TARAKAN - Perilaku orientasi seks menyimpang yang dialami LGBT bukanlah suatu kelainan jiwa. Namun mengalami deviasi atau penyimpangan perilaku. Semuanya rata-rata berasal dari trauma masa lalu.
“Kalau lesbian, biasanya pernah tersakiti oleh kaum pria seperti ayah, kakak lelakinya, atau pria lainnya. Yang akhirnya menjauh dari sosok lawan jenisnya dan menyukai sesama jenis dengan harapan hatinya akan dari rasa sakit. Karena wanita pada umumnya kan berjiwa lembut, Begitupun kaum gay, mereka sebaliknya tersakiti oleh kaum wanita yang akhirnya menyukai kaum pria,” ujar Fanny Sumajouw, S.Psi PSI, Psikolog Tarakan.
Namun meski trauma menjadi alas an utama, terdapat pula anggapan para pelaku gay dan lesbian memilih orientasi menyimpang karena ingin “main aman”. Artinya kepuasan seksual akan terpenuhi tanpa efek dikemudian hari seperti kehamilan di luar nikah.
Selain itu, terdapat pula biseksual yang terjadi hanya pada kalangan pria. Hal itu juga turut di picu oleh trauma masa lalu yang benci dengan wanita. Namun karena tuntutan sosial yang normal, harus menikah dengan lawan jenis.
“Untuk biseks biasa disebut "ac-dc" kanan kiri oke. Penyimpangan perilaku seksual ini juga bisa dipengaruhi oleh trauma di masa lalu. Biseks ini hanya terjadi pada kaum pria. Namun pernikahan dengan lawan jenis hanya untuk menciptakan pencitraan. Selebihnya di luar dari kehidupan rumah tangganya, dia tetap menjalani hubungan dengan sesama jenis untuk mendapatkan kepuasan seksual yang sesungguhnya,” tambahnya.
Tak hanya itu, pembentukan pola asuh orang tua terhadap anak, sejak kecil berpengaruh besar dalam perkembangan anak. Kebanyakan orang tua menyamakan perlakuan kepada anaknya baik perempuan dan laki-laki, sehingga anak tidak memandang mereka berbeda. Itulah yang menjadi dasar pria ingin menjadi wanita.
“Jadi perilaku penyimpangan ini banyak faktor yang mempengaruhi, bukan bawaan dari lahir. Tapi tetap bisa disembuhkan jika mereka ingin sembuh, dengan melakukan terapeutik intens yang berkesinambungan. Lalu dijauhkan dari sumber stress atau pemicunya dan dukungan dari keluarga. Terpenting bagi kesembuhan mereka dari perilaku seksual menyimpang dan yang penting belum mendarah daging,” akhir Fanny.
Di sisi lain, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Tarakan, dr. Witoyo mengatakan, LGBT dapat dikatakan penyimpangan seksual yang biasanya berganti-ganti pasangan. Seperti yang diketahui, berganti-ganti pasangan sangat rentan bisa menularkan atau tertular berbagai penyakit, seperti acquired immune deficiency syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV).
Tidak hanya itu, tetapi virus kelamin seperti human papilloma virus (HPV) juga bisa menyebabkan penyakit kanker seperti kanker anus maupun oral bahkan memicu kanker serviks. Selain itu, bisa juga menyebabkan infeksi yang disebabkan bakteri akibat seksual yang tidak sehat. Seperti bakteri neisseria gonorrhoeae gonococcus yang menyebabkan gonore atau kencing nanah. Kemudian bakteri treponema pallidum dapat menyebabkan penyakit sifilis atau raja singa.
“Karena perilaku yang tidak normal dan berganti-ganti pasangan tentunya akan membagi-bagi bakteri. Akhirnya bisa menularkan penyakit dan yang paling risiko yaitu kanker,” terang dr. Witoyo, Sabtu (6/1).
Penyakit yang ditimbulkan bisa dalam jangka waktu lima hingga tujuh hari mulai terinfeksi bakteri. Jika penyakit kelamin seperti sifilis, kanker dan AIDS bisa menahun baru dirasakan gejalanya. “Jadi ini tergantung jenis penyakitnya. Kalau bakteri kan ada berapa hari saja sudah ada gejala,” terangnya.
Secara umum, penularan ini dapat dicegah dengan menggunakan pengaman saat melakukan hubungan seksual. Menjaga kebersihan kelamin dan rutin memeriksakan ke dokter.
“Kalau memang sakit harus diobati. Kalau secara umum pencegahannya menggunakan kondom tapi sebaiknya tidak melakukannya,” jelasnya.
Saat disinggung mengenai penyumbang HIV/AIDS di Tarakan, dr. Witoyo mengatakan memang secara nasional LGBT terus meningkat setiap tahunnya, khususnya lelaki seks lelaki (LSL). Tetapi untuk penyumbang HIV/AIDS, tren di Tarakan lebih banyak dari ibu hamil yang terinfeksi dan menularkan ke anaknya. Sedangkan untuk LGBT sendiri hampir tidak terdata atau memang tidak memeriksakan diri karena lebih tertutup.
“Yang ditemukan itu ibu hamil yang terjangkau di puskesmas. Tapi yang LGBT belum muncul atau terbuka di Tarakan,” akhirnya. (ega/*/one/nri)
Editor : Azwar Halim