Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ketenangan di Hari Raya Nyepi untuk Introspeksi Diri

Azwar Halim • Senin, 19 Maret 2018 | 12:36 WIB
ketenangan-di-hari-raya-nyepi-untuk-introspeksi-diri
ketenangan-di-hari-raya-nyepi-untuk-introspeksi-diri

TARAKAN – Hari Raya Nyepi jatuh di hitungan tilem kesanga dipercaya para umat Hindu sebagai hari penyucian. Di mana para penganut agama Hindu melakukan pemujaan suci bagi dewa yang dipercaya. Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1940, Kamis (17/3).


Pinandita di Pura Agung Giri Jagat Natha Tarakan I Nyoman Simpen menerangkan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau biasanya disebut tilem sasih kesanga yang berarti bulan mati yang ke sembilan. Para umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya, biasanya akan diambil salah satu dari jenis caru atau sesajian yang ada.


“Malam ini bulan nol, jadi besok itu lembaran baru. Malam Tahun Baru ada ritual, besoknya baru Nyepi,” tuturnya kepada Radar Tarakan.


Hari Raya Nyepi memiliki tujuan dan makna tersendiri bagi umat Hindu. Yakni memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga menyucikan manusia dengan alam semesta.


Tepat di Hari Raya Nyepi, umat Hindu berpuasa selama sehari. Setelah satu hari, barulah menyambut Tahun Baru dengan mengunjungi kerabat, keluarga dan tetangga dari rumah ke rumah. Dengan harapan di tahun berikutnya lebih bagus dari tahun sebelumnya.


“Besok itu kami puasa dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Satu hari setelah Nyepi, baru kami ke rumah-rumah keluarga dan tetangga,” terangnya.


Nyepi sendiri berarti senyap atau tenang. Di mana para umat Hindu tidak akan melakukan aktivitas apapun. Pada hari tersebut, umat Hindu melaksanakan catur brata atau penyepian. Yakni, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak berpergian, amati geni atau tidak menyalakan api dan amati lelanguan atau tidak mendengarkan segala macam hiburan untuk bersenang-senang.


“Kalau di Tarakan kita menyesuaikan situasi dan kondisi. Kalau di Bali tidak menyalakan api. Kalau di sini tidak seketat itu, rumah sakit tetap beroperasi,” jelasnya.


Ia mengatakan, makna sebenarnya berasal dari dalam diri masing-masing. Jika diartikan lebih dalam, maknanya lebih mengarah ke kehidupan sehari-hari dan diri manusia.


“Kalau manusia tidak semangat itu kan pas tidur saja. Tapi kalau siang terjaga, seperti kuda liar itulah yang kita kendalikan. Di dalam kita tidak berapi, itu sebenarnya,” jelasnya.


Amati lelungan berarti tidak berpergian khususnya saat malam hari. Karena kegelapan, sangat membahayakan dan rawan untuk diri sendiri. Sedangkan amati lelanguan, tidak mendengarkan hiburan melainkan bersikap tenang dan introspeksi diri untuk hidup lebih baik di tahun yang baru. “Kalau malam mau berpergian kan bisa nabrak. Kurangi mendengarkan lagu-lagu, mari introspeksi diri,” tutupnya. (*/one/lim)

Editor : Azwar Halim