TARAKAN – Pasca insiden keracunan makanan di SMPN 2 Tarakan Rabu (7/2), kini seluruh stan kantin sudah dipasangi police line untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan begitu seluruh pelajar, otomatis tidak bisa berjajan seperti biasanya.
Wakil Kepala SMPN 2 Tarakan, Pither Mangalehe mengatakan karena kantin tidak diperkenakan menjual makanan dan minuman. Maka pihak sekolah mengimbau seluruh pelajar yang berjumlah 964 orang untuk membawa bekal dari rumah.
“Kami juga syok. Kok bisa anak-anak keracunan?. Saya sendiri juga kadang makan di kantin itu,” ungkap Pither.
Dari informasi yang Pither dapatkan, jumlah korban keracunan bertambah 60 orang. Sang istri yang merupakan karyawan koperasi sekolah, juga turut menjadi korban keracunan, karena sempat menyantap nasi uduk tersebut.
“Setelah istri saya konsumsi nasi itu, dia merasakan efek seperti keringatan dan mual. Tidak lama kemudian, barulah anak-anak menyusul merasakan sakit yang sama,” jelasnya.
Menyoal penyebab keracunanan, Pither, tak dapat menjelaskan lebih jauh. Sebab, hingga saat ini pihaknya juga masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan Tarakan maupun kepolisian. “Kami juga masih menunggu, apakah penyebabnya dari nasi, ayam atau ada yang lain. Itu kita tidak tahu,” bebernya.
Untuk kondisi terkini, tujuh anak yang sempat dilarikan ke RSUD Tarakan. Dikatakan Pither, pukul 18.00 Wita Rabu (7/2), sudah dipulangkan ke rumah. Begitupun dengan ke 53 anak yang sempat dirawat ke puskesmas juga sudah pulang kerumah.
“Saya sudah memantau perkembangan anak-anak ini di rumahnya. Tujuh anak yang sempat di rujuk sudah pulang. Hanya saja, satu anak atas nama Anira terpaksa harus kembali dilarikan ke RSUD, karena kondisinya belum pulih. Dan dokter memperkirakan besok (hari ini) sudah bisa pulang,” bebernya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Subono menjelaskan untuk mengetahui hasil sample makanan melalui uji laboratorium membutuhkan waktu beberapa hari. Sebab, mereka terpaksa harus mengirim sampel tersebut ke Samarinda.
“Lab kami mestinya mampu melakukan itu, namun karena sesuatu dan lain hal sehingga harus dikirim ke BPOM Samarinda. Itu biasanya bisa seminggu, bisa dua minggu. Tergantung dari sana. Kalau lab kami bisa digunakan mungkin hitungan hari saja bisa selesai,” ujarnya.
Dinkes Tarakan juga sudah mengambil sejumlah sisa-sisa makanan di kantin dan di rumah penjual tersebut untuk dijadikan sampel uji laboratorium. Namun, Subono tidak mengetahui persis berapa item yang dijadikan sampel.
Dia tak ingin berspekulasi lebih awal, terkait penyebab keracunan yang kabarnya berasal dari beras. Sebab mereka hanya akan menjelaskan jika sudah mendapatkan hasil dari BPOM Samarinda.
Dinkes Tarakan bersama jajaran terkait serta kepala sekolah dari seluruh SD dan SMP di Tarkaan, sudah mendapatkan pengarahan dari kepala daerah untuk meningkatkan pengasawan makanan di sekolah. “Intinya diminta dari pihak sekolah untuk melakukan pembinaan dan pemantauan,” ungkap Subono.
Radar Tarakan pun mencoba menyambangi rumah SG sang pengelola kantin, yang terletak di jalan Ki Hajar Dewantara, Kelurahan Karang Balik, Kecamatan Tarakan Barat. Namun, saat berkunjungan ternyata SG sedang tidak berada di rumah. Saat media ini mencoba untuk mengetuk pintu rumahn SG, seorang nenek pun keluar.
“Berita itu tidak benar. Tidak mungkin itu makanan beracun,” ucap nenek yang tak diketahui namanya ini sembari menutup pintunya.
Tak beberapa lama kemudian, seorang perempuan dengan postur gemuk bernama Ayu yang merupakan keluarga SG pun keluar, dengan membawa pakaian. Saat ditemui, ia pun tak ingin bicara banyak.
Ayu memastikan bahwa makanan yang dijual SG tidaklah beracun. Karena, sebelum dibawa ke sekolah, keluarga di rumah termasuk dia sudah mencicipi makanan tersebut.
“Sudah kami cicipi, tapi tidak terjadi apa-apa. Tapi, kok pas di kantin sekolah anak-anak keracunan. Di situ saya herannya,” kata Ayu.
Ayu juga menyebutkan, jika permasalahanya ini pada nasi uduk atau beras. Itu tidak mungkin, karena setahunya setiap hari SG membeli beras sebanyak 5 kilogram (kg) perhari. Dan beras itu pun dibeli secara berbeda-beda. “Bertahun-tahun berjualan, baru kali ini seperti ini,” pungkasnya.
PENYIDIK MASIH MELAKUKAN PEMERIKSAAN SAKSI
Pemeriksaan terhadap peristiwa 60 pelajar SMPN 2 Tarakan, yang mengalami keracunan setelah memakan makanan di kantin, hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan oleh penyidik Polres Tarakan dengan memanggil beberapa orang saksi.
Kapolres Tarakan, AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas Polres Tarakan, Ipda Taharman menjelaskan, saat ini baru dilakukan pemanggilan beberapa orang saksi ini untuk mendapatkan informasi tambahan, terkait peristiwa puluhan pelajar yang mengalami keracunan.
“Saksi yang kami panggil tadi adalah guru, kepala koperasi dan pemilik kantin tetangga,” ujarnya.
Terkait hasil sampel yang sebelumnya diambil oleh penyidik di kantin SMPN 2 Tarakan, hingga saat ini hasil laboratorium untuk mengetahui penyebab keracunan tersebut 2 belum keluar.
“Masih diperiksa di laboratorium di Samarinda, untuk kapan keluar hasilnya kami masih menunggu,” tuturnya.
Saat ini pun, SG (48) yang merupakan pemilik kantin yang menjual makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan, saat ini berstatus sebagai seorang saksi.
“Belum ada penetapan tersangka, SG statusnya masih sebagai saksi,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya 47 pelajar yang kini berjumlah 60 pelajar SMPN 2 Tarakan, terpaksa dilarikan ke Puskesmas Karang Rejo, dikarenakan mengalami pusing dan mual-mual setelah memakan makanan yang dijual kantin milik SG. Beberapa korban juga turut dirujuk ke RSUD Tarakan karena harus mendapatkan penanganan lebih lanjut.
DPRD TARAKAN AKAN MEMANGGIL DISDIK TARAKAN
Menjelang sore di hari kejadian itu, seluruh siswa sudah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Namun beberapa di antara mereka harus tetap beristirahat di rumah sehingga tidak masuk sekolah di hari kemarin (8/2).
Kondisi ini membuat manajemen sekolah bersama pihak komite sekolah mengunjungi beberapa siswa di masing-masing rumah mereka. Hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh kondisi para siswanya. Kunjungan dipimpin langsung Wakil Kepala SMPN 2 Tarakan Pither Mangalehe, bersama para guru dan Ketua Komite SMP Negeri 2 Tarakan Fajar Ngewa.
Pither Mangalehe menuturkan, kunjungan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian sekolah terhadap siswa maupun orang tua mereka. “Kami mendata siapa-siapa saja siswa yang mengalami keracunan sehingga tidak sekolah di hari ini. Setelah ada datanya kami langsung mengunjungi rumah mereka,” kata Pither.
Selain bersilaturahmi dengan siswa dan orang tua mereka, sekolah dan komite sekolah juga memberikan dana santunan. Pither menceritakan kembali kronologis hingga diketahuinya siswa mengalami keracunan.
Diketahui sumber penyakit ini berasal dari makanan di kantin. Namun belum diketahui pasti makanan apa yang menyebabkan 60 siswa mengalami keracunan ini. Sebab makanan yang dimakan para siswa berbeda-beda, ada nasi uduk, bubur, dan nasi lalap. “Kami belum tahu sumbernya apakah dari nasi, ayam, ataupun sambelnya. Semua sampel sudah kami serahkan ke pihak puskesmas untuk ditindaklanjuti,” tuturnya.
Pither memastikan kejadian ini tidak ada unsur kesengajaan dari pihak sekolah ataupun pengelola kantin. “Kalau unsur kelalaian ya mungkin, tapi unsur kesengajaan saya pastikan tidak,” jelas Pither yang juga merupakan penanggung jawab kantin.
Di sisi lain, kejadian siswa keracunan makanan ini langsung turut dikomentari Ketua Komisi II DPRD Tarakan H. Adnan Hasan Galoeng dengan melakukan kunjungan ke SMPN 2 Tarakan. Kunjungannya disambut langsung Pither Mangalehe bersama pihak komite sekolah.
Adnan berharap kejadian ini tidak terulang di sekolah ini, begitu juga dengan sekolah lainnya yang memiliki kantin. Adnan pun menyambut baik tindakan pihak sekolah yang bergerak cepat menangani masalah ini. “Siswa langsung dibawa ke puskesmas, dan yang harus menjalani perawatan intensif dirujuk ke rumah sakit provinsi,” tuturnya.
Adnan pun berharap makanan yang disajikan di kantin-kantin sekolah dapat terjamin kesehatannya. “Sajikan yang lebih higienis. Siswa juga tidak dilarang membawa bekal dari rumah,” tuturnya. Selain itu pihak sekolah diminta rutin mengecek kondisi makanan di kantin. Minimal tiap bulan sekali.
Dari kejadian ini pula, Komisi II akan menindaklanjuti dengan pihak terkait untuk melakukan pembahasan bersama. “Mungkin dalam waktu dekat kami bersama pihak Disdikbud Tarakan dan lainnya,” tuturnya. (eru/jnr/ash/nri)
Editor : Azwar Halim