. Apalagi, hutan bakau sudah jarang ditemui di kawasan itu. “Memang itu dua faktor utama mengapa proses abrasi di Pantai Amal Baru ini menjadi tinggi,” katanya.
Untuk mencegah hal ini terus terjadi memang yang harus dilakukan reklamasi dengan penyiringan atau dengan pemecah ombak. “Itu salah satu cara untuk mengurangi abrasi yang semakin parah saat ini. Semua pihak harus berkontribusi, bukan hanya pemerintah saja,” ujarnya.
Abrasi pantai berdampak besar, mengarah kepada hilangnya tempat tinggal dan lahan mata pencaharian. Jika rumah telah hilang, tentu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut. “Karena itu semua harus menjaga lingkungan, dampak yang akan terjadi pasti akan berimbas kembali kepada manusia yang berada di lingkungan sekitar,” ucapnya.
Kerusakan pada ekosistem yang ada. Berbagai tumbuhan atau tanaman yang tumbuh di sekitar pantai pasti juga akan hilang. “Otomatis semua akan terdampak, karena ini berkaitan juga dengan makhluk hidup,” tuturnya.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan Ajat Jatnika mengatakan penanganan abrasi tahun ini belum ada. Inventarisasi kegiatan masih berjalan. Juga diperlukan koordinasi dengan beberapa stake holder terkait. “Saat ini kami masih belum akan melakukan apapun yang bersifat inventarisasi saja,” ujarnya.
Pihaknya rencananya akan melakukan penanaman pohon mangrove di sekitar area pantai. Karena itu memang saat ini masih dikaji berapa luasan area yang kemungkinan bisa ditanami mangrove. “Ini masih rencana juga untuk menghindari abrasi yang lebih parah,” ujarnya.
Namun demikian dikatakannya, semenjak beberapa tahun yang lalu atas usulan Pemkot Tarakan, telah dilakukan pembangunan sea wall di sepanjang Pantai Binalatung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III. “Itu sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu di sepanjang Pantai Binalatung, tapi memang hanya fokus pada titik itu,” ujarnya.
Sejauh ini, pemberitahuan resmi dari BWS agar kegiatan pembangunan sea wall dilanjutkan kembali di tahun ini di sepanjang Pantai Amal Baru. “Kami hanya dapat info kalau tahun ini akan dilakukan, untuk tepatnya belum ada informasi. Yang pasti dapat kami syukuri hal ini,” ujarnya.
“Kalau untuk saat ini memang belum diketahui (dampaknya), karena belum dilakukan penelitian lagi. Karena itu harus dilakukan penanganan yang sangat serius,” tukasnya. (eru/*/naa/lim)
Editor : Muhammad Erwinsyah